FAMILY
Apakah Bayi Bisa Alergi terhadap Keju? Ini Kata Para Ahli
A. Firdaus
Kamis 29 Januari 2026 / 15:10
- Keju memang bukan termasuk dalam daftar makanan alergen utama.
- Bayi terbiasa mengunyah dengan baik.
- Gejala alergi makanan dapat berupa ruam kulit.
Jakarta: Jika bayi memiliki riwayat eksim kronis atau alergi makanan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum memperkenalkan keju.
Keju memang bukan termasuk dalam daftar makanan alergen utama, tetapi tetap memiliki potensi menyebabkan reaksi alergi karena mengandung protein susu.
Dilansir dari BabyCenter, para ahli menyatakan bahwa sebagian besar bayi dapat mulai mengonsumsi keju setelah beberapa jenis makanan padat dasar, seperti sereal bayi, daging yang dihaluskan, sayuran, dan buah-buahan, diperkenalkan tanpa menimbulkan reaksi alergi.
Bahkan bayi dengan eksim ringan atau riwayat keluarga yang memiliki alergi makanan atau asma umumnya tetap dapat mengonsumsi keju, selama makanan lain yang lebih umum dapat ditoleransi dengan baik.
Saat memperkenalkan makanan baru, sebaiknya dilakukan di lingkungan rumah, bukan di tempat penitipan anak atau restoran. Pemberian makanan baru dapat dilakukan selama tiga hingga lima hari sebelum memperkenalkan jenis makanan lainnya.
Dengan cara ini, reaksi yang muncul dapat diamati dengan lebih jelas dan penyebabnya lebih mudah diidentifikasi.
Gejala alergi makanan dapat berupa ruam kulit yang terasa gatal, pembengkakan, mual, muntah, diare, serta kulit yang tampak pucat. Jika tanda-tanda tersebut muncul pada bayi, kondisi ini perlu segera dikonsultasikan dengan dokter.
Apabila gejala melibatkan lebih dari satu sistem tubuh, seperti ruam kulit yang disertai muntah atau diare, kondisi tersebut dapat mengarah pada reaksi anafilaksis.
Tanda-tanda lain dari reaksi anafilaksis meliputi rasa sesak pada tenggorokan, gangguan pernapasan, mengi, pusing, hingga kehilangan kesadaran.
Jika bayi menunjukkan tanda-tanda ini setelah mengonsumsi keju, tindakan darurat harus segera dilakukan dengan menghubungi 911 atau membawa bayi ke unit gawat darurat terdekat.
Intoleransi laktosa berbeda dengan alergi susu karena merupakan respons sistem pencernaan, bukan respons sistem imun. Keju mengandung kadar laktosa yang relatif rendah, sehingga sebagian besar bayi tidak mengalami kesulitan dalam mencernanya.
Meskipun keju relatif aman untuk bayi, pemberian susu sapi sebaiknya ditunda hingga bayi berusia satu tahun. Susu sapi lebih sulit dicerna oleh bayi dan tidak mengandung komposisi nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi pada usia di bawah satu tahun.
Untuk mengurangi risiko tersedak, pada tahap awal sebaiknya hanya diberikan keju yang sangat lembut, seperti gumpalan kecil ricotta atau keju cottage rendah natrium.
Seiring bertambahnya usia dan kemampuan mengunyah yang semakin baik, keju parut dengan tekstur sedikit lebih keras, seperti cheddar ringan atau Swiss, dapat mulai diperkenalkan.
Setelah bayi terbiasa mengunyah dengan baik, potongan kecil keju dapat disajikan bersama makanan jari lainnya, seperti kerupuk, telur rebus yang dipotong kecil, atau buah beri.
Beberapa ide resep makanan bayi yang menggunakan keju adalah pasta dengan bayam dan ricotta atau brokoli dan kembang kol keju.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Keju memang bukan termasuk dalam daftar makanan alergen utama, tetapi tetap memiliki potensi menyebabkan reaksi alergi karena mengandung protein susu.
Dilansir dari BabyCenter, para ahli menyatakan bahwa sebagian besar bayi dapat mulai mengonsumsi keju setelah beberapa jenis makanan padat dasar, seperti sereal bayi, daging yang dihaluskan, sayuran, dan buah-buahan, diperkenalkan tanpa menimbulkan reaksi alergi.
Bahkan bayi dengan eksim ringan atau riwayat keluarga yang memiliki alergi makanan atau asma umumnya tetap dapat mengonsumsi keju, selama makanan lain yang lebih umum dapat ditoleransi dengan baik.
Saat memperkenalkan makanan baru, sebaiknya dilakukan di lingkungan rumah, bukan di tempat penitipan anak atau restoran. Pemberian makanan baru dapat dilakukan selama tiga hingga lima hari sebelum memperkenalkan jenis makanan lainnya.
Dengan cara ini, reaksi yang muncul dapat diamati dengan lebih jelas dan penyebabnya lebih mudah diidentifikasi.
Gejala alergi makanan dapat berupa ruam kulit yang terasa gatal, pembengkakan, mual, muntah, diare, serta kulit yang tampak pucat. Jika tanda-tanda tersebut muncul pada bayi, kondisi ini perlu segera dikonsultasikan dengan dokter.
Apabila gejala melibatkan lebih dari satu sistem tubuh, seperti ruam kulit yang disertai muntah atau diare, kondisi tersebut dapat mengarah pada reaksi anafilaksis.
Tanda-tanda lain dari reaksi anafilaksis meliputi rasa sesak pada tenggorokan, gangguan pernapasan, mengi, pusing, hingga kehilangan kesadaran.
Jika bayi menunjukkan tanda-tanda ini setelah mengonsumsi keju, tindakan darurat harus segera dilakukan dengan menghubungi 911 atau membawa bayi ke unit gawat darurat terdekat.
Intoleransi laktosa berbeda dengan alergi susu karena merupakan respons sistem pencernaan, bukan respons sistem imun. Keju mengandung kadar laktosa yang relatif rendah, sehingga sebagian besar bayi tidak mengalami kesulitan dalam mencernanya.
Meskipun keju relatif aman untuk bayi, pemberian susu sapi sebaiknya ditunda hingga bayi berusia satu tahun. Susu sapi lebih sulit dicerna oleh bayi dan tidak mengandung komposisi nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi pada usia di bawah satu tahun.
Cara menyajikan keju kepada bayi
Untuk mengurangi risiko tersedak, pada tahap awal sebaiknya hanya diberikan keju yang sangat lembut, seperti gumpalan kecil ricotta atau keju cottage rendah natrium.
Seiring bertambahnya usia dan kemampuan mengunyah yang semakin baik, keju parut dengan tekstur sedikit lebih keras, seperti cheddar ringan atau Swiss, dapat mulai diperkenalkan.
Setelah bayi terbiasa mengunyah dengan baik, potongan kecil keju dapat disajikan bersama makanan jari lainnya, seperti kerupuk, telur rebus yang dipotong kecil, atau buah beri.
Beberapa ide resep makanan bayi yang menggunakan keju adalah pasta dengan bayam dan ricotta atau brokoli dan kembang kol keju.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)