Apakah perubahan musim dan covid-19 berhubungan? Berikut informasinya. (Foto: Pexels.com)
Apakah perubahan musim dan covid-19 berhubungan? Berikut informasinya. (Foto: Pexels.com)

Covid-19 Bakal Mati di Musim Panas?

Rona virus corona covid-19 perubahan musim dan covid-19
Sunnaholomi Halakrispen • 08 April 2020 14:28
Jakarta: Penelitian yang diluncurkan oleh fisikawan di The University of Utah, dirancang untuk membantu pejabat kesehatan masyarakat memahami bagaimana covid-19 (new coronavirus) akan bereaksi ketika musim berubah. Satu pertanyaan besar, apakah musim panas akan memperlambat penyebarannya?
 
"Coronavirus menyebar mirip dengan virus influenza, ketika tetesan lendir kecil menggantung di udara. Virus kehilangan infektivitas karena partikel kehilangan integritas struktural," ujar fisikawan Universitas Utah, Saveez Saffarian dilansir dari Live Science.
 
"Keterkaitan fisika tentang bagaimana butiran-butiran berevolusi dalam kondisi temperatur dan kelembapan yang berbeda memengaruhi seberapa infeksi itu," tambahnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bersamaan dengan fisikawan Michael Vershinin, Saffarian, baru saja menerima hibah hampir USD200 ribu dolar National Science Foundation (NSF) untuk memelajari bagaimana cangkang luar pelindung virus merespons perubahan panas dan kelembapan. 
 
Virus tidak dapat melakukan apa pun sendiri.
 
Sebab, katanya, hanyalah cangkang dengan instruksi genetik yang terselip di dalamnya. Ketika virus menyerang sel inang, virus menggunakan mesin sel itu untuk mereplikasi dirinya sendiri, berulang-ulang.
 
Penelitian ini melibatkan bekerja dengan versi tiruan dari kulit luar pelindung virus. Menggunakan genom berurutan dari SARS-CoV-2 (penyebab covid-19), para peneliti sedang membangun versi sintetis dari cangkang ini, tanpa genom virus di dalamnya. Ini membuat cangkang tidak menular dan aman untuk digunakan.
 
"Kami membuat replika yang setia dari kemasan virus yang menyatukan semuanya. Idenya adalah untuk mencari tahu apa yang membuat virus ini berantakan, apa yang membuatnya berdetak, apa yang membuatnya mati," tutur Vershinin.
 
Untuk memanipulasi partikel tiruan berukuran nano, lab Vershinin menggunakan alat yang disebut pinset optik, pada dasarnya, sinar cahaya terfokus. 
 
Energi cahaya dapat diarahkan untuk menggerakkan dan menyelidiki molekul individu. Saffarian memelajari virus RNA pada skala yang lebih luas dan ahli dalam teknik lab yang dapat melacak partikel virus secara individu.
 
Para peneliti mengatakan mereka berharap untuk mengetahui seberapa baik virus akan menularkan dalam kondisi yang berbeda, dari luar ruangan di musim panas ke dalam ruangan di kantor ber-AC. Ini dapat memengaruhi berapa lama kebijakan jarak dan penguncian sosial perlu dilakukan.
 
"Ini bukan vaksin. Itu tidak akan menyelesaikan krisis, tetapi diharapkan akan menginformasikan keputusan kebijakan ke depan," papar Vershinin.

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif