Melalui revitalisasi pendidikan, anak-anak dipastikan mendapat haknya. Tak cuma akses sekolah, tetapi juga keamanan dan kenyamanan selama menempuh belajar di sekolah.
"Ketika merasa aman, orang tua juga aman melepas anak-anaknya, anak-anaknya juga nyaman belajar. Dan tentunya ketika itu nyaman, mereka akan lebih terbuka untuk menerima pelajaran," ujar Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani, saat menyambangi SDN Inpres Naimata, Kota Kupang dalam rangka Kunjungan Jurnalistik Revitalisasi Pendidikan, Selasa, 21 Juli 2026.
Farida menekankan akses sekolah penting. SD Inpres Naimata misalnya, setelah mendapat bantuan revitalisasi pendidikan kini mempunyai 12 ruang kelas baru, 1 ruang administrasi dan tiga unit toilet.
Sebelum revitalisasi, sekolah cuma punya enam kelas. Dengan siswa mencapai 526 siswa, pihak sekolah mesti membagi kegiatan belajar mengajar menjadi tiga sif.
Setelah revitalisasi, kini sekolah menjadi satu sif saja yakni mulai dari pukul 07.00 hingga 13.00. Murid juga bertambah banyak menjadi 539 siswa. Angka ini masih bisa bertambah sebab satu kelas masih kosong.
"Bayangkan ketika ini tidak direvitalisasi, maka akan banyak anak-anak yang tidak punya akses untuk sekolah. Itu paling dasar adalah sekolah, paling bawah ya sekolah dasar," ujar Farida.
Baca Juga :
Ungkapan Bahagia Anak Papua ke Mendikdasmen: Fasilitas Modern Beri Kami Harapan Masa Depan

Ruang kelas baru SD Inpres Naimata bantuan program revitalisasi pendidikan. Medcom.id/Renatha Swasty
Farida menekankan pentingnya anak sekolah bukan cuma untuk data angka partisipasi kasar (APK). Lebih dari itu, sekolah menjadi tempat anak-anak berkembang.
Namun, pengembangan itu juga perlu didukung sarana dan prasarana. Dia menekankan revitalisasi pendidikan tidak hanya bicara infrastruktur saja, tetapi juga kebermanfaatan untuk anak, guru, serta warga lingkungan sekitar.
"Ketika kita bicara masyarakat lokal, maka anaknya bisa sekolah dengan nyaman, orang tuanya sebagian juga bisa mendapatkan manfaat secara ekonomi, karena memang nanti yang mengerjakan juga adalah warga lingkungan sekitar, mengangkat UMKM lokal, karena untuk semua barang bangunan tidak didatangkan dari luar, tapi memanfaatkan, diprioritaskan adalah UMKM bangunan di sini," ujar dia.
Pada akhirnya, revitaliasi pendidikan tidak sekadar program pembangunan secara fisik, tapi bisa memberikan dampak terutama untuk anak-anak sekolah. "Dari kualitas pembelajarannya tentu juga akan kita harapkan juga lebih baik," ujar Farida.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernest S Ludji, mengatakan revitalisasi pendidikan tidak hanya menghasilkan anak-anak yang bersemangat sekolah. Lebih dari itu, mereka dapat memulai mimpi dari ruang-ruang kelas yang kecil.
Dia mengatakan sebelum terjun ke realitas kehidupan, anak-anak dapat bermimpi dari ruang kelas yang kecil.
"Oleh sebab itu, ruangan yang kecil itu jika diperhatikan setiap hari, maka anak menghasilkan anak-anak Indonesia yang hebat dan luar biasa," ujar dia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda