- Balita belajar melalui meniru.
- Buang air besar dan kencing sering terjadi bersamaan.
- Sebagian besar ahli menyarankan untuk membeli potty berukuran anak-anak.
Jakarta: Seperti toilet training untuk anak mana pun, pengalaman ini bisa menantang, memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan, dan disertai dengan naik-turun serta kecelakaan. Semua ini normal dan sama sekali tidak mencerminkan kemampuan orang tua dalam melatih toilet anak.
Baik memilih pendekatan pelatihan toilet yang singkat dan intens, seperti metode tiga hari tanpa celana, atau perlahan-lahan beralih dari popok ke celana pelatihan ke celana dalam, kesabaran dan fleksibilitas adalah hal yang wajib.
Dilansir dari BabyCenter, berikut beberapa tips untuk membantu melatih anak laki-laki menggunakan toilet.
“Begitu anak mulai menyadari bahwa mereka buang air besar di popok, mulailah dengan menghubungkan tindakan buang air besar dengan kata-kata,” kata Liz Donner, M.D., seorang dokter spesialis anak di rumah sakit dan anggota Dewan Penasihat Medis BabyCenter.
Untuk membangun kesadaran lebih lanjut, orang tua bisa mulai dengan mengajak anak mengamati proses buang air kecil dan besar di rumah. Misalnya, saat anak melihat orang tua atau saudara menggunakan toilet, jelaskan langkah-langkahnya dengan sederhana, seperti 'Sekarang kita duduk di toilet dan buang air kecil'.
Balita belajar melalui meniru, dan menonton orang tua menggunakan toilet adalah langkah alami pertama dalam perjalanan pelatihan toilet mereka.
Anak mungkin memperhatikan bahwa Ayah menggunakan toilet secara berbeda dari Ibu, yang menciptakan kesempatan bagus untuk menjelaskan mekanisme dasar bagaimana anak laki-laki menggunakan toilet.
Sebagian besar ahli menyarankan untuk membeli potty berukuran anak-anak, yang dapat dijadikan milik sendiri oleh balita. Hal ini akan membuatnya merasa lebih aman daripada duduk di toilet berukuran dewasa.
Biarkan anak terbiasa menggunakan toilet dan mulailah dengan memberitahunya bahwa toilet itu miliknya sendiri. Orang tua dapat mempersonalisasikannya dengan menulis namanya di atasnya atau membiarkannya menghiasnya dengan stiker. Kemudian biarkan dia mencoba duduk di atasnya dengan pakaiannya masih terpakai.
Untuk meningkatkan kenyamanan, orang tua bisa membuat rutinitas harian di mana anak duduk di toilet pada waktu-waktu tertentu, seperti setelah bangun tidur atau sebelum tidur.
Buang air besar dan kencing sering terjadi bersamaan. Jadi masuk akal untuk membuat anak duduk di toilet untuk buang air besar dan kencing pada awalnya. Dengan begitu, dia belajar bahwa keduanya dilakukan di toilet. Setelah anak merasa nyaman buang air kecil sambil duduk, dia bisa mencoba berdiri.
Anak pasti akan mengalami beberapa kecelakaan, tetapi pada akhirnya, dia akan menikmati pencapaian berhasil buang air kecil di toilet. Rayakan momen ini dengan meriah.
Selain pujian verbal, orang tua bisa membuat chart kemajuan di dinding, di mana anak menempel stiker setiap kali berhasil. Ini membuat proses terasa seperti permainan. Pastikan hadiah tidak terlalu besar agar anak tidak merasa tekanan, dan fokus pada kegembiraan bersama daripada kompetisi.
Jadwal yang baik bisa dimulai dengan sesi toilet setiap 30 menit hingga 1 jam di rumah, terutama saat anak aktif. Di malam hari, gunakan popok untuk menghindari gangguan tidur. Jika anak di daycare, diskusikan dengan staf tentang rutinitas mereka agar konsisten.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Baik memilih pendekatan pelatihan toilet yang singkat dan intens, seperti metode tiga hari tanpa celana, atau perlahan-lahan beralih dari popok ke celana pelatihan ke celana dalam, kesabaran dan fleksibilitas adalah hal yang wajib.
Dilansir dari BabyCenter, berikut beberapa tips untuk membantu melatih anak laki-laki menggunakan toilet.
1. Bangun kesadaran
“Begitu anak mulai menyadari bahwa mereka buang air besar di popok, mulailah dengan menghubungkan tindakan buang air besar dengan kata-kata,” kata Liz Donner, M.D., seorang dokter spesialis anak di rumah sakit dan anggota Dewan Penasihat Medis BabyCenter.
Untuk membangun kesadaran lebih lanjut, orang tua bisa mulai dengan mengajak anak mengamati proses buang air kecil dan besar di rumah. Misalnya, saat anak melihat orang tua atau saudara menggunakan toilet, jelaskan langkah-langkahnya dengan sederhana, seperti 'Sekarang kita duduk di toilet dan buang air kecil'.
2. Biarkan dia menonton dan belajar
Balita belajar melalui meniru, dan menonton orang tua menggunakan toilet adalah langkah alami pertama dalam perjalanan pelatihan toilet mereka.
Anak mungkin memperhatikan bahwa Ayah menggunakan toilet secara berbeda dari Ibu, yang menciptakan kesempatan bagus untuk menjelaskan mekanisme dasar bagaimana anak laki-laki menggunakan toilet.
3. Pastikan peralatan pelatihan toilet yang tepat
Sebagian besar ahli menyarankan untuk membeli potty berukuran anak-anak, yang dapat dijadikan milik sendiri oleh balita. Hal ini akan membuatnya merasa lebih aman daripada duduk di toilet berukuran dewasa.
4. Bantu anak merasa nyaman dengan toilet
Biarkan anak terbiasa menggunakan toilet dan mulailah dengan memberitahunya bahwa toilet itu miliknya sendiri. Orang tua dapat mempersonalisasikannya dengan menulis namanya di atasnya atau membiarkannya menghiasnya dengan stiker. Kemudian biarkan dia mencoba duduk di atasnya dengan pakaiannya masih terpakai.
Untuk meningkatkan kenyamanan, orang tua bisa membuat rutinitas harian di mana anak duduk di toilet pada waktu-waktu tertentu, seperti setelah bangun tidur atau sebelum tidur.
5. Ajarkan dia untuk duduk terlebih dahulu, lalu berdiri
Buang air besar dan kencing sering terjadi bersamaan. Jadi masuk akal untuk membuat anak duduk di toilet untuk buang air besar dan kencing pada awalnya. Dengan begitu, dia belajar bahwa keduanya dilakukan di toilet. Setelah anak merasa nyaman buang air kecil sambil duduk, dia bisa mencoba berdiri.
6. Rayakan keberhasilan
Anak pasti akan mengalami beberapa kecelakaan, tetapi pada akhirnya, dia akan menikmati pencapaian berhasil buang air kecil di toilet. Rayakan momen ini dengan meriah.
Selain pujian verbal, orang tua bisa membuat chart kemajuan di dinding, di mana anak menempel stiker setiap kali berhasil. Ini membuat proses terasa seperti permainan. Pastikan hadiah tidak terlalu besar agar anak tidak merasa tekanan, dan fokus pada kegembiraan bersama daripada kompetisi.
7. Buat jadwal latihan toilet
Jadwal yang baik bisa dimulai dengan sesi toilet setiap 30 menit hingga 1 jam di rumah, terutama saat anak aktif. Di malam hari, gunakan popok untuk menghindari gangguan tidur. Jika anak di daycare, diskusikan dengan staf tentang rutinitas mereka agar konsisten.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)