Desainer sekaligus pendiri jenama Tulisan, Melissa Sunjaya. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Desainer sekaligus pendiri jenama Tulisan, Melissa Sunjaya. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Melissa Sunjaya Ubah Warisan Kolonial Jadi Senjata Dekolonisasi Pikiran Lewat Desain

Ilham Pratama Putra • 04 Agustus 2026 17:52
Ringkasnya gini..
  • Melissa ubah visual kolonial menjadi medium bercerita tentang Jawa.
  • Proyek 1830 mengangkat Babad Diponegoro ke audiens global.
  • Desain dipadukan dengan keberlanjutan dan pemberdayaan komunitas.
Jakarta: Desainer dan pendiri jenama Tulisan, Melissa Sunjaya, memilih cara yang tak lazim untuk menceritakan sejarah Indonesia kepada dunia. Melalui proyek 1830, ia mengubah citra visual kolonial yang selama ini identik dengan kejayaan Eropa menjadi medium untuk mengangkat kisah Jawa, khususnya tentang Pangeran Diponegoro.

Bagi Melissa, desain bukan sekadar persoalan estetika atau fesyen. Desain merupakan bahasa visual yang mampu mengajak masyarakat mempertanyakan kembali narasi sejarah yang selama berabad-abad dibangun dari sudut pandang kolonial.

"Manifestonya adalah dekolonisasi pikiran. Membebaskan cara berpikir kita supaya tidak hanya menerima begitu saja narasi yang sudah tersedia," ujar Melissa di Jakarta, Selasa 4 Agustus 2026.
 
Baca juga: 
 
 


Proyek 1830 berangkat dari litografi koleksi Rijksmuseum di Belanda yang selama era kolonial dipakai untuk membangun citra kejayaan pemerintahan kolonial. Melissa kemudian membongkar, menyusun ulang, dan merekontekstualisasi visual tersebut menjadi platform untuk menceritakan sejarah Jawa.

Menurut dia, pendekatan tersebut sengaja dipilih karena visual kolonial sudah lebih dahulu akrab di mata masyarakat Barat. "Kalau saya langsung memakai simbol-simbol etnis Jawa, mungkin mereka tidak punya titik masuk. Karena itu saya memakai bahasa visual yang mereka kenal, lalu mengubahnya menjadi ruang untuk menceritakan kisah kita," katanya.

Salah satu simbol yang ia gunakan adalah warna biru indigo. Selama ini biru identik dengan Delft Blue maupun warna seragam kolonial. 

Namun Melissa mengingatkan bahwa di balik kejayaan warna tersebut terdapat sejarah eksploitasi tanaman nila melalui sistem tanam paksa di Jawa dan Afrika. "Di balik warna biru yang memikat dunia, ada darah," ujarnya.
 

Mengangkat Babad Diponegoro ke audiens global


Proyek 1830 berpusat pada Babad Diponegoro yang telah masuk daftar UNESCO Memory of the World. Melissa mengaku awalnya tidak memiliki latar belakang sebagai sejarawan sehingga harus mempelajari sejarah Jawa selama bertahun-tahun.

Ia kemudian menggandeng sejarawan Peter Carey dan filolog George Quinn untuk menerjemahkan naskah tersebut ke dalam bahasa Inggris. Sekaligus menghadirkannya dalam bahasa visual yang mudah dipahami masyarakat internasional. 

Melissa menilai dunia selama ini hanya mengenal Diponegoro sebagai pemimpin Perang Jawa. Padahal, tokoh tersebut memiliki sisi lain sebagai penulis, pendalang, pribadi humoris, serta pemikir yang terbuka terhadap gagasan-gagasan baru.

"Orang Indonesia sendiri banyak yang hanya tahu Diponegoro sebagai pemimpin perang. Padahal karakternya jauh lebih kompleks dan sangat relevan dengan kehidupan sekarang," katanya.

Ia berharap pendekatan visual dapat membuat sejarah menjadi lebih mudah diakses. Terutama bagi generasi muda maupun audiens global yang belum mengenal sejarah Indonesia.

Melissa menyebut seluruh koleksi 1830 dirancang sebagai wearable art yang dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Tas, syal, maupun wastra dibuat multifungsi sehingga dapat berubah bentuk menjadi tote bag maupun aksesori perjalanan. 

Setiap produk juga dilengkapi kode QR yang mengarahkan pengguna ke laman digital berisi pengembangan riset dan cerita di balik koleksi tersebut. Menurut Melissa, fungsi terpenting produk tersebut justru bukan pada bendanya, melainkan percakapan yang muncul ketika seseorang mengenakannya.
 
Baca juga: MPLS Ramah 2026 Bikin Murid Enggak Takut Masuk Sekolah Sejak Hari Pertama  


Ia mencontohkan ilustrasi Diponegoro dengan sorban dan motif bergaya Delft Blue sering membuat orang asing bertanya mengenai identitas tokoh tersebut. "Itulah yang saya inginkan. Sebuah kesempatan untuk menceritakan dunia saya kepada audiens global," ujarnya.

Selain membawa pesan sejarah, Melissa memastikan seluruh proses produksi dijalankan dengan prinsip keberlanjutan. Material yang digunakan berasal dari bahan ramah lingkungan, termasuk lapisan dalam tas yang dibuat dari plastik PET pascakonsumsi yang didaur ulang. 

"Pola produksi juga dirancang untuk meminimalkan limbah kain melalui konsep zero waste pattern," tegasnya.

Bahkan sejumlah komponen seperti tali tas dikembangkan secara khusus bersama mitra produksi sehingga tidak tersedia di pasaran. Bagi Melissa, keberlanjutan bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bagian dari tanggung jawab moral seorang desainer.

Melissa juga mengembangkan model bisnis yang menggabungkan praktik kreatif dengan pemberdayaan sosial. Sekitar 20 persen nilai penjualan produk dialokasikan untuk mendukung riset, penerjemahan Babad Diponegoro, hingga berbagai program pemberdayaan komunitas.

Salah satunya melalui produksi boneka Pepe yang dibuat anak-anak yatim di bawah naungan Kampus Diakonia Modern. Seluruh keuntungan bersih penjualan dikembalikan kepada para pembuatnya.

Program lain yang digarapnya adalah adalah Tulisan Artist in Residency yang melibatkan seniman penyandang disabilitas. Melissa menegaskan pendekatan tersebut bukan kegiatan amal, melainkan memberikan kesempatan berkarya secara profesional.

"Kami tidak ingin memperlakukan mereka sebagai objek charity. Mereka bekerja sebagai profesional, mendapat penghasilan, bahkan membayar pajak seperti pekerja lainnya," katanya.

Melissa mengaku sejak mendirikan Tulisan pada 2010 dengan modal sekitar Rp5 juta, ia kerap menghadapi pertanyaan mengapa produk asal Indonesia dijual dengan harga tinggi. Menurutnya, cara pandang tersebut menunjukkan masih adanya kecenderungan meremehkan kualitas karya kreatif dalam negeri.

Ia menilai masyarakat tidak pernah mempertanyakan harga produk dari Eropa. Tetapi sering mempertanyakan nilai karya yang dibuat di Indonesia.

Karena itu, ia berharap masyarakat mulai membangun kebanggaan terhadap identitas kreatif Indonesia. Sebagaimana negara-negara lain yang berani menonjolkan asal-usul desain mereka.

"Kalau negara lain bangga menulis 'Designed in Tokyo', kenapa kita tidak bisa membangun kebanggaan yang sama terhadap karya yang lahir dari Indonesia?" ujar Melissa.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan