Jakarta: Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan mulai menghadirkan dilema baru. Di satu sisi, teknologi seperti ChatGPT dan Gemini dapat membantu siswa menemukan informasi dengan cepat, tetapi di sisi lain penggunaan tanpa batas dikhawatirkan membuat anak kehilangan proses belajar yang seharusnya mereka jalani.
Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu alasan munculnya gagasan pembatasan penggunaan chatbot AI bagi anak dalam proses pendidikan. Regulasi AI di sektor pendidikan dinilai perlu dirancang secara khusus karena kebutuhan dan risikonya berbeda dengan penggunaan AI di sektor lain.
“Kalau kita lihat sekarang ini di banyak negara dibatasi tuh. AI itu udah boleh digunakan, ChatGPT itu nggak boleh digunakan, atau Anthropic atau Gemini nggak boleh digunakan bagi anak-anak,” ujar Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hammam Riza dalam Techpresso di Studio Grand Metro TV, Kamis 10 September 2026.
Menurutnya, pembatasan tersebut bukan berarti teknologi AI harus dijauhkan sepenuhnya dari dunia pendidikan. Justru, anak perlu terlebih dahulu memahami bagaimana teknologi bekerja dan apa manfaat yang dapat diberikan AI.
Salah satu kemampuan yang dinilai penting untuk dibangun sebelum anak terlalu bergantung pada AI ialah computational thinking. Kemampuan tersebut membuat siswa terbiasa memahami persoalan, menyusun logika, mencari pola, dan memecahkan masalah secara mandiri.
Ia menjelaskan, chatbot AI yang mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik membawa persoalan. Jika siswa terbiasa menyerahkan seluruh proses pencarian jawaban kepada AI, proses membaca, memahami, dan berpikir berisiko semakin jarang dilakukan.
“Kenapa? Karena membuat mereka tidak mau lagi membaca dan belajar,” tegasnya.
Karena itu, penggunaan AI di sekolah dinilai tidak cukup hanya dengan memberikan akses kepada siswa. Harus ada batasan mengenai kapan AI boleh digunakan dan kapan siswa harus mengerjakan proses berpikirnya sendiri.
Hammam menilai pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam merancang regulasi AI di pendidikan. "Teknologi boleh berkembang, tetapi proses pendidikan tidak boleh kehilangan tujuan utamanya, yakni membentuk manusia yang mampu berpikir dan belajar secara mandiri," tutup dia.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan