Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sendiri telah memberikan pernyataan resmi mengenai kasus tersebut agar masyarakat tidak perlu khawatir.
Berdasarkan pernyataan resmi dari BPOM tersebut disebutkan bahwa pada tanggal 13 September 2019, US FDA dan EMA mengeluarkan peringatan tentang adanya temuan cemaran NDMA dalam jumlah yang relatif kecil pada sampel produk yang mengandung bahan aktif ranitidin, di mana NDMA merupakan turunan zat Nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. DR. Dr. Aru Wicaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FINASM, FACP menjelaskan, “Mengandung bahan yang mengandung NDMA atau kita bilang Nitrostamin yang secara teknis secara definisi dia dapat memicu sel kanker tapi dalam jumlah yang besar dan pemakaian yang lama,” ujar Prof. Aru dalam acara Media Workshop Patient Journey in Oncology Total Solution oleh Kalbe, di kawasan Bogor, Selasa, 8 September 2019.
“Tapi yang ditemukan di Indonesia adalah yang dalam bentuk suntikan. Obat suntikan tidak banyak dipakai, paling digunakan saat keadaan sedang dirawat. Misalnya pasien sedang dirawat lima hari, dia tidak bisa makan, sakit mag, barulah disuntik. Setelah itu, akan diganti ke pemberian obat secara oral lagi. Nah, di Indonesia, yang jenis oral belum ketemu ada kasus itu,” tambah Prof. Aru.
Ia juga menambahkan, “Ini sebenarnya kasus kontaminasi, ini karena kecelakaan produksi bukan karena bahan utamanya. Jadi sebenarnya aman, cuma memang ada kecelakaan produksi. Ini juga menjadi sebuah teguran bagi produsennya agar lebih hati-hati lagi.”
Menurut Prof. Aru, sebenarnya obat Ranitidin sendiri tidak dapat menyebabkan kanker secara umum karena terlalu sedikit.
Badan POM saat ini sedang melakukan pengambilan dan pengujian beberapa sampel produk ranitidin. Hasil uji sebagian sampel mengandung cemaran NDMA dengan jumlah yang melebihi batas yang diperbolehkan. Pengujian dan kajian risiko akan dilanjutkan terhadap seluruh produk yang mengandung ranitidin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
