Semua orang dengan gejala yang mungkin adalah sifilis sebaiknya segera melakukan tes. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Semua orang dengan gejala yang mungkin adalah sifilis sebaiknya segera melakukan tes. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Beberapa Tes yang Dilakukan untuk Menguji Sifilis

Rona penyakit sifilis
Raka Lestari • 24 Februari 2020 09:00
Jakarta: Sifilis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Treponema Pallidum. Gejala sifilis diawali dengan munculnya luka yang tidak terasa sakit di area kelamin, mulut, atau dubur.
 
Luka pada area kelamin yang menjadi gejala sifilis seringnya tidak terlihat dan tidak terasa sakit sehingga tidak disadari oleh penderita. Untuk itu, penting sekali dilakukan pemeriksaan sifilis jika gejala-gejala tersebut muncul. 
 
Dr. Anthony Handoko, SpKK, FINDSV, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin sekaligus CEO Klinik Pramudika menjelaskan, “Terdapat empat tahap pemeriksaan terhadap sifilis. Pertama adalah pemeriksaan fisik pada selaput lendir dan kulit pada stadium primer dan sekunder. Kedua, pemeriksaan lab serologi darah yang lazim digunakan untuk skrining awal dan lanjut. Ketiga, pemeriksaan Dark-Field Microscopy. Dan keempat, pemeriksaan CSF/Carian Serebrospinal pada Neurosifilis.”  

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Metode paling tepat untuk mendiagnosa adanya sifilis tentu dengan memvisualisasikan bakteri Treponema pallidum melalui mikroskop lapangan gelap atau darkfiel. 
 
Namun teknik ini sudah jarang dilakukan. Lebih umum menggunakan tes darah. Dua jenis tes darah yang harus dilakukan untuk mendiagnosa Sifilis yaitu: 

1. Nontreponemal test 

(contoh: VDRL dan RPR) 

Tes ini sederhana, tidak mahal dan sering digunakan untuk screening awal. Tes ini bukan tes sifilis secara spesifik dan tidak boleh dijadikan acuan diagnosa sifilis. Orang yang tes nontreponemalnya bersifat reaktif harus segera melakukan tes treponemal untuk mengonfirmasi diagnosa sifilis. Urutan pengujian ini (nontreponemal lalu treponemal) dianggap sebagai algoritma tes klasik.  

2. Treponemal test 

(contoh: FTA-ABS, TP-HA, Elisa, chemiluminescene immunoassays, immunoblots, dan rapid treponemal assays)
Tes ini mampu mendeteksi antibodi yang spesifik pada sifilis. Antibodi treponemal muncul lebih awal dari antibodi nontreponemal dan biasanya tetap dapat dideteksi seumur hidup, bahkan setelah perawatan yang berhasil. 
 
Jika tes treponemal digunakan untuk skrining dan hasilnya positif, tes nontreponemal dengan titer harus dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosis dan memandu keputisan manajemen pasien. Urutan pengujian ini (treponemal lalu nontreponemal) dianggap sebagai algoritma pengujian terbalik. Hal ini menguntungkan untuk laboratorium.  
 
Semua orang dengan gejala yang mungkin adalah sifilis sebaiknya segera melakukan tes. Semua orang yang memiliki pasangan yang teridentifikasi sifilis juga harus segera melakukan tes. 
 
Namun beberapa kelompok yang harus secara rutin melakukan tes sifilis adalah: ibu hamil, orang yang aktif secara seksual atau yang homoseksual, orang dengan HIV dan aktif secara seksual, serta orang yang melaksanakan PrEP untuk mencegah HIV. 
 
(TIN)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif