FAMILY

Capek Liat Kakak Adik Konflik Terus? Ini Trik Biar Mereka Akur dan Gak Sering Drama

Yatin Suleha
Rabu 15 April 2026 / 21:05
Ringkasnya gini..
  • Pas anak-anak mulai masuk usia SD, dinamika hubungan kakak-adik biasanya ikut berubah nih.
  • Dengan pendekatan yang tepat, perselisihan bukan hanya bisa diredakan, tetapi juga menjadi sarana belajar yang berharga.
  • Berikut adalah cara yang tepat menghadapi drama kakak-adik di usia Sekolah Dasar.
Jakarta: Pas anak-anak mulai masuk usia SD, dinamika hubungan kakak-adik biasanya ikut berubah nih. Kalau dulu berantemnya cuma soal rebutan mainan, sekarang topiknya jadi lebih beragam, mulai dari urusan nilai sekolah sampai aksi saling ejek yang bikin kamu pusing kalau gak segera ditangani.

Anak-anak mulai memiliki kepribadian yang lebih kuat, pendapat yang lebih tegas, serta kemampuan berargumen yang semakin berkembang. Di fase ini, persaingan bisa terasa lebih tajam dan emosional.

Meski begitu, masa sekolah dasar juga menjadi waktu penting untuk mengajarkan kemandirian, empati, dan cara menyelesaikan konflik secara sehat.
 
Dengan pendekatan yang tepat, perselisihan bukan hanya bisa diredakan, tetapi juga menjadi sarana belajar yang berharga.

Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah cara yang tepat menghadapi drama kakak-adik di usia Sekolah Dasar.
 

1. Dorong anak menyelesaikan konflik sendiri


Saat anak usia sekolah dasar bertengkar, langkah terbaik sering kali adalah tidak langsung ikut campur. Beri kesempatan untuk mencoba menyelesaikan masalah sendiri. Sampaikan bahwa situasi mereka dipahami dan yakin solusi bisa ditemukan, lalu beri ruang.

Dalam jangka panjang, kemampuan menyelesaikan konflik secara mandiri adalah keterampilan penting. Selain melatih tanggung jawab dan komunikasi, cara ini juga membantu menciptakan suasana rumah yang lebih tenang.

Namun, tidak semua konflik bisa diselesaikan sendiri. Jika situasi memanas atau berlarut-larut, adakan pertemuan keluarga untuk membahasnya.

Berikan setiap anak kesempatan berbicara dan sampaikan kembali poin utama, dari masing-masing pendapat. Setelah itu, buka ruang untuk umpan balik dan ajak mereka memikirkan solusi bersama.

Diskusikan pilihan yang ada dan sepakati satu solusi yang bisa diterima semua pihak. Jika emosi masih tinggi, beri waktu istirahat sekitar 30 menit sebelum melanjutkan diskusi.

Pertemuan lanjutan mungkin diperlukan untuk mengevaluasi apakah solusi berjalan efektif. Lama-kelamaan, anak-anak biasanya akan lebih memilih berdamai daripada harus terus kembali ke meja diskusi.
 

2. Hindari perbandingan yang memicu persaingan



(Jika ejekan menjadi kebiasaan, adakan pertemuan keluarga untuk membahas aturan bersama. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)

Membandingkan prestasi anak sering kali terasa menggoda, terutama jika salah satu menunjukkan pencapaian akademis lebih menonjol. Namun, perbandingan justru mengirimkan pesan kompetitif yang dapat memperburuk persaingan.

Fokuslah pada perkembangan masing-masing anak. Jika nilai B- merupakan peningkatan dari nilai sebelumnya, berikan apresiasi atas usaha tersebut. Mengakui bahwa setiap anak adalah individu, berarti menetapkan tujuan sesuai kemampuan dan potensinya.

Menghargai prestasi satu anak bukan berarti mengabaikan yang lain. Jika ada anak yang kurang menonjol secara akademis, dorong pengembangan di bidang lain, seperti olahraga, seni, atau kegiatan yang diminati. 

Upaya ini membantu membangun identitas diri serta meningkatkan rasa percaya diri.

Sebagian anak langsung terlihat bakatnya, sementara yang lain membutuhkan waktu dan proses coba-coba. Kesabaran dan dukungan konsisten akan membantu menemukan bidang, yang membuat mereka merasa percaya diri dan bersinar.
 

3. Hentikan ejekan sejak dini


“Ibu lebih suka aku.” “Kamu payah.”

Ucapan seperti ini sering terdengar dalam konflik kakak-adik. Meski tampak sepele, ejekan dan hinaan dapat memperkuat persaingan serta membentuk citra diri negatif.

Berbeda dengan pendekatan yang memberi ruang pada pertengkaran ringan, ejekan sebaiknya segera dihentikan. Jika terdengar kata-kata menyakitkan, jangan langsung menegur di depan saudara lainnya.
 
Tunggu hingga situasi lebih tenang dan bicarakan secara pribadi dengan mengatakan, “Tidak boleh mengatakan hal-hal menyakitkan kepada saudaramu.”

Jika ejekan menjadi kebiasaan, adakan pertemuan keluarga untuk membahas aturan bersama. Konsekuensi yang konsisten bisa diterapkan, misalnya mengurangi waktu layar atau hak istimewa tertentu setiap kali komentar menyakitkan diucapkan.


Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH