FAMILY
Bikin Si Kecil Jadi Green Flag: 3 Cara Simpel Biar Dia Penuh Kasih Sayang
Yatin Suleha
Senin 09 Februari 2026 / 12:00
- Saat ini dunia digital membawa tantangan tersendiri, terutama risiko munculnya sikap apatis dan isolasi sosial.
- Empati dan kasih sayang merupakan bekal utama yang dibutuhkan anak untuk menghadapi masyarakat yang semakin kompleks.
- Semua proses tersebut bermula dari lingkungan keluarga.
Jakarta: Mendidik anak agar memiliki kepedulian sosial menjadi semakin penting di era modern. Saat ini dunia digital membawa tantangan tersendiri, terutama risiko munculnya sikap apatis dan isolasi sosial.
Empati dan kasih sayang merupakan bekal utama yang dibutuhkan anak untuk menghadapi masyarakat yang semakin kompleks dan teknologi ini.
Semua proses tersebut bermula dari lingkungan keluarga, tetapi kasih sayang sebenarnya mulai dipelajari jauh lebih awal daripada yang sering disadari.
Dilansir dari Parents, berikut adalah tips mengajarkan anak untuk bertindak penuh kasih sayang dan empati:
“Tidak pernah terlalu dini untuk mulai membantu anak-anak mengembangkan keterampilan lunak ini, jika upaya orang tua disesuaikan dengan usia perkembangan anak,” kata Joseph Laino, PsyD, seorang psikolog di NYU Langone’s Sunset Terrace Family Health Center.
Bahkan sebelum mampu berbicara, bayi sudah menyerap berbagai isyarat emosional dari lingkungan sekitarnya, seperti nada suara, ekspresi wajah, dan cara orang dewasa merespons emosi orang lain. Semua pengamatan ini membentuk gambaran awal tentang bagaimana manusia seharusnya saling memperlakukan.
Bayi memerhatikan saat orang tua menenangkan pasangan yang sedang mengalami hari sulit, dan balita sering meniru perilaku tersebut dengan cara sederhana, seperti memeluk boneka atau menawarkan pelukan kepada orang lain.
.jpg)
(Buku bergambar bisa memberikan pemahanan bagi si kecil. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Cerita merupakan sarana yang sangat efektif dalam menumbuhkan empati. Andrea Mucino-Sanchez, petugas informasi publik dan komunikasi UNHCR, menjelaskan bahwa cerita memungkinkan anak membayangkan kehidupan dari sudut pandang orang lain.
Baik melalui buku cerita sebelum tidur maupun novel, narasi membantu anak memahami pengalaman yang berbeda dari kehidupannya sendiri.
Untuk memperluas wawasan tentang isu global, pemilihan cerita dapat dilakukan, buku bergambar atau penggunaan video pendek atau kisah nyata.
“Ini menawarkan cara yang bijaksana untuk belajar tanpa membebani mereka,” katanya.
Diskusi setelahnya, seperti membahas perasaan tokoh atau kemungkinan tindakan yang bisa dilakukan, menjadikan cerita sebagai fondasi kuat untuk pengembangan empati.
“Memberi, melakukan, dan peduli pada orang lain meningkatkan rasa kemandirian seseorang dan dapat memberikan tujuan bagi remaja,” kata Dr. Laino.
Untuk anak-anak sekolah dasar:
- Membuat kartu untuk tetangga atau penghuni panti jompo, serta mencari kesempatan untuk membantu orang di sekitar
- Memilih mainan, buku, atau pakaian yang layak untuk didonasikan
- Membantu menyiapkan makanan bagi teman atau anggota keluarga
Untuk remaja:
- Berpartisipasi dalam bank makanan atau kegiatan komunitas
- Memilih isu sosial yang dirasa penting dan mencari cara konkret untuk mendukungnya
- Bergabung dengan organisasi sukarela, seperti proyek lingkungan atau kegiatan sosial misalnya karang taruna
Keterlibatan anak dalam memilih kegiatan membuat pengalaman membantu orang lain terasa lebih bermakna.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Empati dan kasih sayang merupakan bekal utama yang dibutuhkan anak untuk menghadapi masyarakat yang semakin kompleks dan teknologi ini.
Semua proses tersebut bermula dari lingkungan keluarga, tetapi kasih sayang sebenarnya mulai dipelajari jauh lebih awal daripada yang sering disadari.
Baca Juga :
Mengapa Anak-anak Mengeluh atau Merengek?
Dilansir dari Parents, berikut adalah tips mengajarkan anak untuk bertindak penuh kasih sayang dan empati:
1. Tunjukkan kebaikan sejak dini karena bayi sedang mengamati
“Tidak pernah terlalu dini untuk mulai membantu anak-anak mengembangkan keterampilan lunak ini, jika upaya orang tua disesuaikan dengan usia perkembangan anak,” kata Joseph Laino, PsyD, seorang psikolog di NYU Langone’s Sunset Terrace Family Health Center.
Bahkan sebelum mampu berbicara, bayi sudah menyerap berbagai isyarat emosional dari lingkungan sekitarnya, seperti nada suara, ekspresi wajah, dan cara orang dewasa merespons emosi orang lain. Semua pengamatan ini membentuk gambaran awal tentang bagaimana manusia seharusnya saling memperlakukan.
Bayi memerhatikan saat orang tua menenangkan pasangan yang sedang mengalami hari sulit, dan balita sering meniru perilaku tersebut dengan cara sederhana, seperti memeluk boneka atau menawarkan pelukan kepada orang lain.
2. Gunakan cerita yang sesuai usia untuk membangun pemahaman
.jpg)
(Buku bergambar bisa memberikan pemahanan bagi si kecil. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Cerita merupakan sarana yang sangat efektif dalam menumbuhkan empati. Andrea Mucino-Sanchez, petugas informasi publik dan komunikasi UNHCR, menjelaskan bahwa cerita memungkinkan anak membayangkan kehidupan dari sudut pandang orang lain.
Baik melalui buku cerita sebelum tidur maupun novel, narasi membantu anak memahami pengalaman yang berbeda dari kehidupannya sendiri.
Untuk memperluas wawasan tentang isu global, pemilihan cerita dapat dilakukan, buku bergambar atau penggunaan video pendek atau kisah nyata.
“Ini menawarkan cara yang bijaksana untuk belajar tanpa membebani mereka,” katanya.
Diskusi setelahnya, seperti membahas perasaan tokoh atau kemungkinan tindakan yang bisa dilakukan, menjadikan cerita sebagai fondasi kuat untuk pengembangan empati.
3. Dorong anak-anak untuk bertindak, baik yang besar maupun kecil
“Memberi, melakukan, dan peduli pada orang lain meningkatkan rasa kemandirian seseorang dan dapat memberikan tujuan bagi remaja,” kata Dr. Laino.
Untuk anak-anak sekolah dasar:
- Membuat kartu untuk tetangga atau penghuni panti jompo, serta mencari kesempatan untuk membantu orang di sekitar
- Memilih mainan, buku, atau pakaian yang layak untuk didonasikan
- Membantu menyiapkan makanan bagi teman atau anggota keluarga
Untuk remaja:
- Berpartisipasi dalam bank makanan atau kegiatan komunitas
- Memilih isu sosial yang dirasa penting dan mencari cara konkret untuk mendukungnya
- Bergabung dengan organisasi sukarela, seperti proyek lingkungan atau kegiatan sosial misalnya karang taruna
Keterlibatan anak dalam memilih kegiatan membuat pengalaman membantu orang lain terasa lebih bermakna.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)