İznik Ayasofya Camii pernah menjadi gereja Bizantium, masjid Ottoman, museum, hingga kembali menjadi tempat ibadah. Di balik dinding-dinding tebalnya, sejarah besar dunia Kristen dan Islam pernah bersinggungan.
Medcom.id berkesempatan melihat langsung keindahan masjid bersejarah ini melalui undangan dari AirAsia dan Türkiye Tourism Promotion and Development Agency (TGA). Kunjungan tersebut menjadi pengalaman istimewa untuk menyaksikan bagaimana lapisan sejarah Bizantium dan Ottoman berpadu dalam satu ruang yang sama.
Dari Basilika Bizantium ke Masjid Utsmani

Bagian dalam masjid Ayasofya Camii. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian
Bangunan ini pertama kali didirikan pada abad ke-6, pada masa pemerintahan Kaisar Justinianus I dari Kekaisaran Bizantium. Bangunan ini mengalami kerusakan akibat gempa besar pada abad ke-11 dan kemudian direnovasi.
Pilar-pilar batu besar dan struktur dinding tebal yang masih terlihat hingga kini menjadi bukti ketahanan arsitektur Bizantium.
Saat itu, İznik yang dulu bernama Nicaea merupakan kota penting dalam sejarah Kekristenan. Di tempat inilah pernah berlangsung Konsili Nicea yang berpengaruh dalam perumusan doktrin gereja awal.
Arsitekturnya mengikuti pola basilika Romawi: denah memanjang dengan nave utama, dua lorong samping, serta apsis di bagian timur. Pilar-pilar batu besar menopang atap, menghadirkan kesan kokoh namun hening.
Perubahan besar terjadi pada 1331 ketika kota İznik ditaklukkan oleh Orhan Gazi dari Kesultanan Ottoman. Gereja ini kemudian dialihfungsikan menjadi masjid.
Tambahan mihrab, mimbar, serta menara menjadi penanda identitas barunya sebagai rumah ibadah umat Islam. Transformasi itu tidak menghapus jejak lama, justru memperkaya karakternya.
Jejak arsitektur yang berlapis

Bagian dalam masjid Ayasofya Camii. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian
Pada masa pemerintahan Sultan Suleiman I yang dikenal sebagai Suleiman the Magnificent, bangunan ini kembali direnovasi oleh arsitek besar Ottoman, Mimar Sinan. Sentuhan Sinan memperkuat struktur sekaligus menyesuaikan fungsi bangunan sebagai masjid, tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Berbeda dengan kemegahan Hagia Sophia di Istanbul yang monumental, İznik Ayasofya Camii tampil lebih bersahaja. Namun justru dalam kesederhanaannya tersimpan daya tarik kuat.
Bagian apsis yang dahulu menjadi altar kini menghadap kiblat dan difungsikan sebagai mihrab. Pilar-pilar Bizantium tetap dipertahankan, berdampingan dengan elemen khas Ottoman seperti kaligrafi dan tambahan struktur kayu.
Dari luar, fasadnya terlihat sederhana dengan dinding bata dan batu. Sebuah menara ramping berdiri di sisi bangunan, menegaskan identitasnya sebagai masjid tanpa menenggelamkan karakter aslinya.
Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, memantul lembut di lantai dan dinding batu, menciptakan suasana teduh yang membuat pengunjung seakan diajak menyelami masa lalu.
Jejak arkeologi yang terungkap

Bagian dalam masjid Ayasofya Camii. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian
Pada era Republik Turki, bangunan ini sempat dialihfungsikan menjadi museum. Dalam proses restorasi pada 1935 dan 1953, ditemukan mosaik lantai berwarna-warni yang berasal dari periode Bizantium.
Tak hanya itu, ditemukan pula struktur setengah lingkaran berupa undakan tempat duduk yang dahulu digunakan pejabat keagamaan dalam upacara gereja. Temuan ini mempertegas fungsi awalnya sebagai basilika penting pada masanya.
Kini, setelah kembali difungsikan sebagai masjid, sebagian jejak tersebut tetap dapat disaksikan, memperlihatkan lapisan sejarah yang saling berdampingan.
Atmosfer yang intim dan reflektif

Bagian dalam masjid Ayasofya Camii. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian
Berbeda dengan destinasi wisata besar yang ramai, İznik Ayasofya Camii menghadirkan pengalaman yang lebih personal. Suasananya tenang, jauh dari hiruk pikuk kota besar seperti Istanbul.
Pengunjung dapat duduk sejenak, mengamati detail batu tua, merasakan kesejukan ruang, dan membayangkan bagaimana bangunan ini telah berdiri melewati peperangan, gempa bumi, dan pergantian kekuasaan.
Ia bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan simbol dialog sejarah, tempat di mana peradaban bertemu, berubah, namun tetap meninggalkan jejak.
Warisan yang terus hidup

Bagian dalam masjid Ayasofya Camii. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian
İznik Ayasofya Camii menunjukkan bahwa arsitektur bukan hanya soal bentuk fisik, tetapi juga memori kolektif. Setiap batu, lengkungan, dan pilar menyimpan cerita tentang keyakinan, kekuasaan, dan perjalanan manusia.
Di kota kecil yang terkenal dengan keramik khasnya ini, bangunan tersebut berdiri sebagai pengingat bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang ia hanya berubah wujud, menyesuaikan zaman, dan terus hidup dalam diam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News