FAMILY
Bukan Sekadar Main, Sensory Play Ternyata Bantu Anak Lebih Tenang dan Cerdas
A. Firdaus
Selasa 02 Juni 2026 / 11:15
- Dalam tahap tumbuh kembang anak mempelajari dua jenis kemampuan gerak utama.
- Motorik kasar berkaitan dengan penggunaan otot besar untuk berjalan, berlari, atau melompat.
- Rangsangan sensorik membantu sistem saraf anak mengatur perasaan tidak nyaman seperti gelisah, bosan, atau terlalu lelah.
Jakarta: Sensory play kini semakin sering direkomendasikan oleh pendidik dan pemerhati perkembangan anak karena dinilai mampu mendukung pertumbuhan fisik sekaligus kestabilan emosi.
Jika sebelumnya aktivitas ini lebih dikenal sebagai permainan eksplorasi biasa, kini banyak penelitian perkembangan anak menunjukkan bahwa rangsangan sensorik berperan besar dalam melatih koordinasi tubuh, terutama keterampilan motorik halus.
Dilansir dari Parents, dalam tahap tumbuh kembang anak mempelajari dua jenis kemampuan gerak utama. Motorik kasar berkaitan dengan penggunaan otot besar untuk berjalan, berlari, atau melompat. Sementara itu, motorik halus melibatkan koordinasi otot kecil, terutama pada jari dan tangan.
Kemampuan motorik halus sangat penting untuk berbagai aktivitas penting di masa sekolah, seperti menulis, menggambar, membuka tutup botol, mengancingkan baju, hingga mengikat tali sepatu.
Sensory play membantu perkembangan tersebut karena secara alami mendorong anak melakukan gerakan kecil berulang. Contohnya termasuk menuang air dari satu wadah ke wadah lain, mengambil benda kecil dengan jari, meronce, menyusun balok, atau membuat kerajinan sederhana.
Bahkan kegiatan rumah tangga seperti membantu mencuci sayuran, mengaduk adonan, atau menata sendok di meja makan dapat menjadi latihan koordinasi tangan yang efektif.
Tidak hanya berdampak pada fisik, sensory play juga dikenal memiliki efek menenangkan. Banyak orang tua memperhatikan bahwa anak menjadi lebih rileks setelah mandi air hangat, bermain air, memeluk selimut, atau melakukan aktivitas fisik lalu beristirahat.
Para ahli menjelaskan bahwa rangsangan sensorik membantu sistem saraf anak mengatur perasaan tidak nyaman seperti gelisah, bosan, atau terlalu lelah.
Oleh karena itu, memasukkan sensory play ke dalam rutinitas harian dianggap penting. Jadwal sederhana, seperti mandi sebelum tidur dan waktu bermain bebas dengan bahan aman.
Selain itu, membaca sambil berbaring nyaman atau membelai hewan peliharaan dapat membantu menciptakan kondisi emosional yang stabil.
Anak yang terbiasa dengan sensory play cenderung lebih mudah menenangkan diri dan beradaptasi dengan perubahan suasana.
Melihat manfaat yang mencakup perkembangan koordinasi, kesiapan sekolah, serta pengelolaan emosi, banyak praktisi pendidikan anak menyimpulkan bahwa sensory play bukan sekadar hiburan.
Aktivitas ini merupakan fondasi penting dalam proses belajar awal yang dapat dilakukan secara sederhana, murah, dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari keluarga modern.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Jika sebelumnya aktivitas ini lebih dikenal sebagai permainan eksplorasi biasa, kini banyak penelitian perkembangan anak menunjukkan bahwa rangsangan sensorik berperan besar dalam melatih koordinasi tubuh, terutama keterampilan motorik halus.
Dilansir dari Parents, dalam tahap tumbuh kembang anak mempelajari dua jenis kemampuan gerak utama. Motorik kasar berkaitan dengan penggunaan otot besar untuk berjalan, berlari, atau melompat. Sementara itu, motorik halus melibatkan koordinasi otot kecil, terutama pada jari dan tangan.
Melatih motorik halus anak
Kemampuan motorik halus sangat penting untuk berbagai aktivitas penting di masa sekolah, seperti menulis, menggambar, membuka tutup botol, mengancingkan baju, hingga mengikat tali sepatu.
Sensory play membantu perkembangan tersebut karena secara alami mendorong anak melakukan gerakan kecil berulang. Contohnya termasuk menuang air dari satu wadah ke wadah lain, mengambil benda kecil dengan jari, meronce, menyusun balok, atau membuat kerajinan sederhana.
Bahkan kegiatan rumah tangga seperti membantu mencuci sayuran, mengaduk adonan, atau menata sendok di meja makan dapat menjadi latihan koordinasi tangan yang efektif.
Efek sensory play untuk tenangkan anak
Tidak hanya berdampak pada fisik, sensory play juga dikenal memiliki efek menenangkan. Banyak orang tua memperhatikan bahwa anak menjadi lebih rileks setelah mandi air hangat, bermain air, memeluk selimut, atau melakukan aktivitas fisik lalu beristirahat.
Para ahli menjelaskan bahwa rangsangan sensorik membantu sistem saraf anak mengatur perasaan tidak nyaman seperti gelisah, bosan, atau terlalu lelah.
Oleh karena itu, memasukkan sensory play ke dalam rutinitas harian dianggap penting. Jadwal sederhana, seperti mandi sebelum tidur dan waktu bermain bebas dengan bahan aman.
Selain itu, membaca sambil berbaring nyaman atau membelai hewan peliharaan dapat membantu menciptakan kondisi emosional yang stabil.
Anak yang terbiasa dengan sensory play cenderung lebih mudah menenangkan diri dan beradaptasi dengan perubahan suasana.
Melihat manfaat yang mencakup perkembangan koordinasi, kesiapan sekolah, serta pengelolaan emosi, banyak praktisi pendidikan anak menyimpulkan bahwa sensory play bukan sekadar hiburan.
Aktivitas ini merupakan fondasi penting dalam proses belajar awal yang dapat dilakukan secara sederhana, murah, dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari keluarga modern.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)