Pemerhati Kebijakan Komunikasi Militer dan Intelijen, Safriady.
Pemerhati Kebijakan Komunikasi Militer dan Intelijen, Safriady. (Safriady)

Safriady

 

Satbravo 90-Kopasgat TNI AU dan Era Hybrid Warfare

Pilar tni tni au transformasi digital revolusi industri Revolusi Industri 4.0
Safriady • 12 Februari 2022 13:41
Trend digital yang berkembang di abad 21 ini membuat perubahan luar biasa, siapa sangka dunia kini memasuki New Cold Wa Erar atau era Perang Dingin Baru dalam teknologi digital. Perkembangan revolusi industri 4.0 dan perlombaan industri digital ikut memicu ancaman baru dalam sepektrum keamanan nasional ataupun secara global.
 
Elektronic Warfare, Cyber Warfare, Asimetric Warfare, merupakan salah satu bentuk New Warfare atau menciptakan perang cerdas (Smart Warfare) di era digital. Dipengaruhi oleh menguatnya ekonomi Tiongkok dan bangkitnya hegemoni Rusia dibawah Putin ikut berdampak pada perubahan peta kekuatan militer secara global.
 
Sempat terpuruk setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia bangkit dan mulai berbagi peran dengan Tiongkok menyingkirkan dominasi Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Rilis terbaru dari situs Global Firepower tahun ini menempatkan Amerika Serikat diperingkat satu, Rusia di peringkat dua dan Tiongkok diperingkatkan tiga sebagai militer terkuat di dunia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Bukan rahasia, selama enam tahun terakhir, Presiden Xi Jinping bertemu 30 kali dengan Presiden Putin. Di mana Presiden Xi Jinping menyebut Presiden Putin : closed friend—sahabat karib: "We will strengthen our mutual support on key issues." (Vladimir Isachenkov/ Nataliya Vasilyeva/AP, 6/6/2019). Departemen Pertahanan AS mengungkapkan bagaimana Tiongkok berkomitment dalam mengembangkan teknologi perang 'cerdas' untuk menghadapi perang militer di era digital. Laporan menunjukan bahwa Tiongkok mungkin sudah menggunakan kecerdasan buatan dalam robotika militer dan sistem panduan rudal, serta kendaraan udara tak berawak dan kapal angkatan laut tak berawak.
 
Kondisi ini akhirnya memancing kekhawatiran baik dari sejumlah negara tetangga dan internasional. Bagaimana dengan Indonesia? Perubahan doktrin dan peta kekuatan militer global, secara otomatis harus merubah pandangan ATHG atau ancaman, tantangan, hambatan dan ganguan dalam sistem pertahanan dan operasi militer Indonesia di masa yang akan datang.
 
Konflik LCS, perang siber, terorisme gaya baru tidak dapat lagi dikategorisasi sebagai 'urusan dalam', karena digitalisasi menjadikan menjadikan segala sesuatu menjadi lebih mudah. Pola operasi lintas batas menjadi pilihan bagi agresor untuk masuk dan beraksi sesuai dengan tujuan dari operasinya itu sendiri, danini merupakan ancaman yang berpotensi menggangu kedaulatan negara.
 
Berkembangnya teknologi digital menjadi alasan mengubah arah sistem pertahanan negara dan memenangkan pertempuran dan perang di era digital. Dalam seminar nasional bertajuk Current Cybersecurity Trend and Future Challenges yang disiarkan di kanal YouTube Badan Siber dan Sandi Negara (Senin, 7 Februari 2022), mengungkapkan sejumlah teknik rekayasa informasi sebagai senjata untuk melakukan black propaganda, polarisasi infomasi, pembanjiran informasi yang berujung pada penyebaran informasi hoaks.

 
Read All

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif