Hingga saat ini, AI sendiri sudah merambat ke banyak sektor kehidupan di dunia, mulai dari ekosistem pertanian, keuangan, hiburan, olahraga, pendidikan, hingga seni sekalipun. Maka dari itu, ada banyak pro dan kontra dari masuknya teknologi canggih yang satu ini, dan banyak dari pegiat-pegiat ekosistem tersebut mulai menyuarakan sebuah gerakan untuk menolak teknologi AI.
| Baca Juga: Cara AMD dan Universitas AMIKOM Bawa Dampatk Positif Pendidikan dan Industri Teknologi |
Untuk banyak orang, kehadiran Teknologi AI dapat mengancam beberapa profesi yang sudah ada sejak dahulu. Salah satunya dari sektor pertanian. Universitas AMIKOM Yogyakarta kini tengah mengembangkan sebuah teknologi yang dinamakan Intelligent Flying Robot. Teknologi tersebut dikembangkan guna membantu menjaga tanaman dari hama, dan secara otomatis menyemburkan pestisida untuk menjaga tanaman yang sudah terserang hama. Intelligent Flying Robot tersebut juga sudah dilengkapi AI dan mampu mendeteksi jenis hama melalui tangkapan kamera saja, sehingga penggunaan pestisida akan selalu akurat dan tepat.
“Sekarang kami memang tengah mengembangkan sebuah teknologi yang bisa membantu para petani dalam menjaga tanaman di sawah. Intelligent Flying Robot, teknologi yang dikembangkan bersama dengan AMD ini merupakan teknologi yang bisa mendeteksi jenis hama, dan hal ini bisa terjadi karena bantuan dari teknologi AI yang sudah disematkan di dalamnya,” jelas Arief Setyanto, Wakil Rektor 4 AMIKOM Yogyakarta.
Namun, pengoperasian Intelligent Flying Robot tak bisa dilakukan seorang petani, melainkan pilot Drone yang memang sudah terbiasa menerbangkan Drone, sehingga ini menjadi salah satu polemik.
Bagaimana untuk dunia Seni? Secara singkat, seni merupakan sebuah keahlian yang mengajak para seniman membuat sebuah karya yang bermanfaat dan bermutu, dan cara untuk mengukur seni sendiri adalah dengan mengenal beberapa aspek, yakni estetika, fungsi, dan pastinya filosofi, serta bentuk dari karya yang dibuat.
Seni lukis sendiri adalah sebuah karya yang berhasil dituangkan ke dalam sebuah medium seperti kanvas, kertas, atau berbagai medium lainnya yang mampu memperlihatkan wujud karya melalui panca indera penglihatan.
Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan oleh para pembuat seni lukis menuangkan semua ide dan referensi dalam medium yang disebutkan, sehingga mereka memerlukan berbagai alat bantu, mulai dari kuas, pensi, pena, dan benda-benda lainnya.
Dengan bantuan alat tersebut, seniman atau pelukis bisa membuat wujud dari karya yang digambarnya, dan gambar tersebut bisa dilihat orang lain. Namun, untuk menciptakan sebuah karya daris seni lukis membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tidak sedikit dari para pelukis atau pembuat karya menghabiskan waktu hingga berjam-jam, hari, atau mungkin berminggu-minggu.
Berkembangnya dunia teknologi juga merambah seni. Dahulu, para pelukis atau seniman memerlukan kanvas atau minimal seutas kertas untuk menuangkan ide mereka. Kini, terbentuklah sebuah ekosistem baru dalam dunia seni, yakni seni digital.
Ekosistem ini sangat berbeda dari seni lukis konvensional, karena untuk menciptakan sebuah gambar pada seni digital, kamu memerlukan medium yang sesuai. Sederhananya adalah kamu memerlukan sebuah PC/Laptop atau mungkin sebuah tablet yang memungkinkan kamu untuk menggambar.
Kamu juga bisa hanya menggunakan smartphone untuk membuat seni lukis digital. Maka dari itu, ekosistem digital art memang merupakan ekosistem seni paling praktis yang bisa dicapai oleh para seniman modern.
Mengingat, smartphone merupakan sebuah gawai yang paling banyak dimiliki oleh sebagian besar umat manusia. Berdasarkan data tahun 2020 saja yang dikutip dari databoks, pengguna smartphone di dunia sudah mencapai 3,2 miliar, sehingga pada 2024 ini sudah semakin bertambah dan semakin banyak pengguna smartphone di dunia. Hal ini juga didasari banyaknya ilustrator baru yang mulai terjun ke dunia digital art dan terus menekuni dunia seni modern yang satu ini.
Dalam ekosistem digital art juga dibagi menjadi beberapa tipe seni, yakni sebagai berikut:
- Vector Art
- WPAP (Wedha’s Pop Art Portrait)
- Line Art
- Typography
- Karikatur
- Silhouette
Tipe yang pertama dalam Vector Art, digital art ini merupakan sebuah seni tidak luput dari berbagai kurva dan juga garis. Seniman yang menciptakan Vector Art akan membuat karya seni yang bersifat seperti kartun tetapi masih memiliki kesan yang lebih nyata. Kemudian, WPAP yang merupakan sebuah seni yang berkaitan dengan potret wajah yang dibalut dengan berbagai garis menyilang secara geometri.
Selain itu, karya ini juga selalu melibatkan berbagai warna sebagai aspek yang menambahkan sebuah keindahan dan nilai estetika. Masuk ke Line Art yang selalu digunakan oleh para arsitek, karya ini merupakan sebuah gambar yang diciptakan mendasari berbagai garis tegas berwarna hitam, dan sifat dari karya ini sangat jauh dari sebuah sketsa, sehingga selalu berkaitan dengan penggambaran sebuah bangunan.
Sementara itu, Typography merupakan sebuah seni yang selalu berkaitan dengan huruf, dan memang berdasarkan nama dari jenis ini akan menyusun huruf atau angka menjadi sebuah karya. Untuk karikatur sendiri pastinya banyak yang sudah tidak awam dengan jenis digital art yang satu ini, karikatur merupakan sebuah karya seni yang sedikit mirip dengan jenis WPAP, hanya saja karikatur merupakan jenis digital art yang sangat menonjolkan sifat kartun dalam karyanya.
Terakhir, Silhouette adalah sebuah jenis karya terbentuk dari mayoritas berwarna hitam. Menyerupai sebuah bayangan yang membentuk sebuah objek, dan estetika dari sebuah karya silhouette adalah bentuk dari bayangan yang diciptakan.
Mengingat digital art merupakan sebuah seni yang selalu berkaitan dengan teknologi, maka digital art juga menjadi salah satu ekosistem yang sudah terpengaruh dari hadirnya teknologi AI. Bahkan, pada dunia digital art yang berkaitan dengan AI sudah menghasilkan berbagai produk yang sudah bisa dipakai oleh publik, diantaranya adalah Stable Diffusion dan juga MidJourney. Keduanya bisa diakses secara umum, dan para pengguna bisa menghasilkan sebuah karya digital secara instan.
Kecanggihan ini juga semakin disuarakan oleh berbagai brand teknologi yang berkaitan dengan komputasi di dunia. Salah satunya adalah Intel, melalui George Chako, Intel Director, Global Account (Lenovo) Asia Pacific & Japan mengatakan bahwa pada era digital seperti sekarang, seharusnya semua orang sudah seharusnya memanfaatkan teknologi AI. Bahkan, ia juga menegaskan bahwa orang-orang yang tidak memanfaatkan AI, maka mereka adalah kaum minoritas.
| Baca Juga: Intel: Kamu tak Pakai AI, Kamu Minoritas |
“AI sudah berhasil merubah cara kita bekerja, dan dengan AI pola produktivita juga sudah berhasil diubah menjadi sebuah pola yang jauh lebih praktis dan efisien. Maka dari itu, jika kamu tidak menggunakan AI, maka kamu adalah minoritas,” ungkap George Chako pada panggung Lenovo Innovate 2024 yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand.
Hingga saat ini, banyak dari produk komputasi yang mengembangkan sebuah teknologi untuk memanfaatkan AI, sehingga mampu memberikan banyak kemampuan instan yang bisa dirasakan oleh para penggunannya. Salah satu yang selalu didorong oleh para pengembang adalah AI Image-Generated.
Secara singkat, AI Image-Generated merupakan sebuah aktivitas yang hanya bisa dilakukan oleh AI. Secara singkat, untuk mengaktifkan fitur atau teknologi ini, pengguna hanya perlu untuk menuliskan berbagai kata atau kalimat yang bersifat secara deskriptif, dan perangkat lunak yang sudah disematkan dengan teknologi AI akan secara instan menghasilkan sebuah gambar dengan jangka waktu yang instan.
Prompting merupakan sebuah istilah yang digunakan oleh para pengguna untuk menghasilkan sebuah gambar atau digital art. Jadi, para pengguna hanya tinggal mendeskripsikan sesuatu secara rinci, maka hal karya digital art berbasis AI sudah berhasil dibuat.
Ini menjadi sebuah kepraktisan dan kemudahan yang sangat membantu bagi para pengguna internet yang ingin membuat karya digital art dengan mudah, bahkan karya tersebut bisa diklaim secara gratis sebagai karya milik pribadi. Hal ini menjadi salah satu polemik yang juga muncul dari hadirnya AI dan kemudahannya dalam dunia seni.
Selain itu, Belinda Widgery, Asia Consumer Channel and Partner Marketing Lead Microsoft Asia Pacific memperkenalkan sebuah teknologi baru yang dikembangkan atas nama Microsoft dan bisa digunakan oleh para pengguna PC atau laptop dengan sistem operasi Windows, yakni Copilot. Secara sederhana, Copilot merupakan sebuah teknologi berbasis AI yang mampu memudahkan para pengguna komputer, dan Copilot hadir memang untuk memberikan sebuah kepraktisan yang dicari oleh para penggunannya.
| Baca Juga: Copilot Hadir Demi Permudah Produktivitas Sehari-Hari |
Salah satu kemampuan Copilot adalah untuk menghasilkan sebuah kemampuan dalam melakukan AI Image-Generated. Jadi, pengguna akan semakin praktis untuk melakukan sebuah pembuatan gambar AI dengan mudah. Stable Diffusion dan MidJourney merupakan produk AI yang bisa diakses jika kamu memiliki koneksi internet.
Namun, berbeda dengan Copilot, teknologi yang dikembangkan oleh Microsoft ini bisa digunakan tanpa menggunakan koneksi internet. Bahkan, pada panggung yang sama seperti George Chako sebelumnya, Belinda menggunakan hasil dari pembuatan menggunakan AI Image-Generated, yakni pada layar bagian belakang dirinya.
“Salah satu bentuk yang bisa dibuat melalui AI Image-Generated adalah di belakang saya. Hasil gambar ini diciptakan hanya menggunakan AI. Saya hanya menulis prompting yang saya inginkan, dan dengan instan saya bisa menciptakan diri saya dalam dunia animasi bersama dengan anjing kesayangan saya,” jelas Belinda Widgery terkait kemudahan penggunaan AI dalam membuat sebuah karya gambar.
Salah satu dampak yang pada akhirnya terjadi yang bersumber dari sebuah kemudahan AI yang memungkinkan para pengguna untuk membuat karya secara instan adalah para seniman merasa bahwa teknologi tersebut justru menjadi salah satu ancaman yang bisa saja mematikan profesi mereka sebagai seniman lukis, atau bahkan digital artist. Terdapat berbagai contoh suara para seniman yang mengatakan bahwa AI akan secara perlahan mematikan profesi mereka.
Pada awal Januari 2024, platform media sosial X (Twitter) sempat viral dengan tagar yang bertuliskan #TolakGambarAI. Secara singkat, gerakan tersebut merupakan sebuah aksi perlawan para ilustrator dan seniman yang berupaya melawan kemudahan AI dalam menciptakan sebuah karya. Salah satu tuntutan yang memang disuarakan oleh para seniman itu adalah keadilan dan kehormatan sebagai seniman yang menciptakan karya dalam jangka waktu yang tidak instan.
Kemudian, terdapat sebuah laman yang dinamakan ‘Create Don’t Scrape’ merupakan sebuah laman yang juga disisipkan pada poster #TolakGambarAI. Pada laman tersebut, para pengunjung akan diperlihatkan berbagai informasi terkait Laion Database, Data Laundering, dan salah satunya adalah Generative AI. Pada laman tersebut, pengunjung bisa melihat berbagai informasi yang menegaskan bahwa AI merupakan sebuah teknologi yang membunuh banyak profesi, salah satunya adalah seniman.
Sementara itu, terdapat sebuah temuan yang memang dikemukakan oleh Google pada gelaran Google Cloud Next 24 yang diselenggarakan di Las Vegas. Secara singkat, Imagen 2 merupakan sebuah teknologi yang dilandaskan dengan kemampuan Artificial Intelligence, sehingga memiliki kemampuan yang mirip dengan MidJourney, yakni menghasilkan foto dari teks menjadi gambar.
Google menegaskan bahwa setiap gambar yang dibuat menggunakan Imagen 2, maka gambar tersebut sudah sepenuhnya miliki orang atau perusahaan yang membuatnya tidak melanggar hak cipta, dan untuk mendapatkan gambar tersebut juga tidak gratis. Hal ini diterapkan oleh Google dengan tujuan memudahkan perusahaan mendapatkan logo, mblem, atau berbagai elemen yang membutuhkan gambar dengan mudah.

Salah satu karya AI yang memang sempat menggemparkan adalah karya dari seorang seniman asal Jerman yang memang tengah melakukan sebuah eksperimen. Boris Eldagson, ia secara sengaja membuat sebuah karya melalui AI. Kemudian, Eldagson juga mengumpulkan karya tersebut sesuai dengan regulasi yang sudah ditetapkan oleh penyelenggara acara tersebut.
Secara tidak diduga-duga, Eldagson berhasil memenangkan penghargaan tersebut. Tindakan ini merupakan sebuah tindakan yang dilakukan Eldagson guna melakukan sebuah eksperimen dengan menggunakan hasil karya AI dan disandingkan dengan karya sungguhan lainnya. Namun, Eldagson sendiri sudah mengatakan bahwa ia menggunakan AI dan tidak akan menerima penghargaan tersebut.
Dari tindakan yang dilakukan seniman Jerman tersebut bisa dikatakan bahwa kemampuan AI sendiri bisa sangat mengerikan, karena memang bisa menghadirkan karya yang natural seperti apa yang sudah diciptakan oleh Boris Eldagson. (Christopher Louis)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News