Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital BRIN Hammam Riza. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital BRIN Hammam Riza. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Jangan Biarkan AI Menggantikan Proses Belajar Anak, Ini Catatan Buat Orang Tua dan Guru

Ilham Pratama Putra • 10 September 2026 18:30
Ringkasnya gini..
  • AI jangan sampai menggantikan proses belajar siswa.
  • Ketergantungan chatbot dikhawatirkan membuat anak malas membaca.
  • Sekolah perlu mengatur konteks penggunaan AI, bukan sekadar melarang atau membolehkan.
Jakarta: Kemampuan kecerdasan buatan atau artificial Intelligence (AI) dalam menjawab pertanyaan dalam hitungan detik membawa perubahan besar dalam cara siswa belajar. Namun, kemudahan itu juga menyimpan risiko jika anak menjadikan chatbot AI sebagai jalan pintas untuk mendapatkan seluruh jawaban.

Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hammam Riza mengingatkan penggunaan AI dalam pendidikan harus tetap menjaga proses belajar siswa. Teknologi tidak boleh membuat anak berhenti membaca, memahami materi, dan berusaha menemukan jawaban dengan kemampuan sendiri.

“Kalau kita lihat sekarang ini di banyak negara dibatasi tuh. AI itu udah boleh digunakan, ChatGPT itu nggak boleh digunakan, atau Anthropic atau Gemini nggak boleh digunakan bagi anak-anak,” ujarnya dalam Techpresso di Studio Grand Metro TV, Kamis 10 September 2026.
Ia menjelaskan, pembatasan tersebut salah satunya berkaitan dengan kekhawatiran terhadap ketergantungan anak pada chatbot. Ketika semua pertanyaan dapat langsung dijawab AI, siswa berpotensi kehilangan kesempatan untuk belajar melalui proses mencari dan memahami informasi.

"Membaca, mengolah informasi, mempertanyakan sesuatu, membuat kesimpulan, hingga mencoba menyelesaikan masalah merupakan bagian penting dari pendidikan. Karena itu AI jangan sampai membuat anak tidak mau lagi membaca dan belajar,” tegasnya.

Hammam pun menegaskan pentingnya regulasi AI untuk pendidikan. Regulasi yang dibuat mesti memberi ruang untuk anak melakukan proses berpikir sebelum memperoleh bantuan teknologi.

Pendekatan tersebut juga berarti sekolah tidak cukup hanya membuat aturan boleh atau tidak boleh menggunakan AI. Guru dan sekolah perlu menentukan konteks penggunaan AI sehingga teknologi tetap mendukung tujuan pembelajaran.

"AI tetap dapat menjadi bagian dari pendidikan. Namun, teknologi harus digunakan untuk memperkaya kemampuan siswa, bukan membuat mereka kehilangan kebiasaan belajar yang menjadi fondasi pendidikan," pungkasnya. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan