Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Fesal Musaad, mengatakan konsep HGN 2026 tengah dimatangkan agar tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Kemenag ingin menghadirkan kegiatan yang relevan dengan kebutuhan guru sekaligus memberikan dampak nyata bagi lingkungan madrasah.
“Kita ingin memastikan HGN 2026 dikemas secara sederhana namun bermakna. Kegiatan ini harus memiliki dampak langsung, baik dalam hal peningkatan kapasitas guru, pelestarian lingkungan, maupun semangat kebersamaan di lingkungan madrasah,” ujar Fesal melalui keterangan tertulis, Jumat, 23 Oktober 2026. Penguatan kompetensi menjadi salah satu agenda yang disiapkan melalui Sarasehan Guru Nasional. Forum tersebut dirancang untuk memperluas pemahaman guru mengenai perkembangan teknologi, khususnya pemanfaatan AI dan STEM dalam pembelajaran.
Kemenag juga merencanakan tindak lanjut program yang sebelumnya didukung Google Gemini. Melalui agenda ini, guru diharapkan memiliki ruang untuk mendiskusikan pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Arskal Salim GP, membeberkan agar konsep HGN 2026 lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ia mendorong agar peringatan tersebut tidak hanya berisi kegiatan seremonial, tetapi juga menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan guru dan warga madrasah.
Salah satu agenda yang disiapkan ialah program ekoteologi atau penguatan kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan ini tidak hanya berupa penanaman pohon, tetapi juga dapat mencakup pembuatan biopori, pemilahan sampah organik dan anorganik, pengolahan sampah menjadi kompos, serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Pesantren. Foto: Arga Sumantri/Medcom
Selain itu, Kemenag merancang Sport and Fun Activity untuk menjaga kebugaran sekaligus mempererat kebersamaan antarguru dan warga madrasah. Pelaksanaannya diharapkan memperhatikan kearifan lokal agar sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.
Peringatan HGN 2026 juga direncanakan menjadi momentum pemberian penghargaan kepada guru yang menunjukkan dedikasi dalam dunia pendidikan. Perhatian khusus diarahkan kepada guru yang mengabdi di daerah dengan berbagai keterbatasan dan terus berkontribusi bagi peserta didik.
Agenda lainnya meliputi upacara peringatan HGN dan malam penganugerahan guru. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi bentuk apresiasi atas peran guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan madrasah.
Arskal menegaskan HGN juga perlu menjadi kesempatan untuk mengevaluasi berbagai kebijakan yang berkaitan dengan profesi guru. Evaluasi tersebut mencakup akselerasi Pendidikan Profesi Guru (PPG), afirmasi bagi guru non-ASN, hingga pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“HGN harus menjadi momentum time to check untuk melihat sejauh mana kebijakan seperti akselerasi PPG, afirmasi guru non-ASN, hingga pengangkatan PPPK benar-benar memberikan perubahan positif bagi masa depan profesi guru,” ujar Arskal.