FAMILY

Spill Alasan Balita Suka Lempar Barang & Cara Ngarahinnya

Yatin Suleha
Senin 01 Juni 2026 / 10:05
Ringkasnya gini..
  • Tahu gak sih, aksi lempar-lempar barang itu sebenarnya tanda kalau skill motorik halus dan kasar si kecil lagi berkembang.
  • Balita seperti ilmuwan kecil yang terus bereksperimen.
  • Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan, untuk menghadapi balita yang suka melempar.
Jakarta: Tahu gak sih, aksi lempar-lempar barang itu sebenarnya tanda kalau skill motorik halus dan kasar si kecil lagi berkembang pesat. Buat bisa melempar, balita itu butuh koordinasi yang pas antara mata dan tangan mereka.

Plus, lewat cara ini, mereka lagi eksperimen soal sebab-akibat. Memang sih mereka belum kenal istilah gravitasi, tapi mereka langsung paham efeknya: setiap benda yang dilempar, plot twist-nya bakal selalu jatuh ke bawah!

Bola bisa memantul, makanan bisa jatuh dan hancur, benda keras bisa berbunyi saat menyentuh lantai. Balita seperti ilmuwan kecil yang terus bereksperimen.

Walaupun spaghetti yang berserakan atau dot yang jatuh ke tanah terasa menyebalkan, bagi balita itu adalah pengalaman belajar yang menarik dan sesuai tahap perkembangan mereka.
   

Cara mengelola kebiasaan melempar pada balita


Kabar buruknya, fase melempar hampir tidak bisa dihentikan sepenuhnya, karena ini bagian normal dari eksplorasi. Selama tidak membahayakan diri sendiri, orang lain, atau menyebabkan kerusakan serius, perilaku ini tidak perlu dihentikan dengan hukuman keras. Fokus utama adalah mengarahkan, bukan melarang total.

Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan, untuk menghadapi balita yang suka melempar.
 

1. Tunjukkan benda apa yang boleh dilempar



(Tunjukkan contoh benda yang memang boleh dilempar, seperti kaus kaki ke keranjang cucian atau tisu ke tempat sampah. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Balita lebih cepat memahami aturan jika diberi alternatif. Sediakan benda yang aman untuk dilempar, seperti bola busa. Permainan seperti melempar bola ke keranjang, melempar kantong kain ke target, atau melempar batu kecil ke danau bisa menjadi aktivitas menyenangkan jika dilakukan bersama.

Pesan yang perlu ditanamkan adalah: melempar boleh dilakukan, tetapi harus dengan benda yang tepat, di tempat yang tepat, dan pada waktu yang tepat.
 

2. Cegah lemparan yang berbahaya atau agresif


Jika balita melempar pasir, balok, atau benda keras ke arah orang lain, segera hentikan dengan tenang. Bila lemparan terjadi karena marah atau frustrasi, akui emosinya. 

Misalnya, dengan mengatakan bahwa terlihat sedang kesal, lalu tawarkan alternatif seperti melompat, menepuk bantal, atau menarik napas dalam-dalam.

Jika kebiasaan melempar benda berbahaya terus terjadi, kurangi akses pada benda tersebut dan tingkatkan pengawasan saat bermain.
 

3. Amankan mainan saat di stroller atau kursi mobil


Saat berada di stroller atau kursi mobil, mainan bisa diikat dengan tali pendek yang aman agar tidak mudah jatuh. Pastikan tali tidak terlalu panjang dan tidak berisiko melilit.

Balita akan menyadari bahwa mainan bisa dilempar dan diambil kembali, sehingga tetap menyenangkan tanpa perlu terus-menerus mengambil dari lantai.
 

4. Bersihkan bersama dengan cara menyenangkan


Meminta balita memungut semua benda yang dilempar bisa terasa terlalu berat bagi usia mereka. Sebaliknya, ajak membereskan bersama sambil menjadikannya permainan.

Misalnya, “Ayo kumpulkan balok secepat mungkin!” atau “Siapa yang bisa menemukan potongan apel lebih dulu?” Pendekatan ini membantu membangun tanggung jawab, tanpa membuat mereka merasa dihukum.
   

5. Berikan contoh yang jelas


Balita belajar dengan meniru. Tunjukkan contoh benda yang memang boleh dilempar, seperti kaus kaki ke keranjang cucian atau tisu ke tempat sampah.

Saat terjadi lemparan yang tidak tepat, ajak berkeliling rumah untuk menunjukkan perbedaan antara yang boleh dan tidak boleh dilempar.
 

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH