Kerusakan infrastruktur dampak bencana gempa bumi pada bangunan terminal penumpang Pelabuhan Lorensius Say, Maumere, Sikka, NTT, Kamis, 20 Agustus 2026. Foto: MI/Usman Iskandar
Kerusakan infrastruktur dampak bencana gempa bumi pada bangunan terminal penumpang Pelabuhan Lorensius Say, Maumere, Sikka, NTT, Kamis, 20 Agustus 2026. Foto: MI/Usman Iskandar

Peneliti BRIN Ungkap Beda Tsunami Flores 1992 dan 2026 Meski Magnitudo Serupa

Renatha Swasty • 25 Agustus 2026 16:33
Ringkasnya gini..
  • Gempa Flores 2026 dan 1992 sama-sama bermagnitudo Mw 7,7, tetapi menghasilkan dampak tsunami yang jauh berbeda.
  • Pakar BRIN menjelaskan bahwa tinggi tsunami tidak hanya ditentukan magnitudo, melainkan juga deformasi dasar laut, slip patahan, dan potensi longsoran bawah laut.
  • Sistem patahan Flores masih aktif, masyarakat pesisir diimbau segera evakuasi mandiri ke tempat tinggi saat merasakan guncangan kuat tanpa menunggu sirene.
Jakarta: Gempa berkekuatan Mw 7,7 yang mengguncang wilayah utara Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 diikuti peringatan dini tsunami dan kejadian tsunami yang relatif kecil. Banyak orang lantas menyamakan kejadian ini dengan gempa Flores pada 1992. 
 
“Gempa Flores 1992 dan 2026 memberikan pelajaran yang sederhana tetapi penting. Magnitudo yang hampir sama tidak berarti ancaman tsunaminya sama," ujar periset Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widjo Kongko, dikutip dari laman brin.go.id, Selasa, 25 Agustus 2026.
 
Gempa Flores pada 12 Desember 1992 bermagnitudo sekitar Mw 7,7–7,8 dan diserta tsunami yang sangat destruktif. Tercatat, run-up hingga 26,2 meter di Riangkroko, ujung timur laut Flores dan menimbulkan ribuan korban jiwa. 

“Kuncinya bukan hanya pada besar gempa, tetapi pada bagaimana dasar laut bergerak ketika patahan mengalami rupture," ujar Widjo. 
 
Dia menjelaskan tsunami terjadi ketika perpindahan dasar laut mengganggu kolom air di atasnya. Karena itu, lokasi sumber, mekanisme patahan, arah dan besarnya slip, kedalaman, serta bentuk dasar laut dan pantai ikut menentukan besar kecilnya tsunami.
 
Widjo memaparkan Flores berada pada sistem Flores Back-Arc Thrust, zona tektonik aktif akibat interaksi Lempeng Australia dan Eurasia. Gempa 1992 terjadi sangat dekat dengan pantai dan menghasilkan deformasi dasar laut yang efektif membangkitkan tsunami.
 
Namun, ada satu hal menarik. Model tsunami yang hanya menggunakan deformasi akibat patahan dapat menjelaskan banyak hasil pengamatan, tetapi tidak mampu mereproduksi run-up ekstrem 26,2 meter di Riangkroko.
 
Dia mengatakan penelitian terdahulu menunjukkan adanya indikasi longsoran di beberapa lokasi dan memperlihatkan kombinasi deformasi tektonik, longsoran, serta kondisi batimetri yang curam dapat memperkuat tsunami secara lokal. 
 
"Dengan demikian, angka 26,2 meter di Riangkroko tidak seharusnya dianggap semata-mata sebagai akibat langsung dari magnitudo gempa,” tutur Widjo.
  Gempa pada 2026 meskipun magnitudonya kembali mencapai Mw 7,7, hasil pemodelan awal menunjukkan tsunami yang ditimbulkan relatif kecil. Pemodelan sumber gempa ini menggunakan finite-fault model dari United States Geological Survey (USGS), yaitu model yang menggambarkan sumber gempa dan bidang sesarnya secara lebih rinci.
 
Selanjutnya, perambatan gelombang tsunami dimodelkan menggunakan Model TUN3-BRIN untuk melihat bagaimana tsunami menjalar dari sumber gempa menuju wilayah pantai. Namun, di beberapa lokasi, tinggi tsunami yang teramati masih lebih besar daripada hasil simulasi.
 
“Perbedaan ini menarik untuk dikaji lebih lanjut, terutama setelah data sumber gempa, batimetri (kedalaman laut), dan rekaman perubahan muka laut semakin lengkap,” ucap dia.
 
Widjo menekankan perlu hati-hati membandingkan angka tsunami kedua kejadian. 26,2 meter pada 1992 adalah run-up yang diukur di daratan, sedangkan sekitar 1,6 meter pada 2026 merupakan tinggi tsunami yang terukur pada lokasi pemantauan. 
 
"Keduanya bukan besaran yang persis sama. Namun, perbedaannya tetap memperlihatkan bahwa respons tsunami kedua kejadian memang sangat berbeda,” ujar dia. 
 
Ia menekankan pelajaran terpenting dari Flores bukan ancaman tsunami telah berkurang. Sebaliknya, gempa 2026 kembali menunjukkan sistem Flores Back-Arc Thrust masih aktif dan mampu menghasilkan gempa besar.
 
Sejarah 1992 juga menunjukkan tsunami lokal dapat mencapai pantai hanya dalam beberapa menit. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat pesisir tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu.
 
Karena itu, setelah merasakan gempa kuat atau guncangan yang berlangsung cukup lama di wilayah pantai, tindakan paling aman adalah segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi, tanpa menunggu datangnya sirene.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan