Yohan Rubiyantoro, mahasiswa S3 penerima beasisww LPDP di S3 di University of Nottingham, Inggris.
Yohan Rubiyantoro, mahasiswa S3 penerima beasisww LPDP di S3 di University of Nottingham, Inggris.

Cerita PNS Dua Kali Lolos LPDP, Ternyata Ini Kuncinya

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Ilham Pratama Putra • 09 April 2020 11:28
Jakarta: Tekun dalam latihan soal berbasis Tes Potensi Akademik (TPA) diyakini Yohan Rubiyantoro sebagai kunci awal baginya untuk lolos seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tak hanya sekali, kunci ini juga yang mengantarkan Yohan dua kali berturut-turut menjadi penerima beasiswa LPDP.
 
"Selain belajar melalui buku TPA, soal juga bisa dicari di internet. Banyak yang menyediakan unduhan secara gratis. Teman-teman mulai latihan soal, agar membiasakan diri dengan soal tersebut. Ini harus dibiasakan dan dilatih," tegas Yohan dalam konferensi video, Rabu 8 April 2020.
 
Selain itu, lulusan S2 University of Birmingham ini juga menyebut, pendaftar LPDP harus melatih kemampuan menulis. Sebab pendaftar LPDP juga diberi tantangan untuk membuat esai.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Latihan menulis ini penting. Memang tema sudah ditentukan. Tapi argumen kita menjadi penting. Biasanya tema dipilihkan berdasarkan kampus yang dituju dan program studi yang kita ambil," ujarnya.
 
Baca juga:Pendaftaran dan Seleksi LPDP 2020 Ditunda
 
Pada tahap seleksi wawancara, peserta diminta untuk lebih cermat. Sebab pada sesi inilah momentum krusial seseorang akan diloloskan beasiswanya untuk melanjutkan studi pada kampus yang telah dipilih.
 
"Pastikan teman-teman menjawab setiap pertanyaan pewawancara dengan nada bicara yang jelas, percaya diri, dan tidak meledak-ledak. Ingat, jangan grogi. Sebab kalau kita sudah grogi, biasanya apa yang di pikiran kita akan buyar," jelas Yohan.
 
Dia mengungkapkan, dalam sesi wawancara akan ada tiga orang pewawancara. Terdiri dari akademisi, praktisi, dan psikolog.
 
"Yang akademisi atau praktisi akan menanyakan terkait rencana studi kita, latar belakang dan sebagainya. Sementara psikolog akan banyak bertanya bagaimana kita menghadapi tantangan perkuliahan di kampus yang kita tuju," papar Yohan.
 
Baca juga:Penerima Beasiswa LPDP Tidak Boleh Dapat IPK 'Jongkok'
 
Pria yang kini berstatus sebagai staf Dirjen Paud dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini mengungkapkan, setiap orang memiliki kesempatan untuk mendapat beasiswa. Peserta diminta untuk tidak minder ketika memang belum memiliki rekam jejak pendidikan maupun pekerjaan yang mendukung.
 
Yang terpenting, kata Yohan, calon pendaftar harus terus meng-update perkembangan pembukaan beasiswa LPDP. Sebab aturan beasiswa bisa berubah sewaktu-waktu.
 
"Jangan sampai teman-teman melamar LPDP dengan modal buku panduan beasiswa yang lama atau yang sebelumnya. Sebab, tiap tahun bisa saja ada perubahan syarat beasiswa LPDP, misalnya syarat usia," lanjut Yohan.
 
Baca juga:Penerima LPDP Diminta Jauhkan Diri dari 'Copy Paste'
 
Termasuk juga di dalamnya kelengkapan administrasi. Jika ada persyaratan yang belum bisa terpenuhi, ada baiknya peserta menunda pendaftaran.
 
"Jangan memaksakan diri, jika memang syarat TOEFL-nya belum memenuhi syarat, jangan langsung mendaftar. Sebaiknya tingkatkan dulu skornya, setelah cukup baru melamar," kata dia.
 
Sebab pendaftaran LPDP diproses oleh sistem komputerisasi. Jika ada syaratnya yang tidak terpenuhi, otomatis gugur.
 
"Kan sayang. Jadi pastikan teman-teman memenuhi persyaratannya, dari sisi usia, nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan lainnya," pungkas Yohan yang kini tengah melanjutkan studi beasiswa LPDP untuk gelar S3 di University of Nottingham, Inggris.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif