"Setelah 900 jam belajar di Bangkit, saya mendapat sertifikasi
Tensorflow Developer. Di sini saya juga belajar
time management sehingga membuat saya lebih bisa mengatur waktu dan mendorong saya untuk berani mencoba dulu dalam hal apa pun. Setelah lulus dari Bangkit, saya dipercaya menjadi IT Manager di Trapo Indonesia,” ungkap dia.
Adapula Farrel Athaillah Putra. Dia merupakan pemimpin proyek inkubasi 'Naratik' yang dihasilkan oleh Bangkit 2021.
"Naratik hadir sebagai
end-to-end batik platform, solusi bagi
home industry batik yang masih berjalan tradisional dan kesulitan dalam memasarkan produk padahal memiliki nilai jual yang tinggi,” kata Farrel.
Farrel dan tim mengembangkan tiga produk utama. Pertama, Naralens yang memanfaatkan
machine learning untuk membantu konsumen batik membedakan teknik pembuatan dan motif batik. Kemudian, Narashop yang menghubungkan konsumen dengan
home industry batik di berbagai daerah sehingga konsumen bisa memesan
customized batik yang tentunya eksklusif dan terjamin keasliannya. Terakhir, Narauction yang menjadi penyedia layanan lelang batik kuno.
Dari cerita Syifa dan Farrel, Nizam berharap, program Bangkit dapat memberikan inspirasi kepada mahasiswa Indonesia untuk bisa mengembangkan bakat melalui program-program Kampus Merdeka. “Syifa dan Farrel menyuguhkan pada kita semua tentang arti dari semangat untuk maju, kegigihan, dan inovasi. Ini semua spirit dari Kampus Merdeka,” ujar dia.
Nizam berpesan pada peserta Bangkit 2022 untuk menunjukkan kreativitas dan inovasi. Serta semangat untuk belajar mendapatkan ilmu-ilmu baru dan kompetensi baru yang aplikatif untuk memasuki dunia masa depan peserta.
Baca:
Program Bangkit 2022 Bergulir, Dorong Pemenuhan 9 Juta Talenta Digital Indonesia
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(REN)