Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menelusuri posisi Anak Krakatau dalam siklus perkembangan gunung api untuk mengetahui fase yang sedang berlangsung saat ini. Penelusuran dilakukan dengan melihat perubahan kondisi dapur magma dan karakteristik magma Krakatau dari berbagai periode sejarah.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aditya Pratama mengatakan penelitian tersebut penting untuk melihat pola letusan gunung Anak Krakatau. Dari letusan saat ini, diteliti apakah ada kemiripan dengan pola letusan gunung anak Krakatau pada 1883.
"Jadi kami sedang meneliti sehingga kita bisa mengetahui Anak Krakatau saat ini berada pada apa," kata Aditya dalam Geohazard Webinar 2026 #5, Senin, 14 September 2026.
Penelitian tersebut tidak hanya melihat Anak Krakatau yang muncul di permukaan sejak 1927. Para peneliti juga menelusuri rekam geologi Krakatau tua dan Krakatau sebelum letusan 1883 untuk melihat perubahan yang terjadi dalam rentang waktu panjang.
Aditya menjelaskan dalam model siklus pembentukan kaldera, terdapat sejumlah fase sebelum sebuah gunung api mengalami letusan pembentuk kaldera. Fase tersebut antara lain incubation, maturation, dan fermentation.
Ia menjelasakan terdapat perbedaan setiap fase yang dapat dilihat dari kondisi dapur magma gunung Anak Krakatau. Pada fase incubation, reservoir magma besar cenderung berada lebih dalam, sementara di kedalaman dangkal hanya terdapat kantong-kantong magma berukuran kecil.
Memasuki fase maturation hingga fermentation, kantong magma di kedalaman dangkal dapat berkembang menjadi reservoir yang lebih besar. Karakteristik magma juga dapat berubah dalam siklus tersebut.
Aditya menjelaskan magma pada fase awal cenderung lebih mafik atau basaltik. Sedangkan menjelang fase fermentation magma menjadi lebih matang.
Pola aktivitas erupsi juga menjadi salah satu petunjuk. Pada fase awal, letusan dapat terjadi lebih sering tetapi dengan intensitas relatif lebih kecil.
Sementara menjelang fase fermentation dalam erupsi, frekuensi letusan disebut semakin sedikit sebelum kemudian terjadi letusan pembentuk kaldera yang sangat besar. Untuk melihat posisi Anak Krakatau, BRIN membandingkan berbagai peristiwa erupsi dari periode old Krakatau hingga Anak Krakatau.
Penelitian hingga hari ini belum dapat ditarik kesimpulan Anak Krakatau sedang menuju letusan besar. Aditya menegaskan riset yang dilakukan masih bersifat preliminary dan analisis lanjutan masih diperlukan.
BRIN menggunakan 16 sampel batuan dari tiga periode Krakatau untuk penelitian tersebut. Sampel kemudian dianalisis melalui petrografi, geotermobarometri, geokimia, kimia mineral dan gelas, hingga analisis kemagnetan batuan.
Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai perubahan kondisi dapur magma serta karakteristik magma Anak Krakatau. Dengan begitu, posisi Anak Krakatau dalam siklus perkembangan gunung api dapat dipahami berdasarkan bukti geologi.
"Bukti geologi ini sangat penting untuk dilihat, karena penelitian bukan sekadar melihat aktivitas yang terlihat di permukaan," tegas dia.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan