Seminar GUB yang diadakan oleh Departemen Gizi FKMUI dan para alumni membahas tema “Kontribusi dan Keterlibatan Stakeholders dalam Penurunan Stunting”. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Seminar GUB yang diadakan oleh Departemen Gizi FKMUI dan para alumni membahas tema “Kontribusi dan Keterlibatan Stakeholders dalam Penurunan Stunting”. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Konsumsi Protein Hewani untuk Turunkan Prevalensi Stunting

Rona perkembangan anak stunting
Yatin Suleha • 20 September 2019 16:24
Jakarta: Berlatarbelakang kondisi stunting di Indonesia yang masih tinggi, Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) kembali melaksananan rangkaian seminar Gizi Untuk Bangsa (GUB), sebagai upaya edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya peran gizi dalam penanganan stunting. 
 
Seminar GUB telah dilaksanakan dari tahun 2012, dan tahun ini mengangkat tema “Kontribusi dan Keterlibatan Stakeholders dalam Penurunan Stunting” untuk mendorong terciptanya kerja sama lintas sektor dalam upaya percepatan penurunan prevalensi stunting melalui intervensi gizi spesifik. 
 
Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) menunjukkan, prevalensi balita stunting di tahun 2018 mencapai 30,8 persen di mana artinya 1 dari 3 balita mengalami stunting. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Data dari UNICEF tahun 2013 juga menyebutkan Indonesia juga merupakan negara dengan beban anak stunting tertinggi ke-2 di kawasan Asia Tenggara dan ke-5 di dunia.
 
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) yang diwakili oleh Dr. Entos Zainal dalam pidato pembukaannya menguraikan bahwa fokus Rencana Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 akan menitikberatkan pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) termasuk di bidang kesehatan. 
 
Konsumsi Protein Hewani untuk Turunkan Prevalensi Stunting
(Stunting atau perawakan pendek pada anak akibat malnutrisi kronis masih menjadi tantangan di Indonesia. Foto: Pexels.com)

Efek stunting

“Stunting mengakibatkan kerugian negara setara empat triliun per tahun atau sebesar tiga persen dari PDB, sehingga percepatan penangangan stunting tetap menjadi salah agenda besar pemerintah ke depan," papar Dr. Entos.
 
"Untuk mencapai target capaian prevalensi stunting sebesar 19 persen di tahun 2024 tentunya bukan tugas yang mudah. Untuk itu dibutuhkan terobosan, inovasi dan kerja sama lintas sektor termasuk kerja sama dengan akademisi dan pihak swasta untuk segera menangani hal ini secara konkrit,” jelas Entos. 
 
Kondisi stunting akan berdampak serius bagi kesehatan anak baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.  
 
Dampak jangka pendek meliputi perkembangan tubuh anak yang terhambat, performa anak yang menurun di sekolah, peningkatan angka kesakitan dan risiko kematian (data UNICEF 2013). 
 
Sedangkan untuk dampak jangka panjang dari stunting yaitu obesitas, peningkatan risiko penyakit tidak menular, bentuk tubuh pendek saat dewasa, serta penurunan produktivitas dan kualitas hidup anak di masa mendatang (data dari Dewey 2016). 
 
Prof. Dr. dr. Damayanti R Sjarif, Sp.A (K), Dokter Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak RSCM dalam paparannya menyampaikan, “Stunting hanya bisa teratasi selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun dan masa di mana otak anak berkembang pesat.”
 
Lebih lanjut Prof. Damayanti menambahkan bahwa ASI Eksklusif penting diberikan selama enam bulan pertama dan dapat diteruskan hingga anak berusia dua tahun. 
 
“Pada tahap pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI), orang tua harus memperhatikan pola asupan gizi yang seimbang, terutama untuk memberikan asupan karbohidrat, lemak tinggi dan protein hewani.”
 
Konsumsi Protein Hewani untuk Turunkan Prevalensi Stunting
(Data dari UNICEF tahun 2013 menyebutkan Indonesia juga merupakan negara dengan beban anak stunting tertinggi ke-2 di Kawasan Asia Tenggara dan ke-5 di dunia. Foto: Pexels.com)

Pilot project Aksi Cegah Stunting

Prof. Damayanti Bersama Kementerian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi  mengembangkan pilot project Aksi Cegah Stunting di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang, Banten. 
 
Hasil inisiatif tersebut menunjukkan penurunan prevalensi stunting sebesar 8,4 persen dalam 6 (enam) bulan dari 41,5 persen menjadi 33,1 persen atau mencapai 4,3 kali lipat dari target tahunan WHO. 
 
Dalam pilot project ini, pendekatan intervensi gizi spesifik dilakukan dalam beberapa fokus termasuk; melakukan training kepada tenaga kesehatan dan kader posyandu, mengembangkan sistem rujukan berjenjang untuk balita stunting dan beresiko stunting, dan implementasi tata laksana stunting oleh Dokter Spesialis Anak dengan pengawasan yang dibantu oleh Dokter Puskesmas, Tenaga Gizi Puskesmas dan Bidan Desa.
 
Dalam pencegahan stunting, pemantauan status gizi dan antopometri anak perlu dilakukan secara berkala. Deteksi dini status gizi balita dilakukan secara berjenjang mulai dari Posyandu, Puskesmas hingga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).  
 
Jika di Posyandu ditemukan anak dengan Berat Badan atau Tinggi Badan < -2 SD, maka perlu dirujuk ke Puskesmas. 
 
“Jika di Puskesmas didapati penyakit penyerta lain atau growth faltering maupun gizi buruk, maka anak akan dirujuk ke RSUD untuk mendapatkan diagnosis medis dari Dokter Spesialis Anak. Bahkan pada beberapa kondisi medis tertentu, apabila diperlukan, pasien akan disertai dengan preskripsi PKMK (Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus) untuk membantu mengejar ketertinggalan berat badan dan tinggi badan mereka,” jelas Prof. Damayanti.
 
Konsumsi Protein Hewani untuk Turunkan Prevalensi Stunting
(Seminar GUB yang diadakan oleh Departemen Gizi FKMUI dan para alumni mengundang narasumber dari berbagai sektor termasuk pembicara dari sektor peternakan, PUPR, Asosiasi Perusahaan Produsen Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA), komisi perlindungan anak dan asosiasi kebidanan. Foto: Dok. FKMUI)

Asupan protein dukung pertumbuhan linear anak

Pada kesempatan yang sama, Dr. Marudut Sitompul dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) menyampaikan asupan protein paling baik dapat diperoleh dari sumber protein hewani yaitu telur dan susu karena memiliki nilai cerna dan bioavailabilitas paling tinggi dan asam amino esensial lebih lengkap untuk mendukung pertumbuhan linear anak-anak.
 
Bertolak belakang dari fakta para ahli tentang pentingnya asupan protein hewani, pada kenyataannya asupan protein hewani pada anak-anak di Indonesia tergolong rendah. 
 
Dalam salah satu studi ditemukan bahwa asupan protein hewani yang rendah ini berkontribusi terhadap tingginya prevalensi stunting (studi Sjarif, Yuliarti, dan Iskandar, 2018). 
 
Anak yang tidak mengonsumsi jenis protein hewani apapun memiliki risiko lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang mengonsumsi tiga jenis protein hewani yaitu telur, daging, dan susu (studi Wiley et al, 2018).
 
Konsumsi Protein Hewani untuk Turunkan Prevalensi Stunting
(Prof. Dr. dr. Damayanti R Sjarif, Sp.A (K), Dokter Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak RSCM, bersama Kementerian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi  mengembangkan pilot project Aksi Cegah Stunting di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang, Banten. Hasil inisiatif tersebut menunjukkan penurunan prevalensi stunting sebesar 8,4 persen dalam enam bulan. Foto: Dok. FKMUI)

Susu salah satu sumber protein

Data dari Wiley et al, 2018 menyebutkan dibandingkan makanan sumber protein hewani lainnya, susu adalah yang paling erat hubungannya dengan angka stunting yang rendah karena konsentrasi plasma insulin-like growth factor (IGF-I) dan IGF-I/IGFBP-3 pada anak usia dua tahun secara positif berkaitan dengan panjang badan dan asupan susunya.
 
Ahmad Syafiq, PhD, Kepala Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKMUI menyatakan, “Diperlukan analisis dan pendekatan gizi kesehatan masyarakat untuk dapat secara efektif merancang program yang berbasis evidens dan berfokus pada pencegahan."
 
"Terobosan pencegahan stunting juga perlu melibatkan seluruh stakeholders (pemangku kepentingan) dan memberdayakan masyarakat agar semua pihak mampu terlibat secara aktif dalam upaya penurunan stunting.”
 
“Dari kegiatan edukasi ini kami berharap akan semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya asupan protein hewani dalam upaya pencegahan stunting. Dengan pola asupan gizi yang baik, diharapkan akan tercipta generasi yang sehat, berkualitas dan berdaya saing sebagai bangsa yang unggul di masa depan,” tutup Syafiq. 
 
Seminar GUB berlangsung selama dua hari dari tanggal 20-21 September 2019 di Universitas Indonesia. 
 
Kegiatan ini diselenggarakan secara tahunan oleh Departemen Gizi FKMUI dan para alumni. GUB juga mengundang narasumber dari berbagai sektor termasuk pembicara dari sektor peternakan, PUPR, Asosiasi Perusahaan Produsen Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA), komisi perlindungan anak dan asosiasi kebidanan. 
 
Selain seminar, dilakukan pula diseminasi hasil penelitian mahasiswa program Sarjana dan Magister program studi Gizi FKMUI sebagai bagian dari rangkaian acara.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif