Fenomena ini bukanlah sekadar keanehan visual semata, melainkan mekanisme adaptasi fisiologis yang luar biasa. Cairan berwarna merah ini diproduksi oleh kelenjar khusus untuk melindungi kulit kuda nil yang tipis dan sensitif di tengah sengatan matahari tropis.
Di balik warnanya yang mencolok seperti darah, tersimpan rahasia senyawa kimia alami yang berfungsi ganda sebagai pelindung sinar ultraviolet sekaligus pembasmi bakteri.
Kulit kuda nil memiliki ketebalan sekitar lima sentimeter, sebagian besar tidak berambut, dan sangat rapuh terhadap udara kering serta sengatan matahari. Karena menghabiskan banyak waktu di luar air untuk mencari makan, kuda nil membutuhkan perlindungan ekstra agar kulitnya tidak rusak.
Lantas, bagaimana cairan merah tersebut bekerja dan mengapa warnanya bisa menyerupai darah? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!
Mengapa Keringat Kuda Nil Berwarna Merah?
Melansir laman IFLScience dan Science History Institute, secara teknis cairan merah pada kuda nil bukanlah darah dan bukan pula keringat biasa seperti milik manusia. Cairan kental ini disekresikan oleh kelenjar subdermal yang terletak di bawah lapisan kulit.Saat pertama kali keluar dari pori-pori, cairan ini sebenarnya tidak berwarna. Namun, dalam hitungan menit setelah terpapar udara, pigmen di dalamnya mengalami reaksi kimia atau polimerisasi yang mengubah warnanya menjadi merah cerah, hingga perlahan berubah menjadi kecokelatan.
Warna merah mencolok tersebut berasal dari dua jenis pigmen asam organik yang sangat khas, antara lain:
1. Asam Hiposudorat (Hipposudoric acid)
Pigmen berwarna merah yang bertindak sebagai agen antibakteri alami untuk mencegah infeksi luka.2. Asam Norhiposudorat (Norhipposudoric acid)
Pigmen berwarna jingga yang melengkapi struktur pelindung kulit.Kedua senyawa ini bekerja menyerap radiasi sinar ultraviolet (UV) pada gelombang 290 hingga 400 nanometer. Artinya, cairan merah ini berfungsi sebagai tabir surya (sunscreen) alami yang melindungi tubuh kuda nil dari bahaya sengatan matahari.
Tetap Menempel di Air dan Tidak Luntur
Kuda nil menghabiskan sebagian besar waktunya berendam di dalam air. Secara logika, cairan yang mengalir di kulit seharusnya mudah terbilas dan hilang terbawa arus air.Cairan ini memiliki tekstur pekat menyerupai putih telur dan mengandung konsentrasi mukus atau lendir yang sangat tinggi. Kandungan lendir ini membuat cairan memiliki daya rekat yang kuat sehingga tetap melapisi permukaan kulit meskipun kuda nil sedang menyelam atau berenang.
Selain menahan gempuran air, lapisan lendir ini juga menjaga kelembapan kulit kuda nil agar tidak mudah retak di area lingkungan yang kering.
Mitos 'Membuka Pembuluh Darah'
Tampilan cairan merah ini sangat mirip dengan darah, hingga melahirkan legenda kuno di Mesir. Pada zaman dahulu, masyarakat percaya ketika kuda nil merasa sakit atau terlalu gemuk, mereka secara sengaja menggoreskan tubuhnya ke tumbuhan alang-alang tajam di tepi Sungai Nil untuk mengeluarkan darah (bloodletting).Pengamatan yang keliru tersebut bahkan sempat menginspirasi dunia medis kuno untuk menerapkan metode pengeluaran darah pada pasien manusia sebagai prosedur penyembuhan. Praktik medis yang tidak efektif tersebut bertahan selama ratusan tahun hanya karena salah menafsirkan sekresi alami kulit kuda nil.
Kini, penelitian modern membuktikan cairan merah tersebut sepenuhnya murni ciptaan biologis kuda nil untuk bertahan hidup. Sebuah tabir surya dan antibiotik alami yang mengagumkan.
Itulah ulasan mengenai mengapa keringat kuda nil berwarna merah. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan Sobat Medcom, ya! (Talitha Islamey)