Tampak atas Gunung Anak Krakatau. Foto: Kementerian ESDM
Tampak atas Gunung Anak Krakatau. Foto: Kementerian ESDM

Intip Dapur Magma Anak Krakatau, BRIN Bedah 16 Sampel Batuan Lewat Geotermobarometri

Ilham Pratama Putra • 14 September 2026 13:25
Ringkasnya gini..
  • BRIN teliti dapur magma Anak Krakatau gunakan analisis geotermobarometri, petrografi, dan kemagnetan.
  • Pengujian 16 sampel batuan Old Krakatau hingga Anak Krakatau ungkap perbedaan mineral seperti olivin.
  • Data tekanan dan suhu dikonversi untuk membangun model kedalaman dapur magma secara lebih presisi.
Jakarta: Apa yang terjadi di bawah permukaan Anak Krakatau tidak bisa dilihat langsung dari permukaan. Untuk mengetahui kondisi dapur magma gunung api tersebut, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membaca petunjuk yang tersimpan dalam mineral dan batuan Anak Krakatau.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Aditya Pratama mengatakan salah satu tujuan utama penelitian timnya adalah mengetahui perubahan kondisi dapur magma di bawah permukaan Krakatau. Karakteristik magma juga menjadi bagian penting dalam penelitian tersebut.

Salah satu metode yang digunakan untuk melihat karakteristik magma gunung Anak Krakatau adalah geotermobarometri. Metode tersebut digunakan dengan menganalisis komposisi kimia mineral untuk mengetahui tekanan dan suhu ketika mineral atau kristal terbentuk di bawah permukaan gunung.

"Jadi, tekanan dan suhu ketika kristal atau mineral tersebut terbentuk di bawah permukaan atau di dapur magma," kata Aditya dalam Geohazard Webinar 2026 #5, Senin, 14 September 2026.
Data tekanan tersebut kemudian dikonversikan menggunakan persamaan hidrostatis dengan memperhitungkan densitas batuan. Dari proses tersebut, peneliti dapat memperoleh perkiraan kedalaman tempat mineral terbentuk dan kemudian menggunakannya untuk membangun model bawah permukaan.

Peneliti tidak hanya mengandalkan satu metode. Analisis petrografi digunakan untuk mengamati tekstur dan mineralogi batuan, sementara analisis geokimia, kimia mineral dan gelas juga dilakukan menggunakan sejumlah instrumen.

Analisis kemagnetan batuan turut digunakan sebagai pelengkap. Metode tersebut membantu mengonfirmasi sejumlah hal yang mungkin belum dapat diperoleh hanya melalui geokimia atau petrografi.

Untuk penelitian tersebut, BRIN menggunakan sampel batuan dari beberapa periode sejarah Krakatau. Sampel mencakup old Krakatau, Krakatau, hingga Anak Krakatau.

Aditya mengatakan penelitian menggunakan 16 sampel batuan. Sampel tersebut menjadi bagian dari penelitian awal yang masih terus dikembangkan dengan data dan analisis tambahan.

Dari hasil petrografi, peneliti menemukan karakteristik mineral yang secara umum relatif mirip antara sampel old Krakatau, Krakatau, dan Anak Krakatau. Namun, terdapat perbedaan pada sampel Anak Krakatau, salah satunya ditemukannya olivin.

Perbedaan juga terlihat ketika peneliti mengamati mineral magnetik. Aditya menyebut terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara sampel Anak Krakatau dengan sampel old Krakatau dan Krakatau.

Seluruh informasi tersebut kemudian digunakan untuk membaca perubahan sistem magma Krakatau dari waktu ke waktu. Peneliti ingin mengetahui apakah perubahan karakteristik magma dan kondisi bawah permukaan dapat menunjukkan posisi Anak Krakatau dalam siklus perkembangan gunung api.

Dengan kata lain, batuan yang terlihat sederhana di permukaan menjadi salah satu "rekaman" penting bagi ilmuwan. Utamanya untuk membaca apa yang pernah terjadi di bawah Krakatau dan reaksi dari berbagai komponen yang tersimpan di dalamnya.

"Saat ini, analisis lebih lanjut masih diperlukan agar model kondisi bawah permukaan Anak Krakatau dapat disusun secara lebih komprehensif," tutur Aditya. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan