Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Aditya Pratama mengatakan pertanyaan mengenai kemungkinan terulangnya letusan serupa muncul kembali. Terlebih setelah erupsi Anak Krakatau pada 4 dan 5 September 2026.
"Pertanyaan besarnya apakah memungkinkan terjadi letusan yang serupa di 1883. Itu kekhawatiran banyak orang," ujar Aditya dalam Geohazard Webinar 2026 #5, Senin, 14 September 2026.
Baca Juga :
Kenapa Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar ke Jabodetabek? Ini Penjelasan Pakar IPB
Namun, untuk memahami kemungkinan pola serupa, BRIN tidak hanya melihat letusan 1883. Peneliti justru menarik rekam jejak Krakatau jauh ke belakang untuk melihat bagaimana sistem gunung api tersebut berkembang dalam rentang waktu panjang.
Berdasarkan penelitian dan sejumlah literatur, terdapat indikasi Krakatau pernah mengalami letusan besar pembentuk kaldera sebelum 1883. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sekitar abad ke-4, ke-5, atau ke-6, meskipun produk letusannya belum ditemukan oleh tim peneliti.
Dari perspektif sejarah geologi tersebut, peneliti membagi perkembangan Krakatau menjadi tiga periode. Pertama adalah old Krakatau, kemudian Krakatau muda, dan terakhir Anak Krakatau yang merupakan fase yang terlihat saat ini.
Perbandingan tersebut diperlukan karena letusan pembentuk kaldera tidak terjadi tiba-tiba tanpa proses. Aditya menjelaskan terdapat pola perkembangan gunung api yang dapat dibagi ke dalam fase incubation, maturation, dan fermentation sebelum mencapai letusan pembentuk kaldera.
Salah satu hal yang diperhatikan adalah kondisi dapur magma. Pada fase awal, reservoir magma besar berada lebih dalam dan kantong magma di kedalaman dangkal masih berukuran kecil.
"Menjelang fase lebih lanjut, kantong-kantong tersebut dapat berkembang menjadi reservoir besar di kedalaman yang lebih dangkal," tutur dia.
BRIN juga melihat karakteristik magma dan pola aktivitas erupsi. Perubahan tersebut kemudian dibandingkan dengan pola yang ditemukan pada gunung api lain yang memiliki sejarah letusan pembentuk kaldera.
Baca Juga :
Kenali Bedanya Gempa Tektonik dan Vulkanik
Untuk mendapatkan gambaran tersebut, BRIN menggunakan sampel batuan dari berbagai periode Krakatau. Analisis dilakukan untuk mengetahui kondisi pembentukan mineral, karakteristik magma, hingga memperkirakan kondisi dapur magma di bawah permukaan.
Dengan pendekatan tersebut, penelitian BRIN bukan sekadar membandingkan Anak Krakatau dengan foto atau catatan letusan 1883. Para peneliti berusaha membaca "jejak" yang ditinggalkan magma dan batuan untuk mengetahui bagaimana sistem Krakatau berkembang.
Meski demikian, penelitian ini masih berjalan. Aditya menyebut data yang tersedia dalam publikasi tersebut masih bersifat awal dan analisis lebih lanjut diperlukan agar gambaran mengenai kondisi Anak Krakatau menjadi lebih komprehensif.
"Posisi Anak Krakatau dalam siklus perkembangan gunung api dapat dipahami berdasarkan bukti geologi, bukan sekadar aktivitas yang terlihat di permukaan," tegas dia.