Jakarta: Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Namun, kondisi tersebut belum membuat pemerintah lengah karena potensi dampak lanjutan, terutama tsunami, tetap menjadi perhatian di wilayah pesisir Lampung.
Dilansir dari laman BNPB pada Kamis, 10 september 2026, Kedeputian Bidang Pencegahan melakukan pemantauan dan pendampingan di Lampung Selatan pada Selasa, 8 September 2026. Dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Hargo Pancuran, erupsi masih terjadi dalam skala kecil, namun secara umum menunjukkan tren penurunan bertahap.
Tim BNPB bersama BPBD Lampung Selatan mengecek fasilitas kesiapsiagaan di sejumlah desa, seperti Kalianda, Sukaraja, Way Muli, Tarahan, Banding, dan Tri Tunggal. Pemantauan juga dilakukan langsung di pos pengamatan untuk melihat perkembangan aktivitas gunung.
Baca Juga :
Kemenpar Siapkan Penanganan Wisatawan Terdampak Erupsi Anak Krakatau
Lampung Siapkan Skenario Tsunami dan Periksa Sirene
Meski aktivitas Gunung Anak Krakatau cenderung menurun, Pemerintah Provinsi Lampung dan BPBD tetap menyiapkan Rencana Kontingensi (Renkon) Tsunami jika aktivitas gunung berkembang dan meningkatkan potensi ancaman tsunami.
Seluruh BPBD kabupaten/kota juga diminta memastikan jalur evakuasi serta Sirene Peringatan Dini Tsunami dalam kondisi siap digunakan. Salah satu yang masih menjadi perhatian adalah sirene peringatan dini tsunami di wilayah Sukaraja yang masih dalam proses perbaikan.
Di sisi lain, NGO Mitra Bantala juga akan membangun satu unit sirene baru di Desa Maja, Kecamatan Kalianda, sebagai bagian dari penguatan sistem peringatan dini di pesisir Lampung Selatan.
Tak hanya itu, untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik, BPBD Lampung dan Lampung Selatan terus membagikan masker di sejumlah titik keramaian. Pemerintah Provinsi Lampung juga telah mengajukan dukungan kepada BNPB berupa 500.000 masker, 500.000 botol hand sanitizer, 1.000 paket peralatan kebersihan, 300 sprayer pemadam kebakaran, dan 200 tabung oksigen.
Sementara itu, aktivitas masyarakat secara umum mulai kembali normal dan Bandara Raden Inten II juga telah kembali beroperasi. Meski begitu, BNPB tetap meminta warga tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari pemerintah, serta mematuhi arahan petugas apabila terjadi perubahan kondisi atau peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jakarta: Aktivitas
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Namun, kondisi tersebut belum membuat pemerintah lengah karena potensi dampak lanjutan, terutama tsunami, tetap menjadi perhatian di wilayah pesisir Lampung.
Dilansir dari laman
BNPB pada Kamis, 10 september 2026, Kedeputian Bidang Pencegahan melakukan pemantauan dan pendampingan di Lampung Selatan pada Selasa, 8 September 2026. Dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Hargo Pancuran, erupsi masih terjadi dalam skala kecil, namun secara umum menunjukkan tren penurunan bertahap.
Tim BNPB bersama BPBD Lampung Selatan mengecek fasilitas kesiapsiagaan di sejumlah desa, seperti Kalianda, Sukaraja, Way Muli, Tarahan, Banding, dan Tri Tunggal. Pemantauan juga dilakukan langsung di pos pengamatan untuk melihat perkembangan aktivitas gunung.
Lampung Siapkan Skenario Tsunami dan Periksa Sirene
Meski aktivitas Gunung Anak Krakatau cenderung menurun, Pemerintah Provinsi Lampung dan BPBD tetap menyiapkan Rencana Kontingensi (Renkon) Tsunami jika aktivitas gunung berkembang dan meningkatkan potensi ancaman tsunami.
Seluruh BPBD kabupaten/kota juga diminta memastikan jalur evakuasi serta Sirene Peringatan Dini Tsunami dalam kondisi siap digunakan. Salah satu yang masih menjadi perhatian adalah sirene peringatan dini tsunami di wilayah Sukaraja yang masih dalam proses perbaikan.
Di sisi lain, NGO Mitra Bantala juga akan membangun satu unit sirene baru di Desa Maja, Kecamatan Kalianda, sebagai bagian dari penguatan sistem peringatan dini di pesisir Lampung Selatan.
Tak hanya itu, untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik, BPBD Lampung dan Lampung Selatan terus membagikan masker di sejumlah titik keramaian. Pemerintah Provinsi Lampung juga telah mengajukan dukungan kepada BNPB berupa 500.000 masker, 500.000 botol hand sanitizer, 1.000 paket peralatan kebersihan, 300 sprayer pemadam kebakaran, dan 200 tabung oksigen.
Sementara itu, aktivitas masyarakat secara umum mulai kembali normal dan Bandara Raden Inten II juga telah kembali beroperasi. Meski begitu, BNPB tetap meminta warga tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari pemerintah, serta mematuhi arahan petugas apabila terjadi perubahan kondisi atau peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
(Wisa Irena Br Sitepu)
(ANN)