Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital BRIN Hammam Riza. Foto: Citra Larasati/Medcom.id
Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital BRIN Hammam Riza. Foto: Citra Larasati/Medcom.id

Sebelum Pakai AI, Anak Harus Kuasai Kemampuan Ini Biar Enggak 'Mager' Belajar

Ilham Pratama Putra • 10 September 2026 18:18
Ringkasnya gini..
  • Computational thinking dinilai penting sebelum anak menggunakan AI secara luas.
  • AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.
  • Regulasi AI dalam pembelajaran perlu mempertimbangkan usia dan kebutuhan peserta didik.
Jakarta: Kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI)  makin diandalkan untuk menjawab berbagai pertanyaan, termasuk oleh pelajar. Namun, kemudahan tersebut justru memunculkan pertanyaan penting, yaitu apakah anak sudah memiliki kemampuan berpikir yang cukup sebelum menggunakan AI?

Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hammam Riza menilai, pendidikan perlu memastikan anak memiliki kemampuan berpikir dasar sebelum memberikan keleluasaan menggunakan AI. Salah satu kemampuan yang penting diperkuat ialah computational thinking.

"Kemampuan ini dinilai menjadi fondasi penting agar siswa tidak sekadar menerima jawaban yang diberikan teknologi," kata Hammam dalam Techpresso di Studio Grand Metro TV, Kamis 10 September 2026.

Ia menjelaskan, jika computational thinking merupakan kemampuan untuk memecah persoalan menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana. Mulai dari mengenali pola, menyusun langkah penyelesaian, hingga mencari solusi secara logis. 

Dalam konteks pendidikan, regulasi AI dinilai harus mempertimbangkan tahapan perkembangan peserta didik. Anak tidak bisa langsung diperlakukan seperti pengguna AI di dunia kerja yang menggunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.

“Karena AI itu nggak bisa dibuat, diatur untuk semua sektor sekaligus. Tapi berdasarkan sektor masing-masing, termasuk dibedakan untuk anak-anak,” ujarnya.

Menurutnya, anak perlu memahami terlebih dahulu proses berpikir dan manfaat AI. Setelah itu, perlu dipahami batas teknologi sebagai alat yang membantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir siswa.

Kekhawatiran muncul ketika siswa langsung menggunakan chatbot untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami persoalan yang diberikan. Dalam kondisi seperti itu, AI memang mampu menghasilkan jawaban, tetapi siswa berpotensi tidak memperoleh pengetahuan dari proses mengerjakan tugas tersebut.

“Kalau tidak dipahami dengan baik, jawaban dari AI membuat mereka tidak mau lagi membaca dan belajar,” katanya.

Karena itu, pembatasan AI di lingkungan pendidikan tidak semestinya dipandang sebagai upaya menghambat perkembangan teknologi. Pembatasan dapat menjadi mekanisme agar teknologi digunakan sesuai usia, kebutuhan, dan tujuan pembelajaran.

"Dengan pendekatan computational thinking, siswa tetap dapat mengenal AI sejak dini, tetapi memiliki fondasi berpikir yang kuat. AI akhirnya ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan mengambil alih kemampuan tersebut," tutupnya. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan