IHSG melemah. Foto: MI.
IHSG melemah. Foto: MI.

Pasar Saham Lesu di Pembukaan, Bank Besar Jadi Beban IHSG

Arif Wicaksono • 30 Maret 2026 09:37
Ringkasnya gini..
  • IHSG dibuka melemah 1,70 persen atau berada pada level 6976 pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026.
  • Indeks unggulan LQ45 jatuh 1,97 persen dengan berada pada level 705,64. Indeks unggulan syariah JII anjlok 1,67 persen dengan berada pada level 464.
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada pembukaan awal pekan ini.
 
IHSG dibuka melemah 1,70 persen atau berada pada level 6976 pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026. 
 
Indeks unggulan LQ45 jatuh 1,97 persen dengan berada pada level 705,64. Indeks unggulan syariah JII anjlok 1,67 persen dengan berada pada level 464.
 

Saham BBCA, BBRI, BMRI, ASII, dan ANTM anjlok pada pembukaan perdagangan hari ini. 

IHSG melanjutkan tren melemah ke level 7.097,06 atau turun 0,94% pada perdagangan Jumat 27 Maret 2026.
 
Tekanan pasar dipicu aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell signifikan hingga Rp1,76 triliun.
 
Pada pekan lalu arus keluar dana asing terutama membebani saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI.  Keempat saham tersebut menjadi kontributor utama pelemahan indeks di tengah meningkatnya sentimen risk-off global.
 
Tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan. Memanasnya tensi geopolitik di Iran serta lonjakan harga minyak dunia mendorong pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko. 
Harga minyak WTI tercatat naik tajam 5,46% ke level USD99,64 per barel, memperkuat kekhawatiran inflasi global kembali meningkat.
 
Di sisi global, indeks saham utama juga kompak melemah. Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 1,73% ke 45.166,64, sementara indeks ETF Indonesia, EIDO, terkoreksi lebih dalam sebesar 1,41%. Adapun FTSE 100 di Inggris relatif stabil dengan penurunan tipis 0,05%.
 
Dari pasar valuta asing, rupiah terdepresiasi ke level Rp16.980 per dolar AS atau melemah 0,45%. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun bertahan di level 6,86%.
Pelaku pasar kini mencermati sejumlah sentimen penting dalam pekan ini. 
 
Fokus utama tertuju pada pidato Ketua The Fed Jerome Powell serta rilis data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi mempengaruhi arah kebijakan suku bunga global.
 
Dari dalam negeri, pasar juga menanti rilis data inflasi, neraca perdagangan, serta arah kebijakan fiskal pemerintah. Kombinasi faktor global dan domestik tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah, pasar obligasi (SBN), dan IHSG dalam jangka pendek.
 
Ekspektasi pasar pun mulai berubah. Pelaku pasar kini semakin skeptis terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS tahun ini.  Sentimen tersebut turut tercermin dari lonjakan indeks volatilitas (VIX), yang naik lebih dari 13% menandakan meningkatnya kecemasan investor.
 
Dari dalam negeri, indikator risiko juga menunjukkan peningkatan. Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun naik, mencerminkan persepsi risiko yang sedikit membesar di mata investor global.
 
Secara keseluruhan, kombinasi antara ketegangan geopolitik, lonjakan harga energi, dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter menjadi faktor utama yang menekan pasar. 
Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi, seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan situasi global. 
 
Meski demikian, peluang technical rebound atau relief rally masih terbuka, terutama jika terjadi de-eskalasi konflik geopolitik dalam waktu dekat. Di tengah volatilitas yang masih tinggi, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati dinamika global serta menjaga strategi investasi yang lebih selektif. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan