Jakarta: Sebanyak tujuh gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang relatif berdekatan pada akhir pekan lalu. Erupsi tersebut kerap dianggap sebagai suatu fenomena ‘domino’ yang disebabkan oleh satu faktor geologis.
Erupsi diawali Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda pada Jumat malam, 4 September 2026. Erupsi susulan terjadi pada Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Lewotobi Laki-Laki di NTT, Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Dukono di Maluku Utara, dan Gunung Semeru di Jawa Timur.
Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), M Haris Miftakhul Fajar, menjelaskan aktivitas vulkanik dan tektonik yang terjadi merupakan fenomena biasa yang dipicu oleh tingginya proses kebumian. Termasuk, gempa bumi serta erupsi gunung api yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara.
“Fenomena meletusnya beberapa gunung api secara bersamaan itu merupakan bagian dari dinamika alam akibat aktivitas tektonik regional,” tutur Haris dalam keterangan tertulis, Selasa, 8 September 2026.
Haris memaparkan setiap gunung api pada dasarnya memiliki karakteristik unik serta siklus erupsi yang berbeda satu sama lain. Sehingga, perilaku aktivitasnya tidak dapat disamaratakan.
Masing-masing gunung api memiliki sistem dapur magma, proses magmatisme, dan karakteristik tektonik yang independen. Misalnya, Gunung Semeru dan Krakatau dipengaruhi oleh interaksi lempeng Asia-Australia yang menunjam di bawah Lempeng Eurasia (Sunda).
Sementara Gunung Ibu memiliki sistem tektonik yang berbeda akibat adanya double subduction. Sedangkan, Gunung Lewotolok memiliki keunikan karena berada di dekat batas proses subduction yang telah berakhir.
“Kondisi itu menyisakan struktur geologi berupa robekan pada lempeng slab yang tersubduksi sehingga mengakibatkan tersedianya pasokan magma,” papar Haris.
Kepala Departemen Geofisika ITS tersebut juga menerangkan dapur magma di dalam perut bumi bekerja layaknya ruangan berongga besar mirip spons. Ruangan berongga besar tersebutlah yang menampung lelehan batuan cair dari dalam bumi.
Haris menuturkan kandungan fluida dan uap air yang melimpah di dalam magma memiliki karakteristik yang mirip dengan cairan bersoda di dalam botol tertutup. “Semakin tingginya tekanan gasnya, maka saat jalurnya terbuka akan memicu erupsi terjadi,” tutur dia.
Pada lain sisi, kantong magma akan mengalami proses pendinginan perlahan-lahan jika suplai magma dari bawah bumi terhenti dan tidak ada lagi pemicu aktivitas tektonik. Pendinginan yang berjalan sangat lambat ini membuat mineral-mineral tertentu mengkristal secara teratur.
“Sehingga aktivitas vulkanik gunung tersebut lambat laun akan berhenti dengan sendirinya tanpa harus memicu letusan,” beber Haris.
Aktivitas erupsi gunung api juga dipicu oleh faktor eksternal seperti guncangan gempa bumi tektonik yang memberikan tekanan kantong magma yang sudah penuh. Di mana peningkatan tekanan mendadak membuat tutup atau celah kantong magma terlepas dan memicu terjadinya letusan.
Namun, hal itu juga sangat dipengaruhi oleh jarak antara sumber gempa dan kantong magma. Oleh karena itu, Haris menekankan tingkat aktivitas tiap gunung api sangat bervariasi.
Sebagian tetap menunjukkan kegempaan dasar tanpa henti, sementara sebagian lain dapat dorman total selama ratusan tahun sebelum aktif kembali. Karena variasi inilah, pemantauan dilakukan terus-menerus dan diklasifikasikan dalam 4 level, yakni Normal, Waspada, Siaga, dan Awas.
Status ini diukur berdasarkan pemantauan seismisitas, deformasi bentuk gunung, pengamatan visual kolom asap, serta data geokimia. Misalnya, erupsi GAK yang didominasi oleh tipe letusan Strombolian hingga Hawaiian yang relatif tidak terlalu besar. Namun memang memiliki durasi yang berlangsung sangat lama hingga hampir 25 jam secara kontinu.
Durasi yang panjang membuat pasokan abu vulkanik terus disemburkan ke udara hingga mencapai ketinggian belasan kilometer. Sebaran abu terbagi ke dua arah, yakni tenggara ke wilayah Banten, dan barat daya ke Lampung hingga Samudra Hindia.
“Hal itu juga bergantung pada lapisan ketinggian angin, sebagaimana terkonfirmasi analisis citra Himawari-9 BMKG,” ujar dosen Departemen Geofisika ITS itu.
Haris menekankan dinamika gunung api merupakan proses alam yang perlu dipahami berdasarkan data pemantauan. Pemahaman terhadap karakter gunung api menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi dinamika kebumian.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan