Gunung Anak Krakatau. Foto: BNPB
Gunung Anak Krakatau. Foto: BNPB

Temuan BRIN: Karakteristik Magma Anak Krakatau Berbeda dari Periode Krakatau Purba

Ilham Pratama Putra • 14 September 2026 13:32
Ringkasnya gini..
  • BRIN temukan kandungan olivin dan perbedaan mineral magnetik signifikan pada batuan Anak Krakatau.
  • Analisis petrografi dan geotermobarometri digunakan untuk petakan perubahan sistem dapur magma.
  • Penelitian awal 16 sampel batuan ini penting untuk memahami sejarah dan dinamika erupsi Krakatau.
Jakarta: Anak Krakatau ternyata menunjukkan karakteristik magma yang berbeda dibandingkan dengan sampel Krakatau dan old Krakatau. Hal ini terungkap dalam penelitian awal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Perbedaan utamanya terlihat dari mineral penyusun batuan hingga karakteristik mineral magnetiknya. Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Aditya Pratama mengatakan analisis dilakukan terhadap sampel batuan dari berbagai periode perkembangan Krakatau. 

"Dari segi mineralogi, relatif mirip antara sampel di old Krakatau, Krakatau, dan Anak. Hanya saja mungkin yang relatif membedakan itu di Anak Krakaratu, kita temukan olivin," ungkap Aditya dalam Geohazard Webinar 2026 #5, Senin, 14 September 2026.  Menurut dia, penelitian ini penting untuk melihat perubahan karakteristik magma dari masa ke masa. Temuan tersebut menunjukkan adanya perbedaan karakteristik magma setidaknya pada sampel yang dianalisis. 

Meski begitu, Aditya menekankan perbedaan itu bukan berarti tidak ada karakter magma yang serupa pada Krakatau Tua dan Anak Krakatau. Pengetahuan ini penting juga untuk modal awal meneliti pola erupsi dan material yang disimpan dalam magma.

"Pada tahap ini kita bisa melihat bahwa memang ada perbedaan. Paling tidak dari karakteristik magma kalau kita melihat dari mineralogi," ujar dia.

BRIN menggunakan analisis petrografi untuk mengetahui perbedaan lebih lanjut. Metode ini digunakan untuk mengamati tekstur dan mineralogi batuan yang diambil dari berbagai periode Krakatau.

Tidak berhenti di situ, BRIN juga melihat mineral magnetik yang terdapat pada batuan. Hasil pengamatan menunjukkan adanya perbedaan cukup signifikan antara sampel Anak Krakatau dengan sampel old Krakatau dan Krakatau.

Pada sampel old Krakatau dan Krakatau, peneliti menemukan cukup banyak mineral magnetik non-titanomagnetite. Aditya menyebut di antaranya terdapat ilmen-titanomagnetite.

Perbedaan mineral tersebut menjadi salah satu petunjuk untuk memahami bagaimana karakteristik magma Krakatau berubah sepanjang sejarahnya. Data itu kemudian dipadukan dengan analisis lain untuk melihat kondisi sistem magma di bawah permukaan.

BRIN juga menggunakan metode geotermobarometri untuk mengetahui tekanan dan suhu ketika mineral terbentuk. Dari data tersebut, peneliti dapat memperkirakan kedalaman dapur magma yang kemudian digunakan dalam pemodelan kondisi bawah permukaan. Penelitian tersebut menggunakan 16 sampel batuan yang mewakili tiga periode perkembangan Krakatau. Aditya menyebut penelitian ini masih merupakan riset awal sehingga analisis dan data tambahan masih diperlukan.

Temuan perbedaan karakteristik magma tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari upaya BRIN memahami posisi Anak Krakatau saat ini. Peneliti tidak hanya ingin mengetahui seperti apa magma Anak Krakatau.

"Peneliti terus berusaha mengetahui bagaimana perubahan sistem magma tersebut jika dibandingkan dengan sejarah panjang Krakatau," ujar dia.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan