FAMILY
Enggak Cuma Pinter, Anak Juga Perlu Punya Heart of Gold, Ini Alasannya!
Yatin Suleha
Selasa 03 Februari 2026 / 22:38
Jakarta: Mendidik anak agar tumbuh tidak hanya sebagai pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki hati yang baik, empati, dan kepedulian terhadap sesama, kini menjadi perhatian utama banyak orang tua.
Terlebih di tengah kondisi dunia yang kerap terasa menakutkan, penuh konflik, terputus secara emosional, atau bahkan semakin terpecah belah.
Dalam situasi seperti ini, banyak orang tua mulai menyadari bahwa keberhasilan anak tidak hanya diukur dari prestasi sekolah, tetapi juga dari kemampuan mereka memahami perasaan orang lain dan bersikap manusiawi.
Dilansir dari Parents menurut Joseph Laino, PsyD, seorang psikolog di NYU Langone’s Sunset Terrace Family Health Center, fokus pada pembentukan karakter yang penuh kasih sayang merupakan investasi jangka panjang yang sangat berharga.
“Keterampilan lunak seperti empati, kasih sayang, dan kedermawanan tidak saling bertentangan dengan keterampilan akademik. Sebaliknya, mereka saling memperkuat satu sama lain,” katanya.
Artinya, anak yang memiliki empati dan kepedulian sosial justru cenderung lebih mampu berkembang secara akademik dan emosional, karena keterampilan tersebut membantu mereka membangun hubungan yang sehat dan lingkungan belajar yang positif.
Bagi orang tua yang meyakini bahwa mengajarkan sikap ramah, dermawan, dan peduli terhadap lingkungan sekitar sama pentingnya dengan mengajarkan kecerdasan intelektual atau kemampuan fisik, terdapat sejumlah kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan usia anak, mulai dari bayi hingga remaja, agar mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang penuh kepedulian.
Ketika anak-anak belajar untuk memahami sudut pandang orang lain, berbagi dengan tulus, serta menghadapi konflik dengan empati, mereka tidak hanya sedang belajar menjadi pribadi yang baik.
Lebih dari itu, mereka sedang membangun fondasi keterampilan hidup yang akan sangat berguna di berbagai aspek kehidupan, mulai dari dunia pendidikan, dunia kerja, hingga dalam membangun persahabatan dan hubungan jangka panjang.
“Jika mereka dapat bergaul secara lebih kooperatif dengan guru, figur otoritas, dan teman sebaya. Hal itu dapat membantu mereka memaksimalkan potensi akademik mereka dan memiliki pengalaman yang lebih memuaskan dan kurang frustrasi secara keseluruhan,” kata Dr. Laino.
Keterampilan empati dan kasih sayang juga berperan besar dalam membangun kepercayaan diri anak. Merawat dan memperhatikan orang lain membuat anak merasa dirinya berharga dan mampu memberi dampak positif.
“Memberi, melakukan, dan peduli pada orang lain meningkatkan rasa kemandirian diri dan dapat memberikan anak muda rasa tujuan,” tambah Dr. Laino.
Rasa tujuan inilah yang kemudian berfungsi sebagai kompas moral, membantu anak membangun hubungan yang sehat, membuat keputusan etis, serta menavigasi dunia yang semakin kompleks dengan lebih bijak.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Terlebih di tengah kondisi dunia yang kerap terasa menakutkan, penuh konflik, terputus secara emosional, atau bahkan semakin terpecah belah.
Dalam situasi seperti ini, banyak orang tua mulai menyadari bahwa keberhasilan anak tidak hanya diukur dari prestasi sekolah, tetapi juga dari kemampuan mereka memahami perasaan orang lain dan bersikap manusiawi.
Baca Juga :
7 Cara Toilet Training untuk Anak Laki-laki
Dilansir dari Parents menurut Joseph Laino, PsyD, seorang psikolog di NYU Langone’s Sunset Terrace Family Health Center, fokus pada pembentukan karakter yang penuh kasih sayang merupakan investasi jangka panjang yang sangat berharga.
“Keterampilan lunak seperti empati, kasih sayang, dan kedermawanan tidak saling bertentangan dengan keterampilan akademik. Sebaliknya, mereka saling memperkuat satu sama lain,” katanya.
Artinya, anak yang memiliki empati dan kepedulian sosial justru cenderung lebih mampu berkembang secara akademik dan emosional, karena keterampilan tersebut membantu mereka membangun hubungan yang sehat dan lingkungan belajar yang positif.
Bagi orang tua yang meyakini bahwa mengajarkan sikap ramah, dermawan, dan peduli terhadap lingkungan sekitar sama pentingnya dengan mengajarkan kecerdasan intelektual atau kemampuan fisik, terdapat sejumlah kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan usia anak, mulai dari bayi hingga remaja, agar mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang penuh kepedulian.
Mengapa harus mengajarkan anak-anak kasih sayang?
Ketika anak-anak belajar untuk memahami sudut pandang orang lain, berbagi dengan tulus, serta menghadapi konflik dengan empati, mereka tidak hanya sedang belajar menjadi pribadi yang baik.
Lebih dari itu, mereka sedang membangun fondasi keterampilan hidup yang akan sangat berguna di berbagai aspek kehidupan, mulai dari dunia pendidikan, dunia kerja, hingga dalam membangun persahabatan dan hubungan jangka panjang.
“Jika mereka dapat bergaul secara lebih kooperatif dengan guru, figur otoritas, dan teman sebaya. Hal itu dapat membantu mereka memaksimalkan potensi akademik mereka dan memiliki pengalaman yang lebih memuaskan dan kurang frustrasi secara keseluruhan,” kata Dr. Laino.
Keterampilan empati dan kasih sayang juga berperan besar dalam membangun kepercayaan diri anak. Merawat dan memperhatikan orang lain membuat anak merasa dirinya berharga dan mampu memberi dampak positif.
“Memberi, melakukan, dan peduli pada orang lain meningkatkan rasa kemandirian diri dan dapat memberikan anak muda rasa tujuan,” tambah Dr. Laino.
Rasa tujuan inilah yang kemudian berfungsi sebagai kompas moral, membantu anak membangun hubungan yang sehat, membuat keputusan etis, serta menavigasi dunia yang semakin kompleks dengan lebih bijak.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)