Di dua tahun pertama, anak perlu mengonsumsi asupan protein hewani mengingat kandungan asam amino esensial terlengkap. (Foto: Pixabay.com)
Di dua tahun pertama, anak perlu mengonsumsi asupan protein hewani mengingat kandungan asam amino esensial terlengkap. (Foto: Pixabay.com)

Stunting Terjadi karena Kurangnya Informasi

Rona stunting
Kumara Anggita • 23 Januari 2019 14:07
Jakarta: Angka stunting di Indonesia sudah menurun menjadi 30,8 persen, namun angka ini masih jauh di atas ambang yang ditetapkan WHO sebesar 20 persen. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan memenuhi kebutuhan gizi yang lengkap pada anak di dua tahun pertama.
 
Stunting terjadi pada berbagai kalangan, termasuk kalangan dengan ekonomi yang baik. Hal ini karena kurangnya informasi mengenai bagaimana melengkapi asupan gizi pada anak.
 
“Pemenuhan gizi yang lengkap pada dua tahun pertama masa kehidupan memiliki peran krusial. Setelah pemberian ASI eksklusif pada tahun pertama kehidupannya, anak membutuhkan makanan pendamping dengan karbohidrat, lemak, dan protein,” tutur Dokter Anak Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik pada Anak, Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA (K) di Jakarta, Rabu, 23 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selama ini, masyarakat Indonesia suka salah kaprah dengan memberi makanan yang kebanyakan terdiri dari sayur dan buah pada Anaknya.
 
(Baca juga: Menurunkan Angka Stunting Bukan Hanya Tugas Pemerintah)
 

(Acara MilkVersation Hari Gizi Nasional-Investasi Protein, Stunting, dan Upaya Selamatkan Generasi Mendatang di Jakarta, 23 Januari 2019. Foto: Dok. Medcom.id/Kumara Anggita)
 
Padahal di dua tahun pertama, anak perlu mengonsumsi asupan protein hewani mengingat kandungan asam amino esensial terlengkap berada di dalamnya.
 
“Tren orang Indonesia adalah memberi makan anak pisang dan sayuran lainnya. Salah kaprah sayur mayur dikasih banyak, itu serat,” tutur Dr. Damayanti.
 
“Makanan pendamping harus sesuai dengan nutrisi di ASI. Karbohidrat, lemak, dan protein yg dibutuhkan anak,” lanjutnya.
 
Dr. Damayanti kemudian menambahkan bahwa sesungguhnya anak boleh mengonsumsi lemak melalui minyak. Banyak kalangan awam yang menganggap bahwa minyak tidak baik bagi kesehatan anak.
 
“Minyak dalam makanan tidak masalah, santen juga tidak masalah,” tuturnya
 
Dr. Damayanti menghimbau masyarakat agar memerangi stunting misalnya dengan memperbaiki asupan nutrisi yang cukup, lengkap dan seimbang, khususnya pada protein hewani. Selain itu juga pastikan anak mendapatkan tidur yang cukup.
 
“Pastikan bayi dan batita mendapatkan deep sleep pada jam 23-02 setiap hari,” tuturnya.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi