Pasien yang memiliki kondisi medis tertentu tidak dapat melakukan tindakan sirkumsisi. Itu dikarenakan bisa berisiko terjadinya komplikasi. (Foto Ilustrasi: Its me/Pexels)
Pasien yang memiliki kondisi medis tertentu tidak dapat melakukan tindakan sirkumsisi. Itu dikarenakan bisa berisiko terjadinya komplikasi. (Foto Ilustrasi: Its me/Pexels)

Pentingnya Melakukan Sunat atau Sirkumsisi

Rona sunatan
Raka Lestari • 25 Juni 2019 19:13
Ada dua cara melakukan sunat. Yaitu dengan cara konvensional yaitu memotong kulit yang menutupi glans penis dan juga smart clamp, yang menggunakan metode menghentikan darah ke preputium.
 
Jakarta: Khitan, sunat, atau sirkumsisi pada dasarnya adalah pemotongan sebagian dari preputium (kulit yang menutupi penis), sehingga keseluruhan glans penis menjadi terlihat. Tindakan ini biasa dilakukan pada usia anak-anak menjelang akil balig pada umat Islam.
 
Namun, kini tak jarang juga orangtua yang mengajak anak laki-lakinya untuk dikhitan sejak usia balita. Meskipun tanpa adanya indikasi medis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bagi anak yang sudah melakukan sirkumsisi, tentu banyak manfaat yang didapat. Sirkumsisi bisa menurunkan risiko terjadinya infeksi pada saluran kemih, menjaga terjadinya balanitis dan balanopostitis," ujar dr. Yessi Eldiyani, Sp. BA, Dokter Spesialis Bedah Anak di RS Pondok Indah - Bintaro Jaya.
 
Lebih lanjut, dr. Yessy mengatakan bahwa sirkumsisi dapat mencegah terjadinya fimosis dan paraphimosis. Yaitu ketika kulup tidak bisa ditarik kembali dan terjebak di sekitar ujung penis.
 
Terdapat dua cara tindakan operasi bedah sirkumsisi yang biasa dilakukan. Yakni dengan cara konvensional dan smart clamp.
 
Cara pertama (konvensional) adalah dengan memotong kulit yang menutupi glans penis, kemudian menjahitnya. Sementara smart clamp adalah metode menghentikan aliran darah ke preputium, sehingga preputium akan mengalami kematian dan terlepas sendiri.
 
Kekurangan dari smart clamp adalah pengerjaannya membutuhkan waktu yang lebih lama bila dibandingkan dengan cara kovensional. Sebelum melakukan tindakan sirkumsisi, anak akan diberikan anestesi lokal. Sedangkan pada tindakan sirkumsisi yang dilakukan saat bayi dan balita, biasanya diberikan anestesi umum, supaya memudahkan dokter untuk melakukan tindakan.
 
Pasien yang memiliki kondisi medis tertentu tidak dapat melakukan tindakan sirkumsisi. Itu dikarenakan bisa berisiko terjadinya komplikasi.
 
"Beberapa kondisi medis tertentu tersebut seperti adanya hipospadia di muara uretra yang terletak tidak pada ujung penis, tetapi pada bagian ventral penis," ujar dr.Yessi.
 
Hipospadia adalah kondisi di mana pasien seakan-akan telah disunat dari dalam kandungan. Kemudian pasien dengan kondisi epispadia, berkebalikan letaknya dengan hipospadi yaitu di bagian dorsal penis, dengan gejala yang sama.
 
Pasien yang memiliki kelainan pembekuan darah seperti hemophilia dan anemia aplastik juga tidak dapat melakukan tindakan sirkumsisi. Maka dari itu, ada baiknya tindakan sirkumsisi dilakukan di rumah sakit bersama dokter spesialis bedah umum atau dokter spesialis bedah anak.
 
"Hal tersebut berguna agar apabila ditemukan adanya kelainan organ atau kondisi medis tertentu, dokter dapat memberikan penjelasan dan penanganan yang lebih tepat," tutup dr. Yessi.
 
Tradisi Unik Sunatan Anak Diiringi Kuda Kencak

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif