Jakarta: Letusan dahsyat Krakatau pada 1883 ternyata bukan satu-satunya peristiwa besar yang menjadi perhatian peneliti. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan indikasi adanya letusan pembentuk kaldera yang diperkirakan terjadi berabad-abad sebelum peristiwa 1883.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Aditya Pratama mengatakan penelitian terhadap Krakatau perlu melihat rentang sejarah yang panjang. Dengan cara itu, peneliti dapat memahami perubahan sistem gunung api sebelum munculnya Anak Krakatau.
Menurut Aditya, berdasarkan catatan sejarah dan karakteristik ice core di Antarktika, diperkirakan Krakatau pernah mengalami caldera-forming eruption sebelum 1883. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sekitar abad ke-4, ke-5, atau ke-6.
"Setidaknya terdapat dua periode letusan pembentuk kaldera yang menjadi perhatian dalam sejarah Krakatau, yakni peristiwa yang diperkirakan terjadi pada abad ke-4 hingga ke-6 dan letusan 1883," kata Aditya dalam Geohazard Webinar 2026 #5, Senin, 14 September 2026.
Namun, Aditya menyebut timnya belum menemukan produk letusan yang dapat secara langsung mengonfirmasi peristiwa tersebut. Karena itu, informasi tersebut masih menjadi bagian dari rekonstruksi sejarah geologi Krakatau.
BRIN kemudian membagi perkembangan Krakatau menjadi tiga periode. Pertama, old Krakatau yang mencakup periode sebelum letusan pembentuk kaldera pertama hingga peristiwa tersebut.
Kedua, Krakatau muda setelah letusan pembentuk kaldera pertama hingga letusan besar pada 1883. Periode ketiga adalah Anak Krakatau yang muncul setelah 1883.
Aditya menjelaskan Anak Krakatau mulai muncul di permukaan pada 1927 dan menjadi bagian dari sistem Krakatau yang dipelajari hingga saat ini. Sejarah panjang tersebut menjadi penting karena Krakatau tidak dipandang sebagai satu gunung api dengan satu periode kehidupan.
Perubahan pusat erupsi dan letusan besar yang pernah terjadi menjadi bagian dari rekaman geologi yang dapat digunakan untuk memahami perkembangan sistem magma. Peneliti juga melihat adanya tiga pusat erupsi pada periode Krakatau muda.
"Ketiganya adalah Rakata dan dua pusat erupsi lainnya yang kemudian hancur dalam letusan besar. Saat ini, Rakata menjadi salah satu sisa dari pusat erupsi tersebut, meski bagian gunung tersebut juga telah hilang," papar dia.
Untuk membaca perubahan tersebut, BRIN mengambil sampel batuan dari berbagai periode. Sampel kemudian dianalisis melalui petrografi, geokimia, geotermobarometri, kimia mineral dan gelas, hingga kemagnetan batuan.
"Data tersebut digunakan untuk melihat bagaimana kondisi dapur magma dan karakteristik magma berubah dari satu periode ke periode lainnya. Peneliti kemudian membandingkan pola tersebut dengan siklus perkembangan gunung api lain yang pernah mengalami letusan pembentuk kaldera," jelas dia.
Dengan membaca sejarah panjang Krakatau, BRIN berharap dapat memperoleh gambaran mengenai posisi Anak Krakatau dalam perkembangan sistem gunung api tersebut. "Namun, penelitian ini masih berjalan dan hasil yang lebih komprehensif masih menunggu analisis lanjutan," kata dia.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan