Ilustrasi--nyamuk Aedes Albhopictus. (AFP/APU GOMES).
Ilustrasi--nyamuk Aedes Albhopictus. (AFP/APU GOMES).

Mengenal Penyakit Chikungunya

Rona virus chikungunya
Sunnaholomi Halakrispen • 10 Juli 2019 07:13
Puluhan penduduk di Desa Pasarean, Kecamatan Pamijahan, Bogor menderita penyakit chikungunya. Kepala Dinkes Kabupaten Bogor Mike Kaltarina mengungkapkan meningkatkan status menjadi waspada.
 

Jakarta: Baru-baru ini, penyakit chikungunya mewabah di area Desa Pasarean, Kecamatan Pamijahan, Bogor. Puluhan korban terdeteksi, bahkan mencapai lebih dari 80 orang yang mengalami dampak dari gigitan nyamuk Aedes Albhopictus itu.
 
Selain mudah menyerang anak-anak, penyakit ini juga menyerang orang dewasa hingga usia lansia. Sejak pertengahan Mei 2019, Kepala Dinkes Kabupaten Bogor Mike Kaltarina mengungkapkan statusnya belum menjadi kejadian luar biasa (KLB), melainkan peningkatan status menjadi waspada.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk lebih bersikap waspada diri beserta keluarga, kenalilah lebih detil tentang penyakit ini. Berdasarkan data yang tercantum di laman Depkes, gejala chikungunya bisa saja terlihat mirip dengan gejala demam berdarah dengue.
 
Di antaranya, muncul demam secara mendadak, menggigil, mual, muntah, nyeri punggung. Selain itu, muka kemerahan serta ada bitnik kemerahan di sekitar badan.
 
Biasanya, yang paling sering terjadi, timbul nyeri sendi di siku, lutut, pergelangan kaki, dan sendi-sendi kecil di pergelangan tangan dan kaki yang berlangsung beberapa hari sampai satu minggu. Ini gejala yang sangat spesifik untuk penyakit Chikungunya.
 
Sederhananya, demam disertai nyeri sendi. Kasus terparah, kondisi tubuh menjadi kaku, bengkak pada sendi, hingga merasa seolah-olah lumpuh dalam waktu tertentu.
 
Meskipun tidak menimbulkan kematian, serangan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dapat menimbulkan kepanikan dan ketakutan masyarakat. Masa inkubasi penyakit ini biasanya selama 3 hingga 11 hari.
 
Dr. Rita Kusriastuti, M.Sc., Kepala Sub Direktorat Arbovirosis Direktorat Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PPM dan PL menyatakan, penanganan chikungunya dengan vaksin atau obat pembasmi virus belum ada. Cara paling tepat hanyalah dengan melakukan pencegahan.
 
Sama halnya dengan pencegahan diri terhadap penyakit lain yang ditularkan oleh nyamuk. Lindungi diri dari gigitan nyamuk menggunakan penangkal nyamuk, lotion anti nyamuk, atau penggunaan kelambu.
 
Anda juga bisa melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan menutup, menguras dan mengubur wadah yang bisa menampung air. Kemudian, taburkan bubuk abate pada penampungan air seperti untuk mencegah demam berdarah.
 
Memang tidak ada pengobatan spesifik bagi penderita chikungunya. Terpenting, minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit yang bisa dibeli di toko obat atau apotek. Jangan lupa untuk istirahat yang cukup, serta konsumsi minuman dan makanan bergizi.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif