Ilustrasi kolam renang/sergio souza/Pexels
Ilustrasi kolam renang/sergio souza/Pexels (Syah Sabur)

Syah Sabur

Jurnalis Senior Medcom.id & Peneliti di Media Research Center (MRC)

Komisioner KPAI dan Kehamilan Akibat Renang

Pilar kpai
Syah Sabur • 27 Februari 2020 09:00
SEORANG teman menulis lelucon di akun Facebook-nya, “Ada laki laki berenang di laut, spermanya terkena ikan. Itulah sejarah awal lahirnya putri duyung.”
 
Betulkah sejarah kelahiran putri duyung seperti itu? Tentu saja tidak betul. Sebab, cerita tentang semacamnya hanyalah dongeng alias mitos.
 
Dongeng tentang putri duyung ini ada di banyak negara meliputi Timur Dekat, Eropa, Afrika, dan Asia. Kisah pertamanya muncul pada masa Asiria Kuno, tentang seorang dewi bernama Atargatis yang mengubah wujudnya menjadi seorang putri duyung lantaran malu telah membunuh kekasihnya tanpa sengaja.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Masyarakat Babilonia juga menyembah putri duyung sebagai dewa laut yang dikenal sebagai Ea (duyung betina) atau Oannes (duyung jantan). Dalam mitologi Yunani, putri duyung dikatakan selalu menggoda para pelaut yang lalai; siapa saja yang tergoda akan menemui ajalnya. Putri duyung juga dikaitkan dengan makhluk siren dalam mitologi Yunani, demikian pula sirenia, ordo mamalia laut yang terdiri dari duyung dan lembu laut.
 
Lalu di grup WhatsApp beredar pula meme yang memperlihatkan dialog antara Rhoma Irama dan Yati Octavia, yang pernah berpasangan di layar lebar puluhan tahun lalu.
 
Dalam gambar sindiran itu Rhoma bertanya, “Siapa yang menodaimu?” Lalu, Ani menjawab, “Tidak ada, Rhoma”.
 
Tidak percaya, Rhoma pun mendesak, “Jangan bohong Ani!” Akhirnya, Ani berterus terang, “Aku cuma berenang, Rhoma!”
 
Hamil akibat renang
 
Kisah putri duyung dan cerita Rhoma vs Ani terinspirasi dari pernyataan komisioner Komisi Perlindungan Anak Indoensia (KPAI) bidang Kesehatan, Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA), Sitti Hikmawatty atau Hikma.
 
Hikma menyebut, pernyataan perempuan dapat hamil saat berada di kolam renang didapatnya dari jurnal seorang ilmuan dari luar negeri. "Saya dapat referensi dari jurnal luar negeri," katanya.
 
Hikma juga menyatakan, "Ada jenis sperma tertentu yang sangat kuat, walaupun tidak terjadi penetrasi, tapi ada pria terangsang dan mengeluarkan sperma, dapat berindikasi hamil," sambung dia.
 
Terlebih, jika perempuan tersebut berada pada fase kesuburan. "Kalau perempuannya sedang fase subur, itu bisa saja terjadi," kata Hikma.
 
Pernyataan IDI
 
Benarkah pernyataan Hikma tersebut? Betulkah seorang perempuan bisa hamil hanya gara-gara berenang di kolam yang ada pria yang mengeluarkan sperma? Mungkinkah terjadi kehamilan akibat pertemuan sperma denggan ovarium di kolam renang?
 
Sepertinya hampir semua orang dewasa akan menjawabnya “tidak mungkin” perempuan bisa hamil dengan proses seperti itu.
 
Lalu apa kata dokter? Ketua Biro Hukum dan Pembinaan Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Nazar mengatakan, kehamilan pada perempuan dapat terjadi jika terpenuhinya sejumlah kondisi, yaitu sperma yang berkualitas dan mutu ovum. Tapi hal itu masih perlu syarat lain yang utama, yaitu "suasana" dalam organ reproduksi perempuan.

Artinya, tidak mungkin perempuan dapat hamil saat berada di kolam renang ketika ada lelaki ikut berenang di kolam itu. Apalagi kolam renang yang airnya sendiri bukan air murni yang ada kaporit segala macam di dalamnya tidak mampu sperma itu bertahan.


 

Menanggapi pernyataan “konyol” dari anggota KPAI, banyak anggota masyarakat yang meminta agar Hikma dipecat. Bahkan beredar tagar #PecatSittiHikmawatty di berbagai media sosial.
 
Bisakah komisioner dipecat?
 
Pertanyaannya, bisakah seorang komisioner dipecat. Kalau melihat aturan, sepertinya tidak mungkin memecat anggota komisioner gara-gara menyebut seorang wanita bisa hamil jika ada laki-laki yang mengeluarkan sperma di kolam renang.
 
Peraturan Presiden (PP) No 61 Tahun 2016 tentang KPAI, pasal 9 menyebut anggota KPAI diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Sedangkan Ketua, Wakil Ketua, dan anggota KPAI bisa diberhentikan atas usul KPAI melalui menteri.
 
Pasal 21
Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota KPAI diberhentikan oleh Presiden atas usul KPAI melalui Menteri.

 
Ketua, Wakil Ketua dan anggota KPAI diberhentikan tidak dengan hormat karena beberapa hal. Berikut ini bunyi pasalnya:
 
Pasal 23
Ketua, Wakil Ketua, Anggota KPAI diberhentikan tidak dengan hormat karena:
a. dijatuhi pidana karena bersalah melakukan tindak pidana kejahatan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap; atau
b. melanggar kode etik KPAI.
 
Pasal 24
Pemberhentian tidak dengan hormat anggota KPAI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 dilakukan setelah yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri di hadapan Dewan Etik KPAI, yang dibentuk oleh KPAI.

 
Etika KPAI
 
Aturan yang ada jelas tidak memungkinkan untuk memecat anggota KPAI terkait pernyataannya soal kehamilan akibat renang. Kalau mau bicara etika, KPAI jug abelum mengaturnya.
 
Lalu, perlukah dipecat? Ini juga pertanyaan menarik. Apakah KPAI atau negara perlu repot memecat seorang anggota KPAI dengan kualitas seperti itu?
 
Komisioner dengan pernyataan kontroversial seperti itu tidak perlu dipecat. Pertama, karena aturan tidak memungkinkan. Kedua, terlalu berlebihan memecat anggota komisioner dengan alasan yang sangat sepele.
 
Lalu bagaimana seharusnya? Ibarat kursi yang kehilangan kakinya, benda tersebut tidak layak lagi dinamai kursi. Atau ibarat meja yang kehilangan kakinya, benda tersebut pun tak lagi layak disebut meja. Benda-benda seperti itu layak dibuang atau disimpan di gudang.
 
Dengan analogi yang lain, seorang wartawan tak lagi layak menyandang statusnya jika tidak bisa lagi membuat reportase atau kehilangan daya kritisnya, baik yang disampaikan melalui media tulisan, audio, visual maupun audio-visual.
 
Begitu juga nasib seorang komisioner KPAI. Jika dia tidak lagi memiliki kemampuan dasar untuk tahu syarat-syarat terjadi kehamilan misalnya, dia tidak bisa dipecat dan juga tidak ada perlunya untuk dipecat.
 
Apalagi, Hikma pun sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Selanjutnya, akan lebih terhormat jika dia mengundurkan diri. Sebab, dia sama dengan kursi atau meja yang tak lagi berkaki atau wartawan yang tak pernah lagi membuat reportase atau kehilangan daya kritisnya.[]
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
 

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif