WISATA

Spill Rahasia: Kenapa Cara Mudik Orang ASEAN di 2026 Gak Kayak Dulu Lagi?

Yatin Suleha
Senin 16 Maret 2026 / 13:29
Ringkasnya gini..
  • Dalam mudik, masyarakat kini semakin mempertimbangkan fleksibilitas dan nilai yang lebih optimal.
  • Ada tiga tren yang menggambarkan perubahan cara masyarakat di kawasan Asean.
  • Apa saja tren itu, simak selengkapnya.
Jakarta: Jelang Hari Lebaran 2026, tradisi mudik dan liburan kembali dinantikan sebagai salah satu musim mobilisasi terbesar, khususnya bagi lebih dari 260 juta umat Muslim di Asia Tenggara.

Kementerian Perhubungan Republik Indonesia sendiri memperkirakan total pergerakan masyarakat selama periode Angkutan Lebaran 2026 mencapai 50,60% dari total populasi, atau sekitar 143,91 juta orang.

Berdasarkan pola pemesanan untuk periode Lebaran pada 15–28 Maret 2026, AirAsia MOVE (MOVE) mengidentifikasi 3 tren yang menggambarkan perubahan cara masyarakat di kawasan Asean merencanakan perjalanan mereka sepanjang musim ini.

 

1. Kombinasi maskapai dan tiket satu arah


Musim Lebaran tahun ini menunjukkan peningkatan fleksibilitas dalam pengaturan penerbangan. Di platform tersebut terlihat kecenderungan pengguna mengombinasikan maskapai berbeda untuk penerbangan pergi dan pulang.

Sebagian pengguna juga memilih mengamankan tiket satu arah terlebih dahulu, sementara jadwal kepulangan ditentukan kemudian. Pada periode Lebaran mendatang, hampir 300.000 kursi penerbangan tercatat terjual pada tiket satu arah, baik untuk maskapai berbiaya terjangkau maupun premium.

Pola ini mencerminkan dinamika rencana perjalanan keluarga, sekaligus upaya pengguna untuk menyiasati fluktuasi harga tiket pesawat pada musim libur.
 

2. Akomodasi multi-kamar semakin diminati



(Dalam tren yang dipaparkan oleh AirAsia Move, kini tempat jadi pertimbangan para pemudik bersama keluarga. Kini lebih banyak orang yang cenderung memilih properti yang mampu menampung lebih banyak orang dalam satu unit seperti vila. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Di tengah meningkatnya berbagai kebutuhan untuk Lebaran serta kenaikan tarif hotel yang lazim terjadi pada musim tersebut, pertimbangan biaya turut memengaruhi pilihan akomodasi pengguna aplikasi ini. 

Mereka yang bepergian bersama keluarga besar kini cenderung memilih properti yang mampu menampung lebih banyak orang dalam satu unit, seperti vila, apartemen berlayanan, atau suite dengan beberapa kamar.

Alih-alih memesan kamar secara terpisah, strategi ini dinilai lebih efisien dengan membagi biaya penginapan secara merata di antara anggota rombongan.
 

3. Kenyamanan tetap menjadi prioritas, namun pengeluaran lebih terukur


Tren lain yang muncul menunjukkan pola pengeluaran yang lebih terencana tanpa mengurangi makna perjalanan itu sendiri. Perjalanan mudik maupun berlibur tetap dilakukan, namun dengan penyesuaian yang lebih rasional, termasuk memilih opsi akomodasi yang lebih terjangkau.

Selama periode tersebut, rata-rata pengeluaran untuk pemesanan hotel di aplikasi ini tercatat sekitar Rp1,1 juta per malam, mencerminkan preferensi terhadap penginapan yang tetap nyaman sekaligus menawarkan nilai yang lebih baik.

Pola ini menunjukkan bahwa meskipun tradisi pulang kampung saat Lebaran tetap kuat, masyarakat kini semakin bijak dalam mengelola anggaran perjalanan mereka.

CEO AirAsia MOVE, Nadia Omer mengatakan, “Bagi industri perjalanan, tren ini menunjukkan pentingnya menghadirkan pilihan yang lebih beragam, harga yang transparan, serta fleksibilitas yang tinggi."
 
"Di MOVE, kami melihat momentum perjalanan selama periode ini sebagai peluang untuk memfasilitasi mobilitas di seluruh Asean, sehingga masyarakat dapat merayakan tradisi sekaligus merencanakan perjalanan mereka dengan lebih cermat dan efisien,” ujarnya.

Secara keseluruhan, tren tersebut menunjukkan bahwa Lebaran 2026 bukan hanya menjadi musim puncak perjalanan, tetapi juga mencerminkan perubahan perilaku konsumen di kawasan Asean.


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH