Mi instan sering disalahkan atas banyak penyakit. Apakah anggapan ini benar? Prof. dr. Ari Fahrial Syam menjawabnya. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Mi instan sering disalahkan atas banyak penyakit. Apakah anggapan ini benar? Prof. dr. Ari Fahrial Syam menjawabnya. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Kenapa Mi Instan Selalu Disalahkan Saat Ada Penyakit?

Rona kesehatan pencernaan
Kumara Anggita • 01 Juli 2020 16:19
Jakarta: Mi instan adalah salah satu makanan yang paling sering disalahkan ketika seseorang terkena penyakit. Hal ini membuat orang-orang jadi takut untuk mengonsumsinya atau bahkan tidak mengonsumsinya sama sekali. Namun apakah anggapan ini benar dan perlu dipertahankan? 
 
Prof. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP merupakan seorang dokter spesialis penyakit dalam-Gastroenterologi-Hepatologi mengungkapkan bahwa kita tak boleh langsung menyalahkan mi instan seutuhnya ketika seseorang memiliki permasalahan kesehatan terutama di bagian saluran pencernaan atas. Ini karena suatu penyakit bisa muncul karena berbagai faktor.
 
“Mungkin ada hidup tidak sehat, dan mungkin konsumsinya berlebihan. Misalnya tiga bungkus sehari. Kemudian minum kopi, soda. Hal-hal ini memang bisa memperburuk saluran pencernaan atas,” ungkapnya dalam Instagram Live dengan tema Apa Kata Dokter: Berbagai Pertanyaan Seputar Konsumsi Mie Instan 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal yang perlu diingat untuk menjaga kesehatan adalah dengan selalu membaca informasi nilai gizi yang biasanya tertera pada produk. Di sana Anda bisa menimbang apakah suatu makanan itu baik atau buruk untuk dikonsumsi.
 
Mi instan secara keselurahan adalah makanan yang bisa dimakan. Namun mungkin Anda perlu mempertimbangkan beberapa hal seperti: 

1. Kalori

“Misalnya, pertama satu bungkus mi instan ini mengandung 380 Kkal Kita bicara tentang kalori dulu. Ini artinya mi saja. Kadang kan masyarkat kan menggunakan mi ini seperti sayur. Seperti lauk. Maksudnya ditambahin lagi nasi. Belum tambah telur lagi. Jadi artinya satu makan mi ini, seseorang sudah mengonsumsi seperti makan full,” paparnya.
 
“Apabila dikonsumsi tiga kali. Pasti dia akan mendapat kalori yang berlebihan,” tambahnya.

2. Lemak dan protein

“Kemudian liat lagi komponennya. Ternyata ada nilai lemak yang cukup tinggi. Lemaknya 21 persen. Ini baru satu bungkus. Kalau tiga bungkus sehari, berarti kebutuhan lemaknya sudah terpenuhi dalam satu hari namun nilai protein yang kurang. Karena protein hanya 13 persen,” jelasnya.
 
Bila seseorang rajin makan mi instan tanpa memenuhi kebutuhan gizi lainnya maka hasilnya seseorang bisa kekurangan gizi. Hal ini tentunya akan menganggu kesehatan Anda. “Jadi kalau jangka panjang, dia bisa kekurangan gizi,” jelasnya.

3. Natrium

Sebelumnya juga sempat ada berita bahwa orang tua stroke habis makan mi isntan. Hal ini mungkin saja terjadi karena menurut Prof. Ari, dalam satu bungkus mi instan terdapat cukup banyak natrium. 
 
“Habis makan mi, orang storke. Bisa. Karena memang natriumnya besar sekali. Di sini natriumnya 1 gram. Jadi 1070 mg sedangkan kebutuhan kita orang normal sehari-hari itu hanya sekitar 1,5 gram-2 gram. Jadi artinya, kalau kita konsumsi dua, sudah berlebihan natrium yang kita konsumsi sehari. Tambah lagi tiga,” ujarnya.
 
“Kita tahu natrium ini bisa tingkatkan asam lambung. Belum lagi kalau bicara hipertensi. Mungkin orang darahnya sudah tinggi, makan lagi garam-garam,” jelasnya.
 
Bila Anda tetap ingin memakannya, pastikan Anda tidak makan natriumnya berlebihan. “Bumbunya setengah saja. Kalau bumbunya setengah paling tidak asupan natriumnya bisa kita kurangi,” jelasnya.

4. Bahan pengawet

“Belum lagi pengawetnya. Kalau konsumsinya berlebih-lebihan akan jadi masalah,” paparnya. Jadi, kita tak boleh menyalahkan langsung semua penyakit pada mi instan. Kita harus lihat kondisi dulu, apakah kita punya penyakit bawaan yang akan terpicu oleh kandungan yang ada di mi instan atau tidak.
 
“Jadi kembali lagi. Makanan ini boleh dikonsumsi tapi kondisi kita bagaimana? Kalau penderita hipertensi ya hati-hati. Natriumnya tinggi. Begitu juga dengan orang yang memiliki penyakit mag lagi kambuh. Kalau lagi akut, kan ada unsur ragi, bisa mengganggu magnya,” jelasnya.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif