FAMILY
Si Kakak Lagi Cemburu Sama Adik Baru? Ini Cara Handle Sibling Rivalry
Yatin Suleha
Minggu 19 April 2026 / 14:51
- Punya bayi baru di rumah emang bikin happy, tapi jujurly ini bakal jadi perubahan besar banget buat si Kakak.
- Jangan kaget kalau tiba-tiba balita kamu yang tadinya ceria dan mandiri berubah jadi lebih sensitif.
- Selain regresi, rasa cemburu juga kerap muncul, karena perhatian orang tua kini terbagi.
Jakarta: Punya bayi baru di rumah emang bikin happy, tapi jujurly ini bakal jadi perubahan besar banget buat si Kakak. Jangan kaget kalau tiba-tiba balita kamu yang tadinya ceria dan mandiri berubah jadi lebih sensitif atau gampang marah. Bahkan, kadang mereka suka balik lagi ke perilaku bayi cuma buat cari perhatian.
Kondisi ini sering disebut sebagai regresi, yaitu fase ketika anak mundur sementara ke tahap perkembangan sebelumnya, sebagai respons terhadap perubahan atau tekanan emosional.
Selain regresi, rasa cemburu juga kerap muncul, karena perhatian orang tua kini terbagi. Memahami kondisi ini penting, agar proses adaptasi berjalan lebih tenang, baik untuk anak maupun orang tua.
Apa yang harus dilakukan jika balita menunjukkan rasa cemburu pada bayi baru lahir? Selain mengalami regresi perkembangan dan perubahan perilaku, balita juga bisa memperlihatkan tanda-tanda kecemburuan terhadap adik barunya. Beberapa bentuk perilaku yang sering muncul, yaitu.
.jpg)
(Penting untuk menunjukkan secara langsung, bagaimana cara menyentuh adik bayi dengan lembut. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
• Ingin mendapatkan perhatian saat bayi sedang disusui atau diganti popoknya
• Merebut mainan milik bayi
• Menarik lengan bayi atau bahkan memukul
• Mengatakan tidak suka pada bayi atau berharap bayi tersebut pergi
Menghadapi situasi ini memang tidak mudah, tetapi tetap tenang adalah kunci utama saat balita meluapkan emosinya. Di balik perilaku tersebut, sebenarnya ada perasaan besar yang belum mampu diungkapkan dengan baik.
Alih-alih memarahi, penting untuk menunjukkan empati dan membantu balita mengenali emosinya. Kalimat sederhana seperti, “Rasanya tidak adil bahwa Mama sekarang sangat sibuk dengan bayi. Kamu merindukan saat-saat ketika Mama hanya milikmu sendiri. Sulit menunggu giliranmu agar Mama bisa bermain denganmu” dapat membantu anak merasa dipahami.
Jika balita mulai bersikap kasar terhadap bayi, arahkan dengan lembut namun tegas. Bisa menggunakan kalimat seperti, “Tolong perlakukan bayi dengan lembut. Menarik lengannya bisa menyakitkan. Jika kamu ingin menarik sesuatu, kamu bisa menarik kereta mainanmu.” Pendekatan ini membantu anak memahami batasan, tanpa merasa disalahkan.
Selain itu, penting untuk menunjukkan secara langsung, bagaimana cara menyentuh bayi dengan lembut. Tetapkan batasan yang jelas untuk menjaga keamanan bayi.
“Kamu tidak bisa memaksa balita melakukan sesuatu atau melarangnya melakukan sesuatu, tetapi kamu bisa menetapkan batasan aman dengan menggunakan pagar, atau menempatkan bayi di luar jangkauan balita,” kata Kelley Yost Abrams, Ph.D., seorang psikolog perkembangan di California.
“Balita hampir tidak memiliki kontrol impuls, jadi jangan pernah biarkan balita bermain di dekat bayi tanpa pengawasan ketat,” tambahnya.
Saat melihat balita mulai mendekati bayi dengan cara yang kurang tepat, segera arahkan dan beri contoh yang aman, seperti menyentuh bagian tubuh bayi yang tidak berisiko, misalnya jari kaki.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Kondisi ini sering disebut sebagai regresi, yaitu fase ketika anak mundur sementara ke tahap perkembangan sebelumnya, sebagai respons terhadap perubahan atau tekanan emosional.
Selain regresi, rasa cemburu juga kerap muncul, karena perhatian orang tua kini terbagi. Memahami kondisi ini penting, agar proses adaptasi berjalan lebih tenang, baik untuk anak maupun orang tua.
Apa yang harus dilakukan jika balita menunjukkan rasa cemburu pada bayi baru lahir? Selain mengalami regresi perkembangan dan perubahan perilaku, balita juga bisa memperlihatkan tanda-tanda kecemburuan terhadap adik barunya. Beberapa bentuk perilaku yang sering muncul, yaitu.
.jpg)
(Penting untuk menunjukkan secara langsung, bagaimana cara menyentuh adik bayi dengan lembut. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
• Ingin mendapatkan perhatian saat bayi sedang disusui atau diganti popoknya
• Merebut mainan milik bayi
• Menarik lengan bayi atau bahkan memukul
• Mengatakan tidak suka pada bayi atau berharap bayi tersebut pergi
Menghadapi situasi ini memang tidak mudah, tetapi tetap tenang adalah kunci utama saat balita meluapkan emosinya. Di balik perilaku tersebut, sebenarnya ada perasaan besar yang belum mampu diungkapkan dengan baik.
Alih-alih memarahi, penting untuk menunjukkan empati dan membantu balita mengenali emosinya. Kalimat sederhana seperti, “Rasanya tidak adil bahwa Mama sekarang sangat sibuk dengan bayi. Kamu merindukan saat-saat ketika Mama hanya milikmu sendiri. Sulit menunggu giliranmu agar Mama bisa bermain denganmu” dapat membantu anak merasa dipahami.
Baca Juga :
Anak Curhat Gurunya Galak? Jangan Panik, Lakukan Hal Ini Biar Mental Si Kecil Tetap Aman
Jika balita mulai bersikap kasar terhadap bayi, arahkan dengan lembut namun tegas. Bisa menggunakan kalimat seperti, “Tolong perlakukan bayi dengan lembut. Menarik lengannya bisa menyakitkan. Jika kamu ingin menarik sesuatu, kamu bisa menarik kereta mainanmu.” Pendekatan ini membantu anak memahami batasan, tanpa merasa disalahkan.
Selain itu, penting untuk menunjukkan secara langsung, bagaimana cara menyentuh bayi dengan lembut. Tetapkan batasan yang jelas untuk menjaga keamanan bayi.
“Kamu tidak bisa memaksa balita melakukan sesuatu atau melarangnya melakukan sesuatu, tetapi kamu bisa menetapkan batasan aman dengan menggunakan pagar, atau menempatkan bayi di luar jangkauan balita,” kata Kelley Yost Abrams, Ph.D., seorang psikolog perkembangan di California.
“Balita hampir tidak memiliki kontrol impuls, jadi jangan pernah biarkan balita bermain di dekat bayi tanpa pengawasan ketat,” tambahnya.
Saat melihat balita mulai mendekati bayi dengan cara yang kurang tepat, segera arahkan dan beri contoh yang aman, seperti menyentuh bagian tubuh bayi yang tidak berisiko, misalnya jari kaki.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)