"Monitoring tanaman budidaya dapat secara berkala dilakukan untuk melihat tingkat serangan dari rayap," paparnya.
Sementara itu, pengendalian dengan menggunakan agens biologis dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami rayap seperti semut, cendawan
entomopatogen (
merarrhizium anisopliae,
beauveria bassiana),
nematode entomopatogen (
steinernema dan
heterohabditis).
Selain pengendalian menggunakan agens biologis, pengendalian juga dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida, baik yang berasal dari tanaman/botani atau sintetik. Insektisida botanis yang dapat dimanfaatkan yaitu minyak cengkeh, minyak atsiri serai wangi, daun dan biji mimba, serta asap cair (tandan kelapa sawit, cangkang kelapa dan lain-lain).
Baca:
Guru Besar Unpad Beri Tips Bertahan Saat Hilang di Gunung
Bisa juga menggunakan insektisida sintetik yang berbahan aktif
fipronil,
imidakloprid,
etiprol serta
hexaflumuron. Termisida berbahan aktif
hexaflumuron paling banyak digunakan karena bersifat
slow release/action.
Dengan
mode of action dari bahan aktif serta memanfaatkan dari perilaku rayap, alhasil, semua individu rayap dalam satu koloni akan terpapar termitisida berbahan aktif
hexaflumuron tersebut dalam waktu tertentu.
"Pengelolaan rayap di pertanian, perkebunan maupun di permukiman tidak akan berhasil tanpa mengetahui siapa dan bagaimana perilaku dari target yang akan dikendalikan. Ketika sudah mengetahui kedua hal tersebut, maka pengendalian yang terintegrasi akan lebih mudah dan dapat tepat sasaran," ujarnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(AGA)