Taklimat Media Peluncuran Buku Sejarah Indonesia di Jakarta. Foto: Kemenbud
Taklimat Media Peluncuran Buku Sejarah Indonesia di Jakarta. Foto: Kemenbud

Tak Sekadar Wilayah Jajahan, Buku Sejarah Indonesia Kupas Peran Nusantara dalam Jaringan Global

Citra Larasati • 02 September 2026 15:56
Ringkasnya gini..
  • Kementerian Kebudayaan menerbitkan lima jilid buku Sejarah Indonesia, yakni Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global
  • Buku ini memotret perjalanan bangsa sejak era praaksara, dominasi jaringan perdagangan maritim, hingga dinamika sosial-politik abad ke-19.
  • Perumusan narasi baru ini melibatkan 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi demi memastikan kajian berbasis metodologi multidisiplin dan objektif.
Jakarta: Penerbitan lima jilid buku Sejarah Indonesia, yakni Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global oleh Kementerian Kebudayaan menandai pergeseran besar dalam penulisan sejarah nasional. Pendekatan baru ini menempatkan Nusantara bukan sekadar sebagai wilayah jajahan, melainkan sebagai pemeran utama dalam jejaring peradaban dunia.

Peluncuran lima jilid awal ini memotret perjalanan bangsa sejak era praaksara, dominasi jaringan perdagangan maritim, hingga dinamika sosial-politik abad ke-19. Pendekatan Indonesia-sentris ini secara khusus mengikis sudut pandang kolonial yang selama ini cenderung menempatkan masyarakat lokal hanya sebagai objek atau korban pasif sejarah.

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, menegaskan, pemutakhiran buku sejarah ini dirancang untuk membuka cakrawala baru bagi publik dalam memahami peran geopolitik Nusantara pada masa lalu.

“Melalui lima jilid awal ini, kita ingin menunjukkan bahwa Nusantara sejak dahulu sudah menjadi pusat interaksi global. Kita bukan sekadar penonton atau wilayah yang pasif menerima kedatangan bangsa asing, melainkan aktor aktif yang memiliki daya tawar tinggi dalam perdagangan, diplomasi, dan pertukaran budaya dunia,” ujar Restu Gunawan dalam Taklimat Media Peluncuran Buku Sejarah Indonesia di Jakarta.

Ia menambahkan rekonstruksi narasi ini sangat penting untuk membangun rasa percaya diri bangsa di tengah dinamika global masa kini. Menurutnya sejarah tidak boleh hanya diwarisi sebagai narasi kekalahan atau penderitaan akibat penjajahan.

Narasi baru ini, lanjutnya, menghadirkan rekam jejak yang inklusif dalam memuat sejarah maritim, lingkungan, hingga kearifan lokal. “Hal ini bertujuan agar masyarakat menyadari besarnya kontribusi peradaban Nusantara terhadap sejarah dunia," urainya.

Proses perumusan narasi baru ini melibatkan 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi di seluruh Indonesia demi memastikan kajian berbasis metodologi multidisiplin dan objektif. Sebagai bentuk transparansi dan dukungan terhadap literasi sejarah secara luas, Kementerian Kebudayaan menyediakan seluruh naskah digital dari 5 jilid pertama ini secara gratis yang dapat diunduh publik melalui portal resmi pustakabudaya.id mulai hari ini.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan