Penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkap anak usia dini yang terpapar gawai lebih dari 2 jam sehari berisiko 6 kali lebih tinggi mengalami keterlambatan bicara (speech delay).
Studi Kementerian Kesehatan RI (2023) juga menunjukkan 42 persen anak usia 5-9 tahun di kota besar kesulitan fokus belajar akibat penggunaan gawai berlebihan. Bahkan, riset dari University of Alberta, Kanada (2022) menemukan balita yang terlalu sering bermain gawai berpotensi mengalami gangguan tidur hingga 60 persen.
Hal itu mendorong lahirnya gerakan 200 menit tanpa gawai. Ini sebagai upaya untuk menjauhkan gawai dari si kecil dan mengajak mereka melakukan aktivitas lebih bermakna, seperti bermain bersama, membaca buku, bercerita, atau beraktivitas di luar rumah.
Nah, buat membuat membantu orang tua menerapkan gerakan 200 menit tanpa gawai buat si kecil, berikut lima tips menerapkannya di rumah dikutip dari akun Instagram @kemendikdasmen:
5 tips menerapkan 200 menit tanpa gawai
1. Terapkan waktu khusus
Alokasikan total 200 menit/hari waktu tanpa gawai. Waktu bisa dibagi ke dalam beberapa sesi singkat.2. Ciptakan zona bebas gawai
Matikan notifikasi dan jauhi gawai saat sedang bersama anak.3. Bermain tradisional dan beraktivitas fisik
Ajak anak bermain, membaca buku, cerita, atau olahraga ringan di rumah.4. Jadilan teladan
Anak meniru orang tua, jadi kurangi memegang gawai di depan anak.5. Perbanyak komunikasi tatap muka
Gantikan layar kaca dengan tatapan mata, obrolan hangat dan pelukan.Gerakan 200 menit tanpa gawai adalah pengingat di balik layar kecil yang memikat, ada bahaya besar yang mengintai. Anak-anak dapat tumbuh lebih sehat secara fisik, mental, dan emosional hanya dengan pelukan, tatapan mata, dan tawa tulus.
Yuk, sisihkan setidaknya 200 menit setiap hari untuk menjauhkan gawai dari si kecil dan ajak mereka untuk melakukan aktivitas yang lebih bermakna.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda