Sukidi Mulyadi/Istimewa
Sukidi Mulyadi/Istimewa (Sukidi Mulyadi)

Sukidi Mulyadi

Sukidi Mulyadi

Lima Ikhtiar Mewujudkan Integrasi Sosial

Pilar Podium kerukunan antarumat kerukunan antarumat beragama Agama
Sukidi Mulyadi • 26 Mei 2022 11:23
Pada Kamis, 12 Mei 2022 pembangunan Masjid Taqwa Muhammadiyah di Aceh dihentikan dan dibongkar paksa oleh Satuan Polisi Pamong Praja. Peristiwa memilukan juga dirasakan oleh umat Katolik di Bekasi yang menghadapi kesulitan selama bertahun-tahun untuk mendirikan gereja. Lebih memprihatinkan lagi, perusakan dan pembakaran rumah ibadah juga menimpa berbagai agama di Indonesia. Sederet fakta memilukan itu menjadi tantangan nyata dalam membangun integrasi sosial di Indonesia.
 
Demikian diungkapkan Kader Muhammadiyah, Sukidi, dalam Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah & Aisyiyah ke-48 dengan tajuk “Kerja Sama Antar-Iman dan Integrasi Sosial” yang dilangsungkan di Universitas Muhammadiyah Kupang, Rabu, 25 Mei 2022.
 
Baca:Perayaan Kenaikan Isa Almasih, Menag: Mari Pererat Kerukunan Umat

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Berbicara pada sesi pertama, Sukidi memulai dengan memaparkan berbagai peristiwa memilukan itu untuk menunjukkan ancaman nyata bagi terwujudnya integrasi sosial di negeri ini. Sebagai bangsa yang selama ini dikenal toleran, peristiwa memilukan itu merefleksikan fenomena toleransi yang rapuh (fragile toleration) di antara warga bangsa dan umat beragama di Indonesia. “Fragile toleration itu lahir akibat ketidakmampuan satu sama lain untuk bertenggang rasa, bukan hanya kepada mereka yang berbeda agama, tetapi juga kepada penganut agama yang sama,” tegasnya.
 
Alumnus Universitas Harvard itu mengajukan lima ikhtiar untuk mewujudkan integrasi sosial yang diharapkan dapat mewujudkan harmoni dan kerukunan di tengah kebinekaan.
Ikhtiar pertama ialah toleransi yang otentik. Sukidi mengingatkan kita pada pesan Nabi Muhammad, “Ahabbu al-din ila Allah al-hanafiyyah al-samhah (Agama yang paling dicintai Allah adalah agama yang lurus dan lapang).”
 
Menurut Sukidi, hadis di atas menegaskan sebuah ajaran bahwa Islam mengajak umatnya untuk menegakkan toleransi yang otentik.Pemikir Kebinekaan itu menjelaskan, umat Islam harus memberikan toleransi yang genuine, yang otentik, bukan toleransi yang rapuh dan mudah retak. Menurutnya, toleransi harus berangkat dari satu ketulusan untuk memberikan respek yang penuh bukan hanya kepada umat Islam, melainkan juga kepada umat agama lain.
 
Sukidi mengingatkan toleransi tidak memadai sebagai fondasi yang kokoh dalam membangun masyarakat yang majemuk. Toleransi harus diiringi dengan kesetaraan, yang menjadi harapan ideal dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.
 
“Yang kita butuhkan untuk membangun Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika adalah prinsip dasar kesetaraan,” tegasnya.

 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif