NEWSTICKER
ILUSTRASI: Patung Presiden Pertama RI, Soekarno, di Situs Penjara Banceuy, Jalan Banceuy, Bandung, Jawa Barat/MI/Ramdani
ILUSTRASI: Patung Presiden Pertama RI, Soekarno, di Situs Penjara Banceuy, Jalan Banceuy, Bandung, Jawa Barat/MI/Ramdani (Said Achmad Kabiru Rafiie)

Said Achmad Kabiru Rafiie

Dosen di FISIP Universitas Teuku Umar, Aceh

Bung Karno, Aceh, dan Pemikiran Ekonominya

Pilar soekarno
Said Achmad Kabiru Rafiie • 16 Januari 2020 11:39
MIMPI adalah awal dari perubahan. Bung karno bermimpi untuk memerdekakan Indonesia. Sejak kecil, Bung Karno sudah mulai menunjukkan bakat kepemimpin dan cita-citanya untuk memerdekakan Indonesia. Sejak kuliah di Bandung, dia telah terlibat dalam pengerakan mahasiswa dan aktif dalam Sarikat Dagang Islam. Kekuatan tekad tersebut menjadi pembakar semangat untuk mewujudkan sebuah bangsa yang merdeka.
 
Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sebagai dasar negara baru Republik Indonesia ditetapkan Pancasila, yaitu lima prinsip berbangsa dan bernegara.
 
Pancasila yang digali Bung Karno dari budaya bangsa hadir menjembatani berbagai perbedaan yang ada dalam masyarakat Indonesia sehingga dapat diterima sebagai dasar negara Republik Indonesia. Di dalam Pancasila itulah terdapat pemikiran ekonomi Bung Karno, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Pemikiran Marhean
Bung Karno memiliki kisah saat bertemu dengan seorang petani kecil yang secara mandiri dapat mencukupi kebutuhan hidupnya atau berdiri di atas kaki sendiri (seperti yang tertulis dalam buku Cindy Adam Penyambung Lidah Rakyat). Hal ini menjadi inspirasi bagi Bung Karno untuk menjadikan Indonesia yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam kondisi bangsa yang saat ini menghadapi tantangan ekonomi dunia, menjadi sebuah keharusan untuk kembali berpijak pada kemandirian ekonomi yang pernah digagas Bung Karno.
 
Selain itu, Bung Karno percaya akan kemampuan bangsa Indonesia dalam mengelola sumberdaya alam. Bung Karno ingin hasil alam yang ada di Indonesia dapat tangan-tangan terampil anak bangsa yang nantinya dapat menjadi tenaga ahli bagi bangsa sendiri. Pada saat itu, sangat banyak putra/putri bangsa Indonesia yang dikirim menempuh pendidikan ke berbagai negara, seperti Jerman, Belanda, Rusia untuk memahami kemajuan teknologi bangsa-bangsa di dunia.
 
Di dalam pergaulan ekonomi dunia, Bung Karno paham bahwa sistem ekonomi kapitalisme dan sistem ekonomi komunisme tidak sesuai dengan semangat dan budaya bangsa Indonesia. Bung Karno menawarkan sistem ekonomi gotong royong dalam perekonomian yang memungkinkan bangsa Indonesia untuk dapat menikmati pembangunan ekonomi yang berkesinambungan dan berkeadilan.

Hal inilah yang menjadi gagasan dasar Bung Karno terhadap corak dan karakteristik perekonomian Indonesia, sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 1, yaitu pembangunan yang berkeadilan.


Hal ini juga menandakan bahwa pemikiran Bung Karno sebagai founding father bangsa Indonesia dalam perekonomian dapat diklasifikasikan pada tiga aspek, yaitu berpihak pada rakyat kecil, ekonomi yang berdikari, dan ekonomi yang dibangun dengan semangat gotong royong. Ketiga prinsip tersebut harusnya menjadi bagian dari setiap pengambilan kebijakan oleh pemimpin masa kini, baik di level pemerintah kabupaten/kota, pemerintahan provinsi maupun pemerintahan nasional.
 
Bung Karno dan Aceh
Pemimpin selalu dilihat dari dua sisi. Hubungan Bung Karno dan masyarakat Aceh dapat dilihat dari berbagai sisi dan sejarahnya dapat diperdebatkan. Namun demikian, Bung Karno merupakan salah satu tokoh dunia yang mampu berkomunikasi dengan berbagai level kepemimpinan dan level masyarakat.
 
Termasuk dengan masyarakat Aceh, Bung Karno berkomunikasi dengan baik. Tidak hanya itu, Bung Karno juga memperhatikan aspek pendidikan masyarakat Aceh dengan membangun kampus Universitas Syiah Kuala.
 
Salah satu peninggalan Bung Karno lainnya di Aceh yang saat ini masih dapat dilihat adalah Mobil land rover BL. 9999 E yang diberikan kepada Habib Muda Seunangan. Mobil ini diberikan setelah Habib Muda Seunangan diundang ke Istana Negara dan melalukan ziarah ke makam Wali Songo di Demak, Jawa Tengah. Hubungan baik tersebut tercatat dalam sejarah, Habib Muda Seunangan seorang tokoh di Indonesia yang menerima hadiah langsung sebuah mobil jeep dari Presiden Soekarno.
 
Tidak dapat dipungkiri lagi, Aceh adalah permata Indonesia karena letaknya di Nol kilometer Indonesia dan kontribusinya bagi republik sejak awal berdiri. Karena itu, Aceh membutuhkan pemimpin yang dapat mengaktualisasikan pemikiran Bung Karno tentang keberpihakan kepada rakyat kecil, ekonomi yang berdikari, dan ekonomi mememiliki keahlian manajerial yang mengglobal.
 
Peran milenial Aceh
Baru-baru ini, Aceh menandatangani MoU dengan pemerintah India (Aceh and Andaman Trade Agreement) dan juga dengan beberapa negara ASEAN dalam segitiga ekonomi/perdagangan antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand (IMT-GT). Letak geografis Aceh yang strategis di tepi selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan tersibuk di dunia menjadi berkah dalam menciptakan positioning dan uniqueness Aceh.
 
Dengan menerapkan pemikiran Bung Karno, para milenial Aceh harus mampu menghidupkan kembali semangat kemandirian ekonomi Bung Karno. Para milenial Aceh harus mempersiapkan diri menggapai estafet kepemimpinan. Menjadikan Aceh sebagai tempat berkembangnya ideologi ekonomi Bung Karno.
 
Dalam pembangunan ekonomi yang memiliki karakter Pancasila, generasi muda Aceh harus menjabarkan pemikiran Bung Karno tentang kepedulian terhadap wong cilik. Dalam mengurangi kemiskinan dan membangun toleransi terhadap keanekaragam agama, suku, ras, dan budaya di Aceh.
 
Pada akhirnya, para pemimpin muda Aceh harus tampil dalam pentas politik sekaligus mampu menjalin kerjasama dengan pemerintahan daerah (government to government), kalangan bisnis (business to business) maupun masyarakat (people to people) dalam lingkup Sumatra dan ASEAN guna memperkuat Aceh dalam keindonesian. Dengan demikian, ekonomi berdikari dapat terwujud dengan tetap menjalin hubungan yang baik dan saling menguntungkan antar daerah di Indonesia.
 
Saatnya anak muda di Aceh menyusun kembali masa depannya dan menghidupkan kembali ide dan gagasan ekonomi Bung Karno melalui pembangunan ekonomi rakyat kecil. Anak muda Aceh juga harus memiliki rasa percaya diri untuk mengelola sumber daya alam dengan terus membekali ilmu pengetahuan. Dengan begitu, nantinya akan terwujud suatu keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.
 
Hanya dengan itu, Aceh dapat kembali menjadi sumber kekuatan ekonomi baru Indonesia dengan kembali kepada titah ekonomi Bung Karno.[]
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif