FAMILY
Belajar dari Tragedi Bocah Ngada: Ketika Luka Anak Tak Punya Suara untuk Didengar
Yatin Suleha
Minggu 08 Februari 2026 / 17:43
- Publik dikejutkan oleh kabar duka dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
- Yohanes Bastian Roja (YBR), siswa kelas IV SD berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia pada akhir Januari 2026.
- Dugaan sementara, bocah tersebut mengakhiri hidupnya setelah merasa putus asa karena permintaannya yang tidak terpenuhi oleh ibunya.
Jakarta: Publik dikejutkan oleh kabar duka dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Yohanes Bastian Roja (YBR), siswa kelas IV SD berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia pada akhir Januari 2026.
Dugaan sementara, bocah tersebut mengakhiri hidupnya setelah merasa putus asa karena permintaannya untuk membeli buku tulis dan pulpen seharga kurang dari Rp10.000 tidak dapat dipenuhi oleh sang ibu akibat keterbatasan ekonomi.
Peristiwa ini memantik keprihatinan luas. Banyak pihak menilai tragedi tersebut tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai persoalan tidak terpenuhinya kebutuhan alat tulis.
Psikolog Jovita Maria Ferliana, M.Psi, menegaskan bahwa keputusan ekstrem pada anak tidak pernah berdiri pada satu penyebab tunggal.
“Peristiwa ini tidak bisa dilihat semata-mata karena anak ‘tidak bisa membeli pena dan buku’. Pada anak kecil, keputusan ekstrem seperti ini tidak pernah disebabkan oleh satu faktor saja. Biasanya ada akumulasi tekanan yang tidak tertangani,” kata Jovita kepada Tim Medcom.id, Sabtu (07/02/26).
Menurutnya, dunia emosional anak masih sangat terbatas. Hal-hal yang bagi orang dewasa tampak sepele, bisa terasa sangat besar dan menyesakkan bagi anak. Rasa takut dimarahi, dipermalukan, atau dianggap gagal dapat berkembang menjadi tekanan emosional yang berat.
“Anak kemungkinan mengalami perasaan tertekan, malu, takut, dan tidak berdaya. Bagi orang dewasa, pena dan buku mungkin hal kecil, tetapi bagi anak, itu bisa bermakna rasa takut dimarahi, takut dipermalukan, atau merasa dirinya ‘tidak cukup baik’,” jelas Jovita.
Ia juga menekankan pentingnya melihat faktor lingkungan sekitar anak, baik di rumah maupun di sekolah. Tekanan, hukuman yang berlebihan, kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain, serta minimnya ruang aman untuk bercerita dapat memperparah kondisi psikologis anak.

(Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog. Foto: Dok. Istimewa)
“Kita perlu bertanya, apakah ada orang dewasa yang benar-benar mendengarkan perasaannya? Apakah anak merasa aman untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan?” kata Jovita.
“Anak yang sampai pada kondisi ini biasanya bukan ingin mati, tetapi ingin mengakhiri rasa sakit emosional yang ia rasakan, dan sayangnya ia belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikannya secara sehat,” tambahnya.
Tragedi yang menimpa YBR menjadi pengingat keras bahwa kesehatan mental anak sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan fisik.
Anak-anak membutuhkan ruang aman untuk berbicara, pendampingan emosional dari orang dewasa yang peka, serta lingkungan keluarga dan pendidikan yang berlandaskan empati, bukan tekanan atau rasa malu.
“Ini bukan hanya tragedi satu keluarga. Ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai masyarakat untuk lebih peduli, lebih mendengar, dan lebih melindungi anak-anak,” tegas Jovita.
Peristiwa ini diharapkan mendorong semua pihak, seperti orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk semakin waspada terhadap tanda-tanda stres pada anak serta membangun sistem dukungan yang lebih manusiawi, agar tidak ada lagi suara kecil yang terpaksa diam dalam rasa sakitnya.
“Ini bukan soal pena dan buku, melainkan soal beban emosional yang dipikul anak tanpa kemampuan dan dukungan untuk mengungkapkannya,” pungkas Jovita.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Dugaan sementara, bocah tersebut mengakhiri hidupnya setelah merasa putus asa karena permintaannya untuk membeli buku tulis dan pulpen seharga kurang dari Rp10.000 tidak dapat dipenuhi oleh sang ibu akibat keterbatasan ekonomi.
Peristiwa ini memantik keprihatinan luas. Banyak pihak menilai tragedi tersebut tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai persoalan tidak terpenuhinya kebutuhan alat tulis.
Baca Juga :
7 Penyebab Anak Tidak Mau Toilet Training
Psikolog Jovita Maria Ferliana, M.Psi, menegaskan bahwa keputusan ekstrem pada anak tidak pernah berdiri pada satu penyebab tunggal.
“Peristiwa ini tidak bisa dilihat semata-mata karena anak ‘tidak bisa membeli pena dan buku’. Pada anak kecil, keputusan ekstrem seperti ini tidak pernah disebabkan oleh satu faktor saja. Biasanya ada akumulasi tekanan yang tidak tertangani,” kata Jovita kepada Tim Medcom.id, Sabtu (07/02/26).
Menurutnya, dunia emosional anak masih sangat terbatas. Hal-hal yang bagi orang dewasa tampak sepele, bisa terasa sangat besar dan menyesakkan bagi anak. Rasa takut dimarahi, dipermalukan, atau dianggap gagal dapat berkembang menjadi tekanan emosional yang berat.
“Anak kemungkinan mengalami perasaan tertekan, malu, takut, dan tidak berdaya. Bagi orang dewasa, pena dan buku mungkin hal kecil, tetapi bagi anak, itu bisa bermakna rasa takut dimarahi, takut dipermalukan, atau merasa dirinya ‘tidak cukup baik’,” jelas Jovita.
Ia juga menekankan pentingnya melihat faktor lingkungan sekitar anak, baik di rumah maupun di sekolah. Tekanan, hukuman yang berlebihan, kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain, serta minimnya ruang aman untuk bercerita dapat memperparah kondisi psikologis anak.

(Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog. Foto: Dok. Istimewa)
“Kita perlu bertanya, apakah ada orang dewasa yang benar-benar mendengarkan perasaannya? Apakah anak merasa aman untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan?” kata Jovita.
“Anak yang sampai pada kondisi ini biasanya bukan ingin mati, tetapi ingin mengakhiri rasa sakit emosional yang ia rasakan, dan sayangnya ia belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikannya secara sehat,” tambahnya.
Tragedi yang menimpa YBR menjadi pengingat keras bahwa kesehatan mental anak sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan fisik.
Anak-anak membutuhkan ruang aman untuk berbicara, pendampingan emosional dari orang dewasa yang peka, serta lingkungan keluarga dan pendidikan yang berlandaskan empati, bukan tekanan atau rasa malu.
“Ini bukan hanya tragedi satu keluarga. Ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai masyarakat untuk lebih peduli, lebih mendengar, dan lebih melindungi anak-anak,” tegas Jovita.
Peristiwa ini diharapkan mendorong semua pihak, seperti orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk semakin waspada terhadap tanda-tanda stres pada anak serta membangun sistem dukungan yang lebih manusiawi, agar tidak ada lagi suara kecil yang terpaksa diam dalam rasa sakitnya.
“Ini bukan soal pena dan buku, melainkan soal beban emosional yang dipikul anak tanpa kemampuan dan dukungan untuk mengungkapkannya,” pungkas Jovita.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)