FITNESS & HEALTH

BNN Spill Bahaya Gas Tertawa yang Viral di Medsos, yang Gak 'Sebecanda' Itu!

Yatin Suleha
Kamis 05 Februari 2026 / 11:10
Ringkasnya gini..
  • BNN mengungkapkan bahwa penyalahgunaan nitrous oxide tidak hanya berdampak sementara, tetapi juga berisiko menyebabkan gangguan kesehatan serius.
  • Di balik popularitas gas tertawa, tren tersebut justru memicu kekhawatiran serius.
  • BNN menilai tren konsumsi gas tertawa semakin mengkhawatirkan, terutama di kalangan anak muda.
Jakarta: Penggunaan gas tertawa atau nitrous oxide tengah ramai diperbincangkan di media sosial karena dianggap mampu memberikan efek bahagia secara instan. Namun di balik popularitasnya, tren tersebut justru memicu kekhawatiran serius.

Badan Narkotika Nasional (BNN) angkat bicara dan mengingatkan masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan zat ini.

BNN menilai tren konsumsi gas tertawa semakin mengkhawatirkan, terutama di kalangan anak muda. Salah satu faktor yang mempercepat penyebarannya adalah kemudahan akses pembelian melalui berbagai platform digital.
 
Perhatian publik terhadap fenomena ini juga meningkat setelah gas tertawa dikaitkan dengan kasus kematian seorang selebgram, yang membuat risikonya semakin disorot.

Dilansir dari iNews, gas tertawa bekerja langsung pada sistem saraf pusat. 

Zat ini dengan cepat masuk ke aliran darah dan mencapai otak, sehingga menimbulkan efek euforia, rasa rileks, hingga tawa tanpa sebab. Meski demikian, sensasi tersebut hanya berlangsung singkat.

Efek yang cepat hilang justru mendorong sebagian pengguna untuk menghirup gas tertawa secara berulang.

Pola ini dinilai berbahaya karena dapat memicu ketergantungan. BNN mengungkapkan bahwa penyalahgunaan nitrous oxide tidak hanya berdampak sementara, tetapi juga berisiko menyebabkan gangguan kesehatan serius.


(Sayangnya, ada yang menyalahgunakan zat tertawa untuk tujuan rekreasi. Ini karena pada dosis tertentu, nitrous oxide yang terkandung dalam gas tertawa dapat menimbulkan euforia. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Lebih jauh, BNN juga menyoroti praktik mencampur gas tertawa dengan alkohol yang mulai ditemukan di lapangan. Kombinasi ini dianggap sangat berisiko karena dapat memperberat dampak terhadap tubuh.

Efek yang ditimbulkan tidak sebatas pusing atau mual, melainkan dapat menyebabkan kerusakan saraf, gangguan fungsi organ, hingga meningkatkan risiko kematian.

Meskipun saat ini gas tertawa belum dikategorikan sebagai narkotika, BNN menegaskan bahwa bahayanya tidak dapat diabaikan.

Berdasarkan tren global, sejumlah negara telah mulai memperketat regulasi terkait peredaran gas tertawa karena meningkatnya penyalahgunaan di kalangan remaja.
 
BNN mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap tren yang berkembang di media sosial. Orang tua dan generasi muda diharapkan tidak mudah tergoda oleh fenomena viral tanpa memahami risiko yang menyertainya.

Oleh karena itu, sesuatu yang terlihat menyenangkan di dunia maya belum tentu aman bagi kesehatan.


Secillia Nur Hafifah


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH