Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa (Tyto alba). (Medcom.id/Arthurio Oktavianus Arthadiputra)
Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa (Tyto alba). (Medcom.id/Arthurio Oktavianus Arthadiputra)

Wisata Pintar ke Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa

Rona wisata edukasi
Arthurio Oktavianus Arthadiputra • 28 Desember 2019 15:05
Yogyakarta: Musim liburan tiba. Para traveler pasti mulai mencari destinasi menarik yang akan dikunjungi sendiri ataupun bersama teman dan keluarga. Bila sedang berada di Kota Yogyakarta, para traveler bisa memilih Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa (Tyto alba).
 
Selain bisa menikmati suasana persawahan yang hijau, di sini pengetahuan Anda juga bisa bertambah. Berlokasi di Dusun Cancangan, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa tidaklah sulit ditemukan, berjarak 12 km dari kota Yogyakarta atau sekitar 27 menit menggunakan kendaraan bermotor.
 
Tepatnya, bila sudah tiba di SD Cancangan, ada papan nama yang menjadi patokan. Kemudian, masuk sekitar 200 meter ke arah timur. Rumah limasan dengan patung serak jawa yang berada di tepi sawah, menjadi petunjuk lokasi bahwa traveler tak salah arah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Apa itu serak jawa?
 
Bagi orang kebanyakan, pasti akan bertanya-tanya apa itu Serak Jawa. Nah, berwisata pintar dimulai. Serak jawa adalah satu jenis burung hantu yang dapat berfungsi sebagai pemangsa hama tikus di persawahan warga.
 
Selama ini burung hantu melekat dengan mitos pembawa tanda kesialan atau musibah yang ditakuti dan menjadi musuh, sehingga harus dijauhi bahkan dimusnahkan. Padahal, keberadaan burung hantu jenis serak jawa bisa menjadi penjaga ekosistem yang berguna bagi para petani.
 
Menurut Lim Wen Sin, Wakil Ketua Raptor Club Indonesia (RCI) sekaligus pengelola Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa, saat ini ada 14 gupon (kandang) yang tersebar di lokasi persawahan warga, dan 11 pasang Tyto alba.
 
“Sebagai burung pemburu, serak jawa akan mencari tikus di persawahan sebagai mangsanya,” kata Lim Wen Sin, Jumat, 27 Desember 2019.
 
Dengan begitu, para petani tidak perlu menggunakan pestisida beracun untuk membasmi hama tikus. Karena, dengan sendirinya burung serak jawa akan memainkan perannya sebagai pemburu tikus guna memenuhi kebutuhan sumber makanannya.
 
Bila penggunaan pestisida beracun sudah bisa dikurangi bahkan tidak digunakan lagi di persawahan, otomatis bulir-bulir padi hasil panen tidak terpapar kandungan pestisida. Lahan persawahan juga tidak terganggu kegemburannya.
 
Bavit Margo Utomo, Ketua Kelompok Tani Margomulyo Dusun Cancangan, mengatakan bahwa dengan keberadaan burung serak jawa di daerahnya, saat ini warga Dusun Cancangan sudah menggunakan pupuk agen hayati, sehingga hasil panen lebih nyaman saat dikonsumsi dan aman bagi ekosistem.
 
Larangan berburu
 
Keberadaan Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa di Dusun Cancangan juga mampu menggugah kesadaran warga untuk tidak berburu di lingkungan sekitar.
 
“Kalau ada warga yang kita lihat membawa senapan berburu di sekitar lingkungan sini, langsung kita datangi dan beri pengertian bahwa dilarang berburu di daerah sini,” tutur Lim Wen Sin.
 
Menurutnya, meski sudah dipasang papan tanda bertuliskan dilarang berburu, warga Dusun Cancangan masih mendapati beberapa orang yang tidak mengindahkan larangan tersebut. Terutama warga yang berasal dari luar dusun.
 
Bila perburuan dibiarkan dan pelaku pemburu tidak ditegur, lanjut Lim Wen Sin, dapat mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada di alam, terutama di kawasan Dusun Cancangan sendiri.
Wisata Pintar ke Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa
Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa (Tyto alba). (Medcom.id/Arthurio Oktavianus Arthadiputra)
 
Belajar tentang alam
 
Rumah limasan yang menjadi tempat berkumpul warga sekaligus “kantor” untuk menerima tamu yang berkunjung ke Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa, juga dipenuhi dengan tanaman yang bermanfaat untuk bahan masakan ataupun ramuan obat.
 
Samuele, pengunjung asal Italia bahkan diajak untuk memetik tomat yang ditanam secara organik tanpa penggunaan pestisida. Musisi indie tersebut tampak sangat senang saat menyusuri pematang sawah, menuju lokasi kebun tomat.
 
Menurut Lennart, mahasiswa Delft Belanda, berkunjung ke Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa tidak hanya berwisata menyusuri hijaunya persawahan, tetapi juga belajar tentang alam.
 
“Banyak pengetahuan tentang tanaman bermanfaat yang dibagikan di sini, selain tentang Tyto alba. Edukasi seperti ini sangat bermanfaat sekali,” katanya.
 
Memiliki lokasi yang berada di area persawahan, berwisata ke Pusat Studi dan Konservasi Serak Jawa dapat menghapus kejenuhan pengunjung akan rutinitas pekerjaan. Pemandangan hijau pepohonan dan sawah bisa membuat pengunjung refreshing sejenak dari macetnya perkotaan.
 
Tempat ini juga bisa dijadikan sebagai tempat penelitian bagi para pelajar dan orang-orang yang
berkecimpung dalam dunia pendidikan. Bisa didatangi secara berkelompok maupun sendirian. Bila ingin berkunjung, bisa menghubungi nomor kontak 0816884806. Pengelola dan warga sangat terbuka untuk menyambut pengunjung yang datang.
 
 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif