Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan program tersebut merupakan langkah afirmatif pemerintah untuk memperkuat genre film kepahlawanan dalam ekosistem perfilman nasional. Menurut dia, film dapat menjadi medium untuk menghadirkan kembali berbagai peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan cara yang lebih dekat dan menarik bagi masyarakat.
"Genre film kepahlawanan membutuhkan afirmasi agar semakin berkembang dalam ekosistem perfilman Indonesia," kata Fadli dalam keterangannya, dikutip Senin 7 September 2026.
Ia mengatakan film-film yang diproduksi melalui program tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat nilai kepahlawanan, patriotisme, nasionalisme, dan keteladanan. Karya tersebut juga diharapkan dapat mendekatkan generasi muda dengan sejarah Indonesia.
"Kita ingin film-film ini selain kuat secara artistik dan sinematik, tetapi juga berbasis riset dan akurat secara historis," ujarnya.
Adapun Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan 2026 dibuka pada 10 Juli hingga 10 Agustus 2026 lalu. Selama masa pendaftaran, Kementerian Kebudayaan menerima 143 proposal.
Sebanyak 54 proposal masuk kategori film panjang, sedangkan 89 proposal lainnya merupakan film pendek.
Seluruh proposal kemudian melewati sejumlah tahapan seleksi. Proses tersebut mencakup pemeriksaan administrasi, penilaian proposal dan naskah, presentasi atau pitching, hingga rapat pleno dewan juri.
Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari kekuatan gagasan, kualitas dan relevansi cerita, kesiapan produksi, pendekatan sinematik, hingga kesesuaian cerita dengan konteks perjuangan bangsa Indonesia pada 1945-1950.
Kementerian Kebudayaan juga melibatkan sineas dan sejarawan sebagai dewan juri. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memastikan karya yang terpilih memiliki kekuatan secara artistik sekaligus memiliki ketepatan dalam menggambarkan konteks sejarah.
Perwakilan dewan juri kategori film panjang, Tesadesrada Ryza, mengatakan seluruh proposal telah dibahas secara mendalam.
"Proposal-proposal yang kami terima menunjukkan keragaman sudut pandang dan pendekatan kreatif dalam memaknai perjuangan bangsa," ujar Tesadesrada.
Baca Juga :
Tak Sekadar Wilayah Jajahan, Buku Sejarah Indonesia Kupas Peran Nusantara dalam Jaringan Global
Ia mengatakan penentuan pemenang mempertimbangkan kekuatan cerita, pendekatan sinematik, kesiapan produksi, serta potensi gagasan untuk dikembangkan menjadi film yang utuh dan bertanggung jawab.
Daftar 20 Film Pemenang Narasi Kepahlawanan 2026
Berikut daftar pemenang Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan 2026:
Film Panjang
- Barisan Penghibur
- Hoegeng: Yang Ada Tinggal Nama
- Rengasdengklok
- Kapalselam Kalibayam
- Sakura di Telawang
- Rai
- Pintu Tertutup
Film Pendek
- Arang Kobar Juang
- Belantara Raya
- Buleun Purnama, di Nanggroe
- Darah Djoeang
- Desing Peluru Tak Bertuan
- Ibu Raih
- Jam 7 Pagi (Makassar, 1947)
- Menara Terakhir
- Operasi Malino: Lembar yang Hilang
- Seriboe Soedirman
- Suara Republik
- Timur 1950
- Yang Tenggelam Saat Fajar
Melalui program ini, Kementerian Kebudayaan berharap film kepahlawanan tidak hanya menjadi karya hiburan. Tetapi juga sarana memperkuat literasi sejarah dan mengenalkan nilai perjuangan kepada generasi muda.
Fadli menekankan pentingnya karya-karya tersebut tetap memiliki dasar riset dan akurasi sejarah. Sekaligus dikemas dengan pendekatan sinematik yang mampu menjangkau penonton masa kini.