BEAUTY
Parfum Mahal Belum Tentu Kepakai, Ini Tren Wangi yang Lagi Naik
A. Firdaus
Kamis 30 April 2026 / 11:10
- Banyak brand mulai beralih dari EDT ke EDP.
- Permintaan pasar yang menginginkan parfum lebih tahan lama.
- Memilih parfum dengan harga lebih terjangkau juga memiliki tantangan tersendiri.
Jakarta: Tren penggunaan parfum terus berkembang, tidak hanya soal aroma, tetapi juga tentang konsentrasi, daya tahan, hingga cara pemakaian yang tepat. Banyak orang mulai sadar bahwa memilih parfum bukan sekadar wangi, tetapi juga memahami jenis dan kandungannya.
Setiap jenis parfum memiliki kadar konsentrasi yang berbeda, dan ini sangat memengaruhi kekuatan serta ketahanannya.
“Body mist biasanya hanya memiliki sekitar 1% konsentrasi, seperti yang banyak dijual oleh brand populer. Itu ringan dan cocok untuk penggunaan santai,” jelas Josh Frost, Founder & Perfumer BestPerfume.Store dalam acara Press Conference BestPerfume.Store di Wyl's Kitchen Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (29/04/26).
Di atasnya ada cologne dengan sekitar 3%, diikuti oleh Eau de Toilette (EDT) yang juga berada di kisaran 8%. Sementara itu, Eau de Parfum (EDP) memiliki konsentrasi lebih tinggi, sekitar 10% hingga 15%, yang membuat aromanya lebih kuat dan tahan lama.
Menurut Josh, tren saat ini menunjukkan banyak brand mulai beralih dari EDT ke EDP, karena permintaan pasar yang menginginkan parfum lebih tahan lama. Bahkan, ada kategori parfum dengan konsentrasi lebih tinggi lagi, yaitu parfum murni dengan kadar 20% hingga 30%.

Josh Frost, Founder & Perfumer BestPerfume.Store dalam acara Press Conference BestPerfume.Store di Wyl's Kitchen. Dok. Secillia/Medcom
“Ada juga yang mencapai 50%, tapi di atas itu biasanya sudah sulit diformulasikan,” tambahnya.
Namun, menariknya, tren global justru mulai bergeser. Jika dulu parfum mahal dengan konsentrasi tinggi menjadi incaran, kini banyak orang lebih memilih parfum yang bisa digunakan setiap hari. Josh menilai harga menjadi salah satu faktor utama.
“Banyak orang membeli parfum seharga 400-500 dolar, tapi akhirnya jarang dipakai karena sayang. Sekarang orang lebih memilih yang bisa dipakai setiap hari, tanpa takut habis,” ujarnya.
Meski begitu, memilih parfum dengan harga lebih terjangkau juga memiliki tantangan tersendiri, terutama soal keamanan dan kepercayaan terhadap brand. Josh mengingatkan bahwa beberapa brand murah sering kali tidak konsisten dalam layanan, bahkan bisa menghilang dalam waktu singkat. Hal ini membuat konsumen perlu lebih selektif sebelum membeli.
Selain membahas konsentrasi, Josh juga menyoroti kesalahan umum dalam penggunaan parfum. Salah satunya adalah mencampur parfum dengan lotion atau produk lain.
“Banyak yang bilang pakai lotion bisa membantu, tapi itu tidak selalu benar. Bisa saja malah merusak aroma atau menyebabkan reaksi di kulit,” jelasnya.
Josh menyarankan agar parfum digunakan di titik nadi, seperti pergelangan tangan, leher, atau bagian tubuh yang hangat. Untuk hasil yang lebih tahan lama, Josh merekomendasikan teknik penyemprotan berlapis.
“Semprotkan parfum, tunggu sekitar lima menit sebelum keluar rumah, lalu semprot lagi. Saat sudah menyerap di kulit, aroma akan lebih tahan lama,” katanya.
Terkait penggunaan di pakaian, Josh menyebut hal itu boleh dilakukan, tetapi efeknya berbeda. Aroma memang bisa bertahan lebih lama di kain, namun tidak akan bereaksi dengan suhu tubuh, seperti saat diaplikasikan di kulit.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Setiap jenis parfum memiliki kadar konsentrasi yang berbeda, dan ini sangat memengaruhi kekuatan serta ketahanannya.
“Body mist biasanya hanya memiliki sekitar 1% konsentrasi, seperti yang banyak dijual oleh brand populer. Itu ringan dan cocok untuk penggunaan santai,” jelas Josh Frost, Founder & Perfumer BestPerfume.Store dalam acara Press Conference BestPerfume.Store di Wyl's Kitchen Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (29/04/26).
Di atasnya ada cologne dengan sekitar 3%, diikuti oleh Eau de Toilette (EDT) yang juga berada di kisaran 8%. Sementara itu, Eau de Parfum (EDP) memiliki konsentrasi lebih tinggi, sekitar 10% hingga 15%, yang membuat aromanya lebih kuat dan tahan lama.
Menurut Josh, tren saat ini menunjukkan banyak brand mulai beralih dari EDT ke EDP, karena permintaan pasar yang menginginkan parfum lebih tahan lama. Bahkan, ada kategori parfum dengan konsentrasi lebih tinggi lagi, yaitu parfum murni dengan kadar 20% hingga 30%.

Josh Frost, Founder & Perfumer BestPerfume.Store dalam acara Press Conference BestPerfume.Store di Wyl's Kitchen. Dok. Secillia/Medcom
“Ada juga yang mencapai 50%, tapi di atas itu biasanya sudah sulit diformulasikan,” tambahnya.
Namun, menariknya, tren global justru mulai bergeser. Jika dulu parfum mahal dengan konsentrasi tinggi menjadi incaran, kini banyak orang lebih memilih parfum yang bisa digunakan setiap hari. Josh menilai harga menjadi salah satu faktor utama.
“Banyak orang membeli parfum seharga 400-500 dolar, tapi akhirnya jarang dipakai karena sayang. Sekarang orang lebih memilih yang bisa dipakai setiap hari, tanpa takut habis,” ujarnya.
Meski begitu, memilih parfum dengan harga lebih terjangkau juga memiliki tantangan tersendiri, terutama soal keamanan dan kepercayaan terhadap brand. Josh mengingatkan bahwa beberapa brand murah sering kali tidak konsisten dalam layanan, bahkan bisa menghilang dalam waktu singkat. Hal ini membuat konsumen perlu lebih selektif sebelum membeli.
Kesalahan umum saat memakai parfum
Selain membahas konsentrasi, Josh juga menyoroti kesalahan umum dalam penggunaan parfum. Salah satunya adalah mencampur parfum dengan lotion atau produk lain.
“Banyak yang bilang pakai lotion bisa membantu, tapi itu tidak selalu benar. Bisa saja malah merusak aroma atau menyebabkan reaksi di kulit,” jelasnya.
Cara membuat parfum lebih tahan lama
Josh menyarankan agar parfum digunakan di titik nadi, seperti pergelangan tangan, leher, atau bagian tubuh yang hangat. Untuk hasil yang lebih tahan lama, Josh merekomendasikan teknik penyemprotan berlapis.
“Semprotkan parfum, tunggu sekitar lima menit sebelum keluar rumah, lalu semprot lagi. Saat sudah menyerap di kulit, aroma akan lebih tahan lama,” katanya.
Terkait penggunaan di pakaian, Josh menyebut hal itu boleh dilakukan, tetapi efeknya berbeda. Aroma memang bisa bertahan lebih lama di kain, namun tidak akan bereaksi dengan suhu tubuh, seperti saat diaplikasikan di kulit.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)