Melansir laman resmi Kementerian ESDM, Magma Indonesia adalah aplikasi multiplatform yang dibuat secara mandiri oleh Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Geologi (PVMBG). Aplikasi ini berisikan Informasi dan rekomendasi kebencanaan geologi terintegrasi (gunung api, gempa bumi, tsunami dan gerakan tanah) yang disajikan kepada masyarakat secara kuasi-realtime dan interaktif.
Untuk mengetahui kondisi terbaru sebuah gunung api, masyarakat dapat mengeceknya melalui Magma Indonesia. Berikut caranya:
Cara Cek Gunung Api Aktif atau Tidak
- Buka laman resmi Magma Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id/)
- Setelah masuk, akan muncul peta Indonesia yang menampilkan titik-titik gunung api
- Cari gunung api yang ingin diketahui, lalu klik ikon gunung tersebut pada peta
- Setelah diklik, akan muncul informasi gunung api, termasuk tingkat aktivitas/statusnya
- Perhatikan status yang tercantum, apakah Level I (Normal), Level II (Waspada), Level III (Siaga), atau Level IV (Awas)
4 Level Status Gunung Api di Indonesia
Melansir laman BPBD Jogja, berikut Tingkatan Status Gunung Api:1. Level I (Normal)
Berdasarkan hasil pengamatan secara visual dan/atau instrumental dapat teramati fluktuasi, tetapi tidak memperlihatkan peningkatan kegiatan berdasarkan karakteristik masing-masing gunung api. Ancaman bahaya berupa gas beracun dapat terjadi di pusat erupsi berdasarkan karakteristik masing-masing gunung api.2. Level II (Waspada)
Berdasarkan hasil pengamatan secara visual dan/atau instrumental mulai teramati atau terekam gejala peningkatan aktivitas gunung api. Pada beberapa gunung api dapat terjadi erupsi, tetapi hanya menimbulkan ancaman bahaya di sekitar pusat erupsi berdasarkan karakteristik masing-masing gunung api.3. Level III (Siaga)
Berdasarkan hasil pengamatan secara visual dan/atau instrumental teramati peningkatan kegiatan yang semakin nyata atau dapat berupa erupsi yang mengancam daerah sekitar pusat erupsi, tetapi tidak mengancam pemukiman di sekitar gunungapi berdasarkan karakteristik. masing-masing gunung api.4. Level IV (Awas)
Berdasarkan hasil pengamatan secara visual dan/atau instrumental teramati peningkatan kegiatan yang semakin nyata atau dapat berupa erupsi yang mengancam pemukiman di sekitar gunung api berdasarkan karakteristik masing-masing gunung api.Istilah gunung api aktif mengacu pada karakteristik gunung tersebut, sedangkan Level I sampai IV menunjukkan tingkat aktivitasnya berdasarkan hasil pemantauan pada periode tertentu.
Sebagai contoh, Badan Geologi menyebut Gunung Anak Krakatau sebagai gunung api aktif. Pada laporan terbaru yang diterbitkan 7 September 2026, tingkat aktivitas Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga)
Gunung Api Aktif Dipantau Terus-Menerus
Pemantauan gunung api dilakukan secara berkelanjutan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi. Melansir instagram Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral @kesdm, pemantauan gunung api dilakukan melalui empat metode utama, yakni:deformasi untuk mendeteksi perubahan tubuh gunung dengan GPS, telemeter, dan EDM, visual melalui CCTV, kegempaan menggunakan seismometer, serta geokimia lewat pengukuran gas dan air langsung di lapangan.
Tujuannya adalah mendeteksi perubahan aktivitas sedini mungkin sehingga informasi yang diterima masyarakat dapat menjadi dasar mitigasi. Karena itu, jika ingin mengetahui kondisi sebuah gunung api, masyarakat sebaiknya menggunakan sumber resmi pemerintah, bukan hanya mengandalkan unggahan media sosial atau informasi lama. (Levina Fidelia)